Doa Saat Berwudlu

(Foto: Pinterest.com)

Wudlu hukumnya wajib untuk perkara yang harus pakai wudlu. Contohnya memegang mushaf al Qur’an. Atau akan sholat. Sholat salah satu syaratnya harus suci. Sholat sunah juga sama. Sholat sunah tidak berwudlu tidak sah. Sholatnya sunah tapi hukum wudlunya wajib. Dari bab wudlu ini hukumnya wajib mengetahui mana yang termasuk wajib, mana yang sunah.

Pertama wudlu harus niat. Agar ada bedanya antara cuci muka biasa dan wudlu, bedanya di niat. Demikian juga dengan mandi. Mandi biasa dan mandi besar bedanya juga di niat.

Niat tidak harus diucapkan, boleh dibatin saja. “Saya berniat berwudlu untuk menghilangkan hadast kecil karena Allah ta’ala”. Seperti ini sah.

Kedua membasuh air ke wajah. Mulai dari atas sampai janggut bawah. Jangan sampai bagian depan saja yang basah, bagian samping masih kering. Kalau perlu dilebihkan sedikit, untuk lebih amannya.

Yang termasuk sunah dalam wudlu diantaranya berkumur. Menghirup air ke hidung dan dikeluarkan kembali. Tidak melakukan ini tidak apa-apa. Tapi sebaiknya dilakukan karena bagus juga untuk kesehatan. Apalagi setelah makan yang baunya ekstrim, makanan atau minuman yang sulit hilangnya. Agar bisa bersih. Contoh, setelah minum dawet. Saat kita sholat dan menelan ludah masih terasa dawetnya berarti sholat kita batal.

Ketiga, membasuh kedua tangan sampai ke siku. Harus basah semua. Jika memakai baju lengan panjang dipastikan harus digulung sampai siku. Jangan sampai wudlu kita tidak sah. Jika wudlunya tidak sah maka sholat kita ikut tidak sah.

Keempat, mengusap sebagian rambut kepala yang ada rambutnya. Paling minim rambut tiga. Sokur dibasahi semua.

Membasuh telinga juga sunah, tidak wajib. Sebaiknya juga dibasuh. Kaki sampai mata kaki harus basah. Tidak boleh ada sesuatu yang jadi penghalang air yang masuk ke kaki. Kuku jika panjang harus dipotong. Sebab dikhawatirkan tidak terkena air. Sunahnya tiap hari Jum’at dipotong lalu dikubur kukunya.

Tertib mulai dari niat sampai membasuh kaki. Harus urut tidak boleh dibolak balik. Tapi jika wudlu di rumah mulai niat dan membasuh muka, lalu mampir di tetangganya lanjut membasuh tangan, sampai masjid membasuh kaki. Seperti itu sah. Tetapi tetap harus urut. Dan tidak batal dalam proses tersebut.

Doa saat berwudlu. Ketika kita berkumur, kita mohon ke Allah 3 perkara. Dengan bahasa Jawa saja. Artinya saat berkumur kepegang 3 perkara ini. Pertama supaya jadi ahli dzikir. Dalam sehari semalam, waktu kita untuk dzikir hanya sedikit. Banyak nganggurnya.

Kedua, kita minta jadi ahli syukur. Dan yang ketiga memperbaiki kualitas ibadah. Saat berkumur 3 perkara ini diusahakan tercapai.

Ahli syukur itu mendapatkan beberapa pekerjaan yang mendapatkan keutamaan. Ahli syukur jika menggotong mayit, lisannya mengucap ‘laa ilaaha illallah’, fikirannya berfikir besok pada akhirnya kita juga akan mati. Seperti ini termasuk ahli syukur.

Saat menggotong mayit paling tidak mendapatkan 3 pahala. Pahala mengangkat, pahala berdzikir, pahalanya bertafakur.

Selama ini, saat kita mengurus mayit sepertinya sama sekali tidak menyentuh sampai ke hati. Jarang sekali kita melihat yang sampai ke sana. Kecuali dari pihak keluarga yang sedang berduka. Mereka pasti bersedih.

Sebenarnya sebuah kekeliruan karena kematian adalah sebuah nasihat. Kita tidak bisa mengambil nasihat tersebut, berarti ada yang kurang pas. Paling tidak bersedih. Ketika ada pengumuman, kita bereaksi “Yaa Allah sudah Kau panggil tetanggaku ini. Semoga husnul khotimah. Semoga saat Kau panggil aku kelak juga husnul khotimah.”

Saat melayat, orang yang mengambil pelajaran sangat sedikit. Tidak banyak yang setelah melayat menjadi tambah baik, tambah rajin ibadahnya.

Jadi saat berkumur kita usahakan raih 3 perkara, menjadi ahli dzikir, ahli syukur dan memperbaiki ibadah. Sholat dijaga dari awal waktunya, jama’ahnya, sunah-sunahnya. Diantaranya qabliyah dan ba’diyahnya. Ibarat burung bisa terbang karena ada qabliyah atau ba’diyahnya. Kalau sholat ada kekurangannya yang bisa menambalnya hanya qabliyah ba’diyah.

Ketika kita memasukkan air ke hidung, kita minta ke Allah semoga kita diberi bau wangi surga yang jaraknya bisa dirasa 40 ribu tahun perjalanan. Bau wangi surga ini tidak akan bisa dicium oleh anak yang durhaka ke orangtuanya, istri yang pulang ke rumah oragtuanya tanpa seijin suaminya. Juga dayus. Yakni suami atau istri yang tidak marah ketika pasangannya berbuat maksiat. Tidak ada rasa cemburu sama sekali. Apalagi malah memberi ijin.

Ketika membasuh wajah, kita mohon ke Allah agar wajah kita bersinar, berseri-seri. Kapan itu? Saat kita menghadap Allah. Saat menghadap Allah ada 2 wajah. Murung dan bersinar. Orang yang terbiasa wudlu wajahnya akan bersinar. Orang yang amalnya baik wajahnya juga akan bersinar.

Kenapa bersinar? Karena dia akan bertemu dengan Allah dan akan mendapat hadiah dari Allah. Tetapi bagi ahli dosa wajahnya akan murung, pucat, masam. Karena dia akan bertemu dengan Allah dan akan dimurkaiNya. Terkait dengan amal ibadah seseorang akan ditampakkan tidak hanya saat bertemu dengan Allah. Namun sejak sakaratul maut sudah ditampakkan.

Saat hidup di dunia ini saja orang tersebut selalu diberi rasa bahagia. Bahkan bisa sampai ke tingkat kekasihnya Allah,  ‘laa khoufun ‘alayhim walaahum yahzanuun’. Tidak ada khawatir dan takut karena sudah dekat dengan Allah. Dia juga diberi kemampuan untuk membaca wajah orang lain. Apakah dia termasuk wajah panas atau dingin. Wajah orang sholeh atau kriminal.

Ketika membasuh tangan kita mohon ke Allah agar kelak menerima catatan amal dengan tangan kanan. Kenapa minta seperti itu? Karena kelak ada orang yang tidak mau menerimanya dengan tangan kanan, tapi dengan tangan kiri.

Dalam hidup ini termasuk orang yang baik, apabila dosanya sudah selesai.Tidak punya dosa yang berkelanjutan. Dia termasuk orang beruntung. Sebaliknya, termasuk orang yang buntung apabila sudah meninggal dunia dosanya masih berlanjut, harta tidak halalnya dibagikan ke keturunannya. Masih mending jika punya harta yang tidak halal saat meninggal habis, atau bangkrut. Seperti itu jauh lebih baik.

Kedua, mohon ke Allah kelak saat dihisab, hisabnya tidak berat. Di akhirat kelak ada yang namanya hisab dan mizan. Mizan amal kita ditimbang, tujuannya agar tahu berat dan ringannya amal. Ada amal yang besar tapi ringan. Ada juga amal yang besar dan berat timbangannya. Ada yang amalnya kecil tapi berat. Ada juga yang kecil yang juga ringan timbangannya.

Jika sudah ditimbang apa sudah selesai? Belum. Selanjutnya akan dihisab. Ini terkait sedikit banyaknya amal. Yang paling berat hisabnya kelak adalah orang munafik. Kenapa? Mereka akan dihisab setelah proses hisab orang mukmin dan kafir selesai.

Penjelasannya, jika kita beli mangga yang besar dikelompokkan dengan yang besar. Itu mudah. Demikian juga yang kecil, dikelompokkan dengan yang kecil. Namun beda dengan yang nanggung. Dimasukkan ke yang besar dia terlalu kecil, dimasukka ke kelompok yang kecil dia terlalu besar. Itulah orang munafik, hisabnya paling belakang.

Orang yang hisabnya mudah, dia hendak masuk pintu surga tidak perlu diteliti dengan ketat. Di surat Yasin disebutkan manusia akan melewati 10 pos pemeriksaan. Ada hisab yang terkait dengan kewajiban dari Allah, hubungan dengan tetangga. Ada kewajiban dengan suami dan lain sebagianya. Ketika ditanyai tidak beres maka harus menunggu lama. Sampai ribuan tahun.

Doa yang selanjutnya saat membasuh tangan adalah semoga  tidak diteliti dengan menyeluruh dan ketat. Jika diteliti dengan ketat sudah pasti kita tidak akan selamat. Sebab ibadah kita jika dibanding dengan nikmatnya Allah tidak ada apa-apanya.

Kelak akan ada orang yang menerima raport dari arah kanan dan arah kiri. Ada juga yang nilainya sangat kurang. Statusnya sebagai manusia tidak ada. Isinya hanya seperti hewan. Tidak ada nilainya sabar dan syukur. Nilai ibadah juga tidak ada, dengan tetangga tidak akur, cari harta juga asal kena.

Seperti ini umurnya pendek masih lumayan. Buku catatannya berwarna hitam dan berbau tak sedap. Saking malunya orang ini, dia merogoh tangannya dari balik punggung dengan membelakanginya. Padahal itu dihadapan Allah dan para malaikat. Karena selama hidup di dunia tidak memakai aturannya Allah. Hanya menuruti nafsunya.

Add Comment