Menyoal Pendidikan Generasi Milenial

Ilustrasi pendidikan milenial. LIFEWIRE

Kita sedang hidup di era milenial, kelanjutan era global. Tantangan-tantangan baru yang muncul harus diubah menjadi peluang dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga membawa kebaikan.

Menurut Abuddin Nata (2019) dalam karyanya berjudul Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia[1] selain memiliki persamaan, era milenial juga memiliki perbedaan, terutama dalam penggunaan digital technology yang melampaui era komputer. Keadaan ini telah mengundang sejumlah pakar untuk angkat bicara, sekaligus menawarkan sejumlah pemikiran dan gagasan dalam menghadapinya.

Pendidikan dengan beragam jenis program dan jenjangnya, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, secara kelembagaan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Dengan begitu, pendidikan, mau tidak mau, harus turut berkontribusi, bahkan bertanggung jawab dalam menyiapkan sumber daya manusia (baca: generasi milenial). Sumber daya manusia yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang, serta dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup secara material dan spiritual.

Generasi milenial adalah generasi yang terlahir sekitar tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an sebagai akhir kelahiran. Pada 2020, generasi milenial memasuki usia paling produktif, yakni antara 16-38 tahun.

Generasi milenial memiliki ciri-ciri mampu menciptakan perubahan. Setidaknya, ada tiga ciri pada generai milenial. Pertama, dari kompetisi menuju kolaborasi. Pada zaman old, untuk bisa survive dan exist, seseorang harus memiliki keunggulan kompetitif. Namun, pada zaman now, untuk bisa berkiprah dan exist diperlukan keunggulan kolaboratif, yaitu kemampuan berelasi dan berkolaborasi.

Kedua, dari relasi kuasa menuju ruang berbagi. Generasi ini sangat suka berbagi dan menjadi relawan. Kedua sifat tersebut menjadi kekhasan generasi milenial.

Ketiga, dari panggung tertutup menuju panggung terbuka. Dulu, untuk dapat memiliki panggung terbuka di tengah masyarakat, seseorang harus berhadapan dengan aturan yang ketat. Namun, saat ini, media sosial mampu menjadikan seseorang memiliki panggung, yaitu dengan menjadi selebgram, youtuber, dan lainnya.

Dengan ketiga ciri itu, generasi milenial diharapkan berkemampuan menyikapi atmosfer perkembangan teknologi dengan membuat terobosan dan gagasan transformatif yang edukatif, sehingga mampu menciptakan peradaban bagi negara dan masyarakatnya yang maju dan berkemajuan.

Namun, akhir-akhir ini, sering terdengar penilaian minus menyoal generasi milenial. Pertama, dari segi literasi ilmu pengetahuan sebagian kalangan menilai, generasi milenial adalah generasi yang sangat kurang melakukan pendalaman ilmu pengetahuan.

Semua dilakukan serba-instan tanpa merujuk pada sumber ilmu pengetahuan secara mendasar. Searching dan googling menjadi ‘mazhab belajar’ karena memang dirasa lebih cepat dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban atas persoalan yang dihadapi dalam belajar.

Hal ini dipandang menjadi candu yang kurang baik, karena akan berakibat pada kurangnya minat baca terhadap buku-buku dasar yang harus dipahami detaill dalam menjelaskan suatu persoalan, yang akan bermuara pada tumpulnya daya kritis akal generasi milenial.

Kedua, dari segi sosial-kemasyarakatan. Karena sebagian besar generasi milenial lebih aktif di dunia digital, kebanyakan mereka cenderung acuh tak acuh dengan lingkungan sosial-kemasyarakatannya.

Sebagian generasi milenial lebih disibukkan oleh gadget yang terkoneksi di rumah, dibandingkan harus berinteraksi dengan lingkungan yang ada.

Pendidikan Milenial

Pendidikan menjadi sangat penting bagi kelangsungan generasi milenial yang kini mulai dianggap ‘kurang baik’ keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan dan kemampuan diri untuk menjadi manusia yang cerdas, berakhlak, dan beradab.

Menyoal pendidikan generasi milenial, lagi-lagi orang tua memiliki peranan krusial dalam membimbing anak-anaknya. Sebab, orang tua yang lebih dekat dengan mereka; satu rumah dengan mereka dan setiap saat berinteraksi dengan mereka. Jika orang tua salah dalam mendidik mereka maka secara tidak langsung orang tua telah membiarkan generasi milenial hancur masa depannya.

Lalu bagaimana cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya yang terlahir di era milenial? Setidaknya, orang tua memperhatikan faktor-faktor berikut.

Pertama, manajemen waktu. Orang tua yang baik harus bisa mengelola dan memanfaatkan waktu yang baik bagi keluarga, apalagi terhadap anak-anaknya.

Orang tua sebaiknya bisa mengontrol dan membatasi anak-anaknya dalam bermain gadget dan media sosial yang terlalu berlebihan, dengan memperhatikan kondisi psikologis anak sebagai generasi milenial. Orang tua harus meluangkan waktu bagi anak-anak dengan memberikan teladan yang baik terhadap mereka dalam penggunaan waktu.

Kedua, pendidikan karakter. Pendidikan karakter pada anak merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritual, dan kepribadian.

Orang tua harus mampu menumbuhkan cara berpikir dan berperilaku pada diri anak yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Demikian halnya dengan sekolah sebagai institusi pendidikan yang mewadahi anak didik harus siap menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan di era milenial, sekaligus dapat mengatasi berbagai problem kehidupan yang timbul.

Mengingat generasi milenial lebih mudah beradaptasi dengan teknologi, lembaga pendidikan harus lebih memanfaatkan teknologi dalam menunjang proses pembelajaran. Perlunya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran agar dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Semoga.

[1] Abuddin Nata. 2019. Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group.

Add Comment