Membumikan Pancasila di Hari Lahirnya

Ilustrasi kebhinnekaan yang dijamin Pancasila. PENGADILAN AGAMA SURAKARTA

Momentum hari lahir Pancasila selayaknya kita jadikan sarana evaluasi diri untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila dari sudut pandang historis dirumuskan sebagai dasar negara Indonesia. Dalam perumusannya, Pancasila digali dari nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai Pancasila telah disahkan sebagai dasar negara maka kewajiban bagi seluruh rakyat serta bangsa Indonesia untuk memahami, mengamalkan, dan melestarikan nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diakui sebagai pandangan hidup atau filsafat hidup yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Nilai Pancasila merupakan nilai dasar dan puncak budaya bangsa sebagai hasil perenungan atau pemikiran yang sangat mendalam dari para pendiri bangsa, sehingga nilai tersebut diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.

Nilai Pancasila menjadi sangat fundamental dalam memberikan watak, kepribadian, dan identitas bangsa. Jadi, kewajiban kita mengkonkretkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia melalui pengamalan yang nyata.

Realitas di masyarakat menunjukkan, nilai-nilai Pancasila mulai memudar. Indikatornya dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa yang melanggar nilai-nilai Pancasila, seperti pembunuhan, perampokan, tawuran antar-pelajar, pemerkosaan, korupsi, serta tindak kriminal lain yang terjadi di Indonesia.

Pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila banyak dilakukan oleh generasi muda Indonesia. Idealnya, generasi muda Indonesia adalah calon penerus bangsa, tetapi mereka malah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Keadaan ini jika dibiarkan akan mengakibatkan degradasi pada fungsi kelanjutan hidup bangsa yang seharusnya menjadi tanggung jawab generasi muda sebagai penerus hidup bangsa.

Memudarnya nilai-nilai Pancasila disinyalir karena pengaruh globalisasi. Akses yang mudah dan cepat terhadap penerimaan informasi dari berbagai belahan dunia tanpa filter mengakibatkan terkontaminasinya generasi muda akan budaya negatif yang merugikan.

Budaya negatif itu antara lain tata cara berpakaian, norma kesopanan, adat istiadat, dan life style yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Generasi muda memiliki kecenderungan mengadopsi secara mentah-mentah tanpa menyaringnya, karena mengganggap budaya asing sebagai panutan yang dianggap keren. Hal ini mengakibatkan banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila.

Apabila terus berlanjut, generasi muda dapat mengalami degradasi moral. Akibat yang terjadi adalah estafet keberlanjutan hidup bangsa yang menjadi tanggung jawab generasi muda menjadi terganggu. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan strategi untuk mencegah lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda. Strategi yang harus dimulai dari diri sendiri.

Kita harus mampu berpegang teguh kepada nilai-nilai Pancasila yang sudah menjadi jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila bisa menjadi filter atau penyaring terhadap budaya asing yang bersifat negatif dari luar. Hal-hal yang tidak sesuai dengan norma adat budaya bangsa Indonesia dapat kita hindari, sehingga kita tidak akan terpengaruh efek negatif dari budaya asing tesebut.

Strategi lanjutan untuk mencegah pudarnya nilai-nilai Pancasila, setelah kita memperbaiki diri sendiri, adalah membantu orang lain atau generasi muda. Nilai-nilai Pancasila harus diwariskan kepada generasi muda bangsa Indonesia. Tanpa usaha mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda maka bangsa Indonesia akan kehilangan hasil budaya yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki kepedulian kepada pewarisan budaya luhur bangsanya, sehingga perlu ada upaya pewarisan budaya nilai-nilai Pancasila. Pewarisan dalam arti penerusan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, dari generasi ke generasi harus dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab, demi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia harus dijaga, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi muda.

Bentuk pewarisan kepada generasi muda dapat dilakukan dengan melakukan internalisasi nilai-nilai Pancasila. Internalisasi adalah proses menanamkan prinsip atau keyakinan ke dalam pemikiran yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang dilaksanakan secara berkesinambungan dengan menggunakan pola tertentu.

Internalisasi adalah upaya yang harus dilakukan secara berangsur-angsur, berjenjang, dan istiqomah. Penanaman, pengarahan, pengajaran, dan pembimbingan, dilakukan secara terencana, sistematis, dan terstruktur dengan menggunakan pola dan sistem tertentu. Pola pewarisan ini bisa dilakukan dari generasi tua yang sudah memiliki pengalaman terhadap generasi muda sebagai penyambung estafet keberlangsungan hidupnya.

Tahapan Internalisasi Nilai-nilai Pancasila

Internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, tahap transformasi nilai. Tahap ini dilaksanakan oleh generasi tua kepada generasi muda dalam menginformasikan nilai nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap tersebut terjadi komunikasi verbal antara generasi tua kepada generasi muda.

Cara yang dapat dilakukan pada tahap transformasi nilai adalah generasi tua mentransfer atau menyampaikan ilmu kepada generasi muda tentang nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari antara lain tentang nasionalisme atau cinta Tanah Air, toleransi keberagaman, dan rela berkorban.

Kedua, tahap transaksi nilai. Tahap transaksi nilai dilaksanakan dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara generasi tua dengan generasi muda yang bersifat interaksi timbal-balik. Tahap ini dapat dilakukan dengan jalan tanya jawab tentang nilai-nilai yang ada pada Pancasila, mendiskusikan pengalaman tentang aplikasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang sudah dimiliki generasi tua.

Tahap transaksi nilai menunjukkan adanya perpindahan nilai dari generasi tua kepada generasi muda untuk selanjutnya dipahami oleh generasi muda dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ketiga, tahap transinternalisasi nilai. Tahap transinternalisasi nilai jauh lebih mendalami dari tahap transaksi nilai. Tahap ini tidak hanya dilakukan dengan komunikasi verbal, tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap transinternalisasi nilai, komunikasi yang berperan secara aktif.

Generasi tua bisa memberikan motivasi kepada generasi muda untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Generasi tua bisa memberikan contoh keteladanan sikap yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila; berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan menekankan kepada generasi muda untuk mengamalkan nilai-nilai yang sudah didapatkan saat pewarisan nilai.

Pewarisan budaya luhur bangsa merupakan tahap yang menentukan sukses tidaknya sebuah generasi. Ketika generasi tua mampu mengoptimalkan pewarisan budaya kepada generasi selanjutnya, niscaya estafet keberlangsungan kehidupan bangsa akan berjalan sesuai koridor yang ditetapkan.

Pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi tanggung jawab generasi tua. Bentuk keteladanan dan motivasi kepada generasi muda akan mampu mengoptimalkan kemampuan generasi muda untuk menjaga, melestarikan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ketika generasi muda mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen, niscaya kelak mampu menerima estafet kepemimpinan untuk menjalankan peran di masa yang akan datang dan membawa Indonesia kepada kehidupan yang lebih baik.

Oleh karena itu, mari momentum hari lahir Pancasila kita jadikan sebagai ajang musahabah diri untuk kembali membumikan nilai-nilai Pancasila serta menjalankannya secara murni dan konsekuen.

Add Comment