Keguyuban yang Faedah

Karang Taruna Setya Muda Banjarejo melakukan penyemprotan disinfektan. PUJIYANTO

Adalah Banjarejo, salah satu dukuh di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Desa yang asri. Layaknya jargon Kabupaten Sragen dengan Sragen ASRI-nya, wilayah kecil dengan jumlah penduduk kurang lebih 60 Kepala Keluarga (KK) dengan pemikiran yang beragam.

Pemikirian beragam lantaran sebagian penduduknya ketika muda lebih memilih merantau ke daerah lain daripada tinggal di desa. Mencari ilmu atau mencari pengalaman, begitulah kira-kira motifnya. Meskipun ada pula yang memang bermotif ekonomi.

Sektor pertanian sebagai penggerak perekonomian, menjadi yang utama di Banjarejo. Hasil bumi seperti padi, kacang tanah, jagung, dan singkong masih sering dijumpai di areal persawahan sekitaran desa.

Kini, ketika industrialisasi mulai berkembang masif di Kabupaten Sragen, dengan lahirnya berbagai macam industri, seperti mebel, garmen, rokok, hingga jas hujan, Banjarejo memiliki pabrik penggilingan padi yang tentu, dapat menampung angkatan kerja, selain sektor pertanian.

Ragam pemikiran yang berbeda tidak menjadikan warganya berpecah belah. Setiap ada hal atau pun perbedaan pendapat senantiasa diselesaikan dengan musyawarah. Keguyuban dan kerukunan warga menjadi hal penting yang terus dilestarikan. Setiap kali ada kegiatan atau berhadapan dengan permasalahan, kekompakan dan kegotongroyongan warga terlihat jelas.

Semasa pandemi Covid-19, misalnya. Para pemuda, terlembaga dalam Karang Taruna Group Setya Muda, bergerak aktif melakukan sosialisasi dan penyemprotan disinfektan. Warga bersepakat, dalam situasi pandemi, haruslah tetap solid, apalagi belum ada tahu, sampai kapan wabah akan berakhir. Optimisme terus ditanamkan bahwa setiap segala sesuatu akan ada akhirnya.

Soliditas adalah kunci. Gotong royong adalah kunci. Pranata yang bisa jadi dimiliki oleh hampir seluruh warga pedesaan. Ikatan emosional antar-warga yang terasa istimewa. Di desa, saya hadir terlahir. Di desa saya dibentuk. Di desa saya dibekali banyak hal. Desa, penjaga nurani saya. Barangkali pun dengan Anda.

Kata ‘gotong royong’ memiliki ciri kerakyatan, sama dengan penggunaan kata-kata demokrasi, persatuan, keterbukaan, kebersamaan, atau kata ‘kerakyatan’ itu sendiri. Pendapat ini disampaikan Sri Widayati dalam buku karyanya berjudul Gotong Royong (2020). Buku sederhana tapi sarat makna tersebut meyakinkan saya bahwa gotong royong telah menyatukan rakyat dari berbagai kelas dan kelompok menjadi satu kesatuan sosial dan komunitas yang dinamis.

Sri menjelaskan, penduduk desa kental rasa kekeluargaan dan rasa persaudaraannya. Warga desa guyub rukun, masih dan terus melaksanakan dan menjalankan budaya serta cara kerja yang sudah sekian ratus tahun itu, terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup mereka. Warga desa bahu-membahu saling membantu dengan semangat dan tanpa pamrih.

Modal Sosial dan Kesejahteraan Desa

Kegotongroyongan dapat disebut sebagai modal sosial penting milik desa dan dapat berdampak pada kesejahteraan desa. Keguyuban merupakan harta karun tak berbilang mahalnya, buah kearifan lokal yang pada waktunya dapat diubah menjadi energi kreatif membangun desa.

Modal sosial dapat menjadi pilar kelangsungan usaha. Modal sosial berupa resiprositas, kepercayaan, jaringan, dan norma ditempatkan sebagai desain modal sosial yang berdaya guna bagi pengembangan perekonomian desa. Meski pada kadarnya, modal sosial seperti gotong royong tidak hanya berhenti pada tradisinya, tapi juga implementasi dinamisnya di tengah kompetisi bisnis seperti sekarang yang semakin kompleks.

Modal sosial pula yang diharapkan menjadi penangkal guncangan, baik ekonomi maupun sektor lain. Beradaptasi pada masalah global seperti pandemi Covid-19 tidaklah mudah. Modal sosial dapat diandalkan untuk setidaknya membuat warga desa, beradaptasi. Bahwa dengan bergotong royong, semua masalah dapat terselesaikan.

Perihal desa yang tentu saja, dapat terjadi di perkotaan. Terima kasih, Banjarejo. Sebuah keguyuban yang faedah dan semoga terus begitu.