Dosa yang Merontokkan Amal Baik

(Foto: Pinterest.com)

Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdurrahman, Muadz bin Jabal, memerintahkan agar kita taat kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Kedua, jika kita melakukan perkara yang tidak baik agar segera disusul dengan perkara yang baik. Tujuannya agar perkara yang baik tersebut dapat melebur perkara yang tidak baik.

Beberapa ulama memaknai hadits bahwa ada orang yang hidup dengan mempunyai kebaikan yang banyak. Tetapi dia mempunyai satu dosa yang belum sempat dia taubat sehingga Allah belum berkenan mengampuninya. Satu dosa itu bisa merusak semua amal baiknya.

Maksudnya kita tidak bisa mengandalkan amal baik yang sudah kita lakukan. Kita tidak tahu apakah amal baik yang kita lakukan tersebut diterima Allah atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah ada dosa kita yang merusak amal kita atau tidak.

Alkisah, ada orang sholeh yang sudah banyak melakukan kebaikan dan hampir tidak punya dosa. Karena dia tidak hidup bersama orang lain. Sehingga tidak ada peluang untuk ghibah, tidak melihat maksiat, fikiran jelek juga tidak pernah. Hidupnya menyendiri. Di gunung jauh dari kampung.

Wali, menurut ilmu tasawuf yang aman tempatnya memang di gunung. Tapi derajatnya lebih tinggi yang di kota. Sebab di kota banyak godaannya. Urusannya juga lebih banyak. Orang ini mendapat anugerah dari Allah yang luar biasa. Air yang seharusnya mengalir ke bawah, di tempat wali ini mengalir ke atas. Orang yang mendapat anugerah dari Allah kalau beribadah dia tidak banyak harap. Sebab kalau beribadah banyak berharap anugerah itu nilainya masih kurang maksimal.

Sebagi contoh, kita sudah puasa Daud, sehari puasa sehari tidak. Malam tahajud dari jam 2 sampai Shubuh. Jama’ahnya rutin. Namun, dia diberi tubuh yang sering sakit. Rejekinya juga tidak nambah-nambah. Lantas dia berkata, “Lalu apa gunanya puasa Daud selama ini? Sementara dia yang tidak pernah berpuasa rejekinya malah lancar. Juga tidak pernah sakit”.

Berarti selama ini nilai ibadahnya kurang murni. Masih punya tujuan-tujuan yang jika tujuan tersebut tidak tercapai dia merasa ibadahnya belum faedahnya. Dalam ilmu tasawud seperti ini tidak boleh. Ibadah ya ibadah saja. Apapun pemberian Allah adalah pasti sudah yang terbaik untuk kita.

Jika dengan ibadah yang bagus namun rejeki kita belum lancar, bisa jadi itu untuk menghapus dosa kita yang telah lewat. Sampai kapan? Bagaimana jika sampai meninggal rejekinya tetap belum bagus? Semoga saja saat meninggal itu semua dosa kita sudah dihapus Allah. Jadinya husnul khotimah.

Menurut Quraish Shihab, orang yang membaca surat al Waqi’ah di malam hari, dia dijamin Allah tidak fakir selama hidupnya. Syaratnya rutin. Di hadits ada keterangan seperti itu. Namun seperti ini kurang pas, jika menjadi tujuan utama. Tujuan membaca al Qur’an adalah agar mendapat ridla dan petunjuk dari Allah. Tidak boleh ada tujuan selain itu. Karena jika sudah mendapat ridla Allah, dunia akhirat akan diberi kelancaran.

Kembali ke kisah orang sholeh tadi, dia diberi anugerah berupa kemudahan. Jika menanam di pagi hari sorenya sudah panen. Orang yang tidak punya salah semua doanya diijabah Allah. Dia sudah pada tingkatan malu kalau harus berdoa ke Allah. Karena tanpa berdoa saja dia sudah diberi Allah.

Ketika orang sholeh ini meninggal dunia dan hendak masuk surga, dia dicegat oleh malaikat.

“Kamu hendak ke mana?”, tanya malaikat.

“Aku mau ke surga, karena aku tidak punya dosa dan amal ibadahku banyak,” jawab si sholeh ini.

Akhirnya Allah memutuskan, “Begini saja, jika orang ini akan masuk surga karena amalnya. Ayo dihitung saja, lebih banyak mana dengan anugerah yang sudah Aku berikan kepadanya”.

Akhirnya dihitung. Sholatnya, wiridannya, sedekahnya. Semua amalnya dihitung dan ternyata semua yang dilakukan itu karena mendapat anugerah dari Allah. Tidak mungkin orang berbuat baik tanpa mendapat anugerah dari Allah.

Dihitung mulai dari mata. “Kamu bisa melihat apa saja karena ada mata khan? Bisa baca Qur’an juga karena juga ada mata”.

Ternyata kita hidup tidak cukup hanya punya mata saja. Mata perlu tempat yakni kepala. Kepala tidak sempurna jika hanya kepala saja. Bagaimana akan bernafas, makan minum dan mendengarkan? Berfikir juga pakai apa? Ternyata kita masih butuh hidung, mulut, lidah, telinga dan masih banyak lagi lainnya. Dan di kepala ada otaknya. Ingat, manusia tanpa otak tidak dihitung sebagai manusia lagi.

Ternyata orang hidup tidak hanya butuh kepala saja. Butuh kaki, tangan, badan dan lainnya. Jika dihitung masih banyak anugerahnya Allah dari pada amal kita. Sebanyak apapun amal seseorang, termasuk Kanjeng Nabi Muhammad sekalipun, beliau mengakui semua itu karena anugerahnya Allah.

Ulama-ulama terdahulu juga merasa bahwa yang dimiliki dan dikerjakanya semua karena anugerah dari Allah. Almarhum Mbah Maemun, beliau kalau berdoa tidak pernah meninggalkan permohonan agar saat dipanggil Allah dalam keadaan husnul khotimah.

Di Kudus ada ulama bernama mbah Arwani. Beliau termasuk ulama yang mempunyai spesialisadi dalam hal bacaan al Qur’an. Beliau belajar al Qur’an dari mbah Munawir Krapyak, belajar tariqah dari mbah Manshur Popongan. Jiwanya seperti besi sembrani. Ketika belajar hanya perlu dipukul sedikit saja sudah langsung jadi. Tidak perlu proses lama.

Suatu hari, beliau sowan mbah Manshur dengan temannya. Oleh Mbah Manshur mereka diperintah untuk membersihkan kamar mandi setelah sholat Dhuhur. Mbah Arwani langsung membersihkan kamar mandi tersebut tanpa ganti baju dulu. Temannnya masuk kamar dulu untuk ganti baju baru membersihkan kamar mandi.

Siapa yang diterima? Yang langsung mengerjakan. Kalau kita pasti tidak seperti itu. Ada saja alasannya. Makan dulu atau yang lainnya.

Akhirnya, setelah selesai bersih-bersih, mbah Arwani muda matur ke mbah Manshur, “Mbah ini sudah selesai bersihkan kamar mandinya”.

Dijawab oleh mbah Manshur, “Ya sudah pulanglah ke Kudus, kamu sudah lulus. Ilmuku sudah kamu serap semuanya”.

Di masa sepuhnya, mbah Arwani ingin bebas dari semua urusan dunia. Sampai ke soal makan minum. Selema 7 tahun terakhir sebelum dipanggil Allah, mbah Arwani tidak pernah makan dan minum dari dunia ini. Tapi saat makan, santri yang biasa menemani beliau melihat beliau seperti habis makan lantas berkeringat. Ini kelasnya orang-orang sholeh. Sudah dekat dengan Allah. Ibadahnya sudah benar. Setiap minta ke Allah dikabulkan.

Pertama, jangan mengandalkan amal kebaikan kita. Diserahkan ke Allah saja, semoga amal yang sedikit itu diterima Allah. Jadi kita sama sekali tidak pantas memamerkan amal. Karena semua amal kita karena anugerahanya Allah.

Kedua, harus hati-hati menjaga diri jangan sampai sia-sia amal kebaikan kita. Banyak sekali sebabnya. Diantaranya adalah syirik. Menyekutukan Allah. Takutnya ke selain Allah melebihi atau sama dengan Allah.

Setan sebenarnya takut ke manusia. Kenapa setan menggoda, karena manusia mau digoda. Kadang manusia malah berkawan dengan setan. Jika kita ngikut setan, mereka senang.

Ketiga, memakan harta anak yatim. Bisa merontokkan amal baik kita. Harus hati-hati, dirawat dengan baik. Asetnya dijaga dengan baik. Adil. Jika saatnya diberikan harus diberikan dengan apa adanya. “Bagian bapakmu sebenarnya di belakang Le, tapi aku berikan kamu bagian depan, yang lebih baik. Aku yang dibelakang tidak apa-apa”. Orang seperti ini kelasnya bukan mencari surga tapi dia dicari surga.

Keempat, merubah batas tanah. Sholat, puasa, ngaji walaupun tertib tidak akan mampu mengcover dosa yang disebabkan yang satu ini.

Kelima, riba secara syariah, riba yang sampai mendzolimi, saling menyakiti, sampai beranak pinak. Misalnya kita hutang 1 juta, bunganya setiap bulan 100 ribu. Jika tidak bisa membayar bunganya berarti hutangnya jadi 1,1 juta. Lantas tiap 100 ribu menambah 10 ribu.

Masih ditambah bulan depan harus sudah bayar 100 ribu ditambah 10 ribu. Bulan depannya lagi jika tidak mampu membayar bunganya lagi, hutangnya naik lagi jadi 1,2 juta. Seperti ini yang namanya beranak pinak. Jika sudah seperti ini, sudah termasuk mencari rejeki dengan menyengsarakan orang lain.

Keenam, yang bisa melebur amal baik kita adalah ilmu sihir, dukun dan paranormal. Jika datang ke dukun, dia bukan ahli ibadah dalam Islam maka sholatnya selama 40 hari tidak diterima Allah.