Menangguk Spiritualitas dari Bonsai Kelapa

Bonsai kelapa dapat dijadikan hiasan menarik di meja kerja Anda. M. SYAID AKBAR

Pada dasarnya, saya tidak begitu menyukai aktivitas menanam. Namun, berbeda dengan yang satu ini. Bonsai. Ya, bonsai memang berbeda. Ada uniknya, ada seninya, ada nilai ekonominya. Jadi, di dalam satu produk bonsai, minimal ada dua aspek yang didapat, ialah aspek material dan spiritual.

Aspek material tentu saja semua hal yang berkaitan dengan aspek materi, baik itu fisik juga duniawi. Begitu, kira-kira. Lihat saja, bonsai bisa dijual dengan harga yang sulit ditaksir. Karena hal ini berkaitan dengan passion, hasrat, dan hobi. Harga bonsai bisa jadi sangat tinggi. Nilai nominalnya agak susah ditakar, tergantung tuannya mau melepas di harga berapa.

Sementara aspek spiritual berkaitan dengan hal-hal yang bersifat non-materi. Jadi ini soal ruhani. Untuk memproses satu pohon bonsai dari nol sampai bisa dikatakan layak, memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bisa jadi dalam hitungan bulan, bahkan tahun, si bonsai baru bisa dinikmati sesuai keinginan. Itu pun dengan catatan, tidak ada kecelakaan, seperti patah tunas, terkena serangan hama, atau masalah lain.

Artinya, nilai kepuasan yang bisa didapat dari satu produk bonsai, memerlukan waktu, kesabaran, dan kreativitas. Hal ini yang menjadikannya tak ternilai.

Komersialisasi terhadap bonsai bisa saja dilakukan. Syaratnya, pembuat bonsai tidak mengikatkan diri pada hasil karyanya tersebut. Fanatisme atas karya hanya akan menjadikannya menjadi sebuah karya yang tidak komersial. Terlalu cinta atas karya menjadikan karyanya itu tak ternilai. Hobi itu mahal, begitu kata orang.

Dari sekian banyak jenis tanaman, kenapa kelapa yang menjadi pilihan penulis? Setidaknya, dalam asumsi penulis, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, bibit kelapa yang mudah didapat. Seperti diketahui, tanaman kelapa adalah salah satu jenis tanaman yang masih banyak dijumpai, sehingga tidak memerlukan modal dan energi yang besar utuk bisa mendapatkan bibitnya.

Kedua, jenis kelapa sendiri ada banyak macamnya. Ada kelapa hijau, gading kuning, dan lainnya. Hal ini memungkinkan variasi bentuk atas bonsai tersebut.

Ketiga, dalam melakukan perawatan bonsai kelapa, tidak begitu menyulitkan. Bahkan saya katakan, mudah serta tidak perlu memakan banyak waktu untuk merawatnya, dan hampir tidak ada pemupukan khusus.

Hal-hal itu menjadikan saya jatuh hati pada bonsai kelapa. Dengan hal-hal yang tidak begitu menyulitkan, namun bisa dikreasikan dengan berbagai macam bentuk dan model. Saya kira Anda bisa mencobanya.

Spiritualitas dan Pertanian

Dalam sekup yang lebih besar, aktivitas berbonsai ria sebenarnya dapat merepresentasi aspek spiritual dalam pertanian. Ada buku bagus berjudul Teknologi Hijau dalam Pertanian Organik Menuju Pertanian Berkanjut karta Lily Agustina 2011. Beberapa hal penting saya kutip di sini.

Menurut Lily, apabila akan melakukan kegiatan Sistem Pertanian Terpadu yang akan menjadi landasan sistem pertanian berlanjut maka manusia haruslah memiliki keterpaduan di dalam dirinya. Maksud keterpaduan adalah antara aspek spiritual dan material. Dalam aspek spiritual, diajarkan bagaimana etika menjaga keterpaduan di alam agar daya manfaat alam berkelanjutan.

Manusia harus bersahabat dengan seluruh makhluk dalam kehidupan ini dan percaya bahwa seluruhnya di alam ini adalah satu kesatuan. Alam adalah sistem ideal yang terdiri dari keseluruhan yang sempurna. Oleh karena itu, manusia perlu belajar dari alam bagaimana meniru proses yang terjadi di alam.

Manusia terpadu inilah yang diharapkan menghasilkan suatu pemikiran dan teknologi yang tepat guna, bijak, terpadu, sehingga tidak menimbulkan kerusakan di alam semesta.

Mari belajar lebih baik dari hobi merawat bonsai kelapa. Salam hormat saya untuk para petani Indonesia.

One thought on “Menangguk Spiritualitas dari Bonsai Kelapa

Add Comment