Jangan Anggap Ringan Dosa dan Amalan Kecil

(Foto: Pinterest.com)

Dosa bisa menjadi kendala dalam hidup kita. Dalam ilmu tasawuf, seseorang tidak bisa naik derajatnya karena dosanya. Amal baik sifatnya mengangkat, dosa menurunkan. Jika ada orang yang bertaubat, lalu mengulang lagi, taubat lagi, mengulang lagi, itu seperti naik turun tangga. Naik turun, naik turun.

Saat taubat dia dipanggil Allah berarti dia husnul khotimah. Saat kumat dipanggil Allah berarti su’ul khotimah. Perkara ini yang dipegang para ulama. Amal baik yang diusahakan adalah istiqomah. Walaupun hanya sedikit. Istiqomah artinya ajeg. Tidak obor blarak.

Jangan sampai bangun untuk Sholat Tahajud jam 2 pagi. Setelah itu tidak tidur lagi sampai Shubuh. Namun hanya sekali itu saja dalam sebulan. Atau setelah Sholat Tahajud tidur lagi dan Sholat Shubuhnya kesiangan. Seperti ini kurang baik.

Mending bangun beberapa menit jelang Shubuh, misal 30 menit lalu Sholat Tahajud dilanjut Sholat Shubuh. Yang seperti ini tapi bisa ajeg, lebih baik.

Jika harus memilih, lebih baik kepegang Sholat Shubuhnya dulu. Jika dilakukan berjama’ah maka sudah dihitung sholat semalam terus menerus. Sholat Shubuh berjamaah selama 40 hari akan menghilangkan sifat munafik.

Sering kita berfikir bahwa dosa ada yang besar, ada yang kecil. Tapi bagi para ahli ilmu tasawuf, dosa jangan dipikir besar kecilnya.Tapi harus dipikir kita sudah berbuat tidak baik ke Allah. Yang Maha Segalanya. Kita tidak tahu, kadang dosa yang kita anggap kecil, justru di situ yang menjadikan murkanya Allah. Maka jangan sekali-kali menganggap melakukan dosa kecil itu tidak apa-apa. Ini namanya menyepelekan.

Kadang bagi kita suatu dosa bagi kita sepele, tapi bagi orang lain bukan sepele lagi. Misalnya kita menemukan kunci di jalan, lalu kita buang. Padahal saat itu kita tahu siapa pemilik kunci tersebut. Bagi orang yang kehilangan kunci itu bukan hal yang sepele. Kita menemukan dompet yang di dalamnya banyak surat pentingnya. Bagi kita tidak ada gunanya. Yang kehilangan bisa sangat kerepotan.

Kita melihat kecoak yang terbalik dan kesusahan untuk berdiri, lalu kita injak. Kalau segera mati bisa jadi tidak begitu menyiksanya. Tapi si kecoak ini pasti merasakan kesakitan yang hebat. Bagi hewan yang punya nyawa seperti ini, jika kita menyakitinya, dia juga merasakan sakit. Hati-hati terhadap hal seperti ini.

Hewan yang tidak mengganggu kita jangan sampai kita bunuh. Jangan disakiti. Jika kita tidak bisa memberinya makan, atau tidak bisa menolongnya. Paling tidak jangan menyakiti. Saat ada kecoak terbalik tadi, lebih baik kita menolongnya. Seperti ini sepele, tapi siapa tahu itu justru yang mengundang ridlanya Allah.

Jika kita mengandalkan amal kebaikan yang kita lakukan sendiri akan berat. Sholat kita masih belum khusyu,’ dzikir kita masih sedikit, kita masih terlalu banyak mengeluh, masih malas melakukan yang diperintah Allah. Dan seterusnya.

Ibadah kita belum banyak. Istighfar kita masih ala kadarnya, belum serius. Hari ini istighar, besok mengulangi kesalahan lagi. Menurut Imam al Ghazali, justru amal-amal yang kita anggap kecil tadi yang berpotensi mengundang ridhlanya Allah. Dalam beberapa buku juga disebutkan bahwa Sidharta Gautama mengajarkan kepada murid-muridnya agar menolong jika ada cacing kepanasan.

Coba kita bandingkan dengan orang jaman sekarang. Bagi yang suka memancing ikan dan umpannya adalah cacing. Cacing yang masih hidup dipotong-potong. Kira-kira sakitkah dia? Kalau tingkat kasih sayang kita sudah tinggi maka kita bisa merasakan sakit saat cacing tersebut ditusuk-tusuk. Jangan sampai kita menganggap enteng hal yang kita pikir sepele ini. Dikhawatirkan kita bakal dihitung sebagai orang yang tidak mempunyai sifat kasih sayang.

Orang yang sudah kelasnya wali Allah, jika melihat burung makan padi di sawahnya, maka dia biarkan saja. Pertama, itu sebagai bentuk kasih sayang ke burung tersebut. Kedua, jangan sampai burung tersebut malah makan di sawah tetangganya. Dengan sikap seperti itu, bisa jadi hasil panennya tidak bagus. Tetapi Allah pasti memberi rejeki dari jalan lainnya.

Kalau kelas kita masih jauh. Burung tersebut pasti kita halau. Tidak peduli jika akhirnya makan di sawah tetangga kita. Kalau kita masih memegang erat prinsip ini, maka perjalanan kita untuk menjadi wali Allah, masih teramat jauh.

Ilmu tasawuf arahnya lebih ke penghayatan sampai ke praktik. Yang semuanya dijalankan tanpa dibuat-buat. Namun dengan kebersihan hati. Karena kesadaran dari jiwanya sendiri. Apa yang kita lakukan adalah persembahan terbaik dalam hidup kita yang kebaikannya akan kembali ke kita sendiri.

Bagaimana jika tangan kita digigit nyamuk? Paling tidak tetap kita matikan nyamuk tersebut, namun tidak sampai dengan geregetan sambil ngomel. Seperti ini juga berpotensi bermasalah karena nyamuk juga makhluknya Allah.

Pointnya, jangan sampai kita menyepelekan dosa walaupun kecil, jangan menyepelekan kebaikan walaupun itu juga kecil. Siapa tahu kebaikan kecil itu justru menjadikan ridlanya Allah. Dan kita tidak tahu kadang dosa yang kecil mengundang murkanya Allah.

Dosa kecil jika dibiasakan terus diulang-ulang bisa menjadi dosa besar. Namun, jika kita sering membaca istighfar maka bisa menghapus dosa kecil.

Terkait dengan dosa, jangan sampai kita termasuk isror. Artinya melakukan dosa, baik kecil maupun besar secara terus menerus. Dosa kecil yang dirutinkan bisa membahayakan. Bisa jadi sebab pelakunya akan sulit mencapai husnul khotimah.

Menurut hukum fiqih yang asli, melihat perempuan yang bukan mahram yang tidak menutup auratnya itu termasuk dosa mata. Besar kecilnya dosa tergantung dampak dari melihatnya. Kata Nabi, terkait dosa kecil dari mata maka kita harus bisa menjaga pandangan. Pada pandangan pertama yang tidak disengaja itu temasuk rejeki, kedua sudah berdosa. Ketiga juga berdosa.

Lha yang repot adalah yang terkait dengan orang lain. Bagaimana kita harus menjaga diri karena mereka yang memakai pakaian yang tidak menutup aurat itu dia tidak merasa bersalah. Kalau itu dihitung sebagai dosa kecil ketika wudlu insya Allah sudah hilang. Ketika membaca istighar sudah hilang. Tapi jika dari pandagan ini bisa mengantarkan kita berbuat dosa yang lebih besar. Ini yang harus hati-hati. Digambarkan Nabi, mata kita adalah anah panahnya setan. Di ilmu tasawuf diganbarkan di mana wanita yang kita lihat, di situ setan menempel.

Bagaimana dengan tontonan musik? Terkait dengan penyanyinya sebenarnya tidak terhitung begitu berat. Yang menjadi lebih berat adalah cara berpakaiannya. Yang jadi masalah di sisi lainnya kalau pakaiannya sopan maka tidak laku. Yang laris malah yang terbuka. Bagi penonton, kalau tidak ada perasaan macam-macam, dosa yang ditimbulkan darinya bisa jadi dengan wudlu sudah hilang. Namun jika kita termasuk orang yang mudah mempunyai perasaan macam-macam, lebih baik dijaga pandangannya.

Jika sudah ada perasaan macam-macam, saat itu kita harus ada rasa penyesalan kalau kita sudah melakukan dosa. “Ya Allah, kalau melihat seperti ini aku merasa senang, aku berdosa ya Allah. Semoga Engkau berkenan mengampuninya”.

Yang penting jangan jadi keterusan. Jangan sampai dengan melihat itu nanti kita akan kehilangan kenikmatan beribadah. Kenikmatan beribadah seseorang akan dicabut oleh Allah ketika dia sudah merasakan nikmatnya suatu dosa.

Intinya, yang pertama jangan dibiasakan melakukan dosa walaupun kecil. Kedua, ketika melakukan dosa segera membaca istighfar, bertaubat. Ketiga, jangan menyepelakan amal walaupun kecil, siapa tahu amal kecil tersebut yang mengundang ridhanya Allah. Yang akan jadi bekal kita ketika menghadapNya.

Dosa kecil atau besar akan menyengsarakan kita. Di dunia dan akhirat. Maka Allah dengan Rahman Rahimnya menunggu kita. Siapa saja yang melakukan dosa dan dia mau mengakuinya, mau menperbaikinya, maka dosanya akan dihapus Allah.