Haji dan Kurban

(Foto: Pinterest.com)

Di bulan Dzulhijjah, setidaknya terdapat 2 peristiwa besar. Haji dan kurban. Haji hukumnya wajib, bagi yang mampu. Kita secara materi mungkin belum mampu. Akan tetapi ada yang perlu kita lakukan dan itu hukumnya wajib yakni berniat. Niat untuk berhaji hukumnya wajib. Karena semua orang mampu untuk berniat. Niat tidak butuh biaya. Juga tidak butuh tenaga yang berat.

Seperti apa niat berhaji? ‘Nawaitul hajja wal ‘umrota lillaahi ta’ala’. Ketika sudah berniat, tinggal berangkatnya saja. Entah kapan, kita serahkan ke Allah. Ketika kita sudah berniat, kita sudah melakukan sebuah kewajiban. Tugas selanjutnya adalah menyempurnakan ikhtiar.

Jika saat ini kita punya uang 200 juta, insya Allah tahun depan bisa langsung berangkat. Jika akan ikut haji reguler, yang biayanya lebih kurang 30 juta, harus menunggu sekitar 25 tahun lagi. Kalau saat ini tabungan kita baru 200 ribu, ya entah kapan akan berangkat. Hanya Allah yang tahu.

Yang kedua adalah kurban. Kurban adalah amalan yang murni dikerjakan untuk mencari ridla Allah semata. Dulu, ketika kedua anak Nabi Adam AS berkurban. Yang satu diterima Allah. Yang satu ditolak. Di sini pasti ada pelajaran yang bisa kita petik bersama. Kenapa bisa seperti itu.

Ternyata yang diterima Allah, kurbannya dijalankan dengan setulus hati. Karena taat kepada Allah. Tidak mencari imbalan, upah, keuntungan, nama dan lainnya. Yang dia jalankan murni hanya untuk memenuhi perintah Allah. Seperti ini kurban yang diterima Allah.

Yang tidak diterima Allah karena hewan kurbannya asal-asalan. Dilakukan dengan hati tidak ikhlas. Ngomel,”Diterima sokur, tidak diterima ya biarkan saja”. Pelajarannya, ternyata ada yang mengerjakan perintah Allah dengan berat hati.

Tidak hanya kurban saja. Sholatpun bisa juga demikian. Ada orang yang hatinya tidak senang saat mendengar adzan. Ada juga yang menggerutu jika sholat berjama’ah dan bacaan suratnya panjang-panjang. Imam di masjid tersebut memang pintar, hafal Qur’an. Namun anehnya, ketika sholat berjama’ah banyak makmumnya yang membubarkan diri. Kecuali 1 orang yang ikut sholat sampai selesai.

Sang imam berkata ke makmumnya tadi, “Anda luar biasa, benar-benar hamba yang dipilih Allah. Hanya Anda saja yang kuat sholat mengikuti saya”.

Kata sang makmum, “Maaf pak Kiai, sebenarnya saya juga sudah tidak kuat. Tapi karena saya yang pegang kuncinya masjid. Maka terpaksa saya tidak ikut bubar seperti lainnya”. Kesimpulannya, ternyata jadi imam juga harus tahu ilmunya.

Jika hidup ini dijalankan dengan nyaman, dengan ketulusan dan kesabaran maka semua yang kita kerjakan akan diterima Allah. Kita tidak cukup jadi orang baik saja. Karena belum tentu kebaikan kita diterima oleh Allah. Maka jika beramal tidak boleh disombongkan. Tidak boleh dipamerkan.

Ulama sufi mengatakan tidak ada amal kecil kalau memang itu diterima Allah. Caranya melakukan kebaikan, dijalankan dengan kenyaman, ketulusan dan hanya mencari ridlanya Allah. Bukan mencari surga. Bukan pula pahala.

Bicara kurban tidak bisa lepas dari sosok Nabi Ibrahim dan Ismail. Beliau diperintah Allah untuk menyembelih anaknya. Karena apa? Saat itu Nabi Ibrahim sudah berkurban tanpa hitungan. Apapun untuk kepentingan Allah pasti diutamakan. Melebihi kepentingannya sendiri.

Nabi Ibrahim saat itu belum punya momongan. Beliau terlanjur berkata, “Jangankan hewan dan harta benda yang dititipkan Allah kepadaku, seumpama Allah memberiku anak dan Allah memerintahkan untuk mengurbankannya, maka akan aku kurbankan”.

Seperti ini biasa sebagai sifat manusia. Kadang kita dengar, “Seumpama rejekiku banyak, jalan di depan rumah ini akan aku cor sampai ujung desa”. Seperti ini biasa. Perkara besok beneran banyak rejeki lantas lupa, sangat bisa terjadi.

Lama tidak diberi momongan lantas Allah memberi anak, Ismail. Maka Allahpun menagih perkataan Ibrahim, “Wahai Ibrahim, kamu harus lakukan apa yang dulu pernah kamu katakan. Itu termasuk nadzar yang wajib dijalankan”.

Sampai keduanya diuji Allah dan berhasil. Siapakah orang yang akan berhasil dalam hidupnya? Dialah orang yang hidupnya diliputi dengan kesolehan.

Ayah soleh, istri solehah. Anak-anaknya juga soleh solehah. Lingkungannya juga baik. Apapun masalah dalam hidup ini tidak lepas dari kesolehan amal. Maka akan dilindungi Allah.

Akhirnya, karena keduanya sudah sepakat untuk mengabdi kepada Allah maka banyak pertolongan dari Allah. Hidup mestinya seperti itu. Kita bekerja, berumah tangga dan bermasyarakat hanya mengharap ridhlanya Allah. Semua yang sulit akan dimudahkan, akan diberi jalan keluarnya. Yang berat jadi enteng.

Setiap kita bangun tidur untuk melakukan Sholat Shubuh, kalau niatnya untuk mencari ridlanya Allah maka bangun di waktu Shubuh bukanlah hal yang sulit. Bangun waktu Shubuh adalah suatu yang menyenangkan.

Maka jika kita sudah berniat ingin menjadi orang baik, ingin menjadi orang yang selalu berbenah maka akan dimudahkan Allah.

Kurban dalam hukum fiqih memang disunahkan yang gemuk, besar, yang banyak dagingnya. Dalam hukum fiqih dijelaskan, kelak kita akan melintas Shiratal Mustaqim dengan hewan yang kita kurbankan sebagai kendaraannya. Maka tidak boleh menjual bagian dari kurban. Karena kelak akan dikembalikan sesuai yang dikurbankan. Jika kepala atau kaki dari hewan kurban kita jual maka maka akan dikembalikan tanpa kepala, tanpa kaki. Ketika kulitnya dijual maka akan dikembalikan tanpa kulit.

Itu kalau menurut hukum fiqih. Berbeda jika dilihat dari tasawuf. Apabila sebagian dari hewan kurban dijual untuk kebaikan maka diperbolehkan. Karena yang dilihat Allah bukan kulit dan dagingnya. Tapi ketulusan jiwanya ke Allah.

Kita bisa memakai hukum fiqih dengan cara menyerahkannya dulu ke panitia lalu baru dijual. Dengan jalan ini maka yang berkurban harus benar-benar ikhlas. Tidak menjadi masalah jika sampai diberi sebagian dagingnya oleh panitia.

Kalau mau meminta sebagiannya maka hendaklah ngikut ke panitia saja. Kecuali bagi yang berkurban atas dasar bernadzar. Maka dia tidak boleh menerima bagian. Daging kurban diperbolehkan diberikan ke orang non muslim dengan diniati sebagai hadiah.

Intinya dalam hidup ini harus adanya pengorbanan. Tidak ada di dunia ini orang yang berhasil dan diridlai Allah tanpa adanya pengorbanan. Almarhum Mbah Moen Rembang, beliau berkurban seumur hidupnya di dunia pendidikan. Separo umurnya untuk belajar. Separo umur lainnya untuk mengajar. Tidak heran jika beliau termasuk kekasihnya Allah.

Ketika kita mengabdi di masyarakat juga demikian. Apa yang kita berikan ke masyarakat. Untuk keluarga kita juga. Tujuannya agar diberi keberkahan. Apa yang bisa kita berikan kepada keluarga kita. Harapannya siapa saja yang berada di lingkingan kita bisa merasakan pengorbanan kita.

Kalau dalam hidup kita siap berkurban dan siap mengabdi maka hidup kita fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzbannar.

Kurban hanya simbol saja. Simbol ketaqwaan hamba kepada Allah dengan kadar semampunya kita. Sebisa-bisanya. Semua anugerah Allah yang kita terima saat ini bisa menjadi sarana kita mengabdi kepada Allah. Menjadi sarana berkurban dalam hidup ini. Mencari ridlanya Allah.