Yang Dibahas di Hukum Fiqih

foto: pinterest.com

Hukum fiqih membahas perkara dhahir yang kelihatan. Yakni hukum haram yang harus ditinggalkan, wajib yang harus dikerjakan, sunah sebaiknya dikerjakan, makruh sebaiknya ditinggal, mubah boleh dikerjakan dan boleh ditinggal.

Tujuan utamanya adalah paham tentang 5 perkara tersebut. Satu untuk menjaga agama kita, maka selaku muslim harus dijaga betul Islam kita. Allah berpesan setelah kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, jangan meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam.

Cara menjaga Islam kita yakni dengan menjalankan ajarannya. Jika kita mengaku Islam tetapi aturan dan tata caranya Islam tidak kita laksanakan maka Islam kita kurang sempurna. Jangan sampai kita termasuk Islam KTP.

KTP-nya Islam namun mencari rejeki tidak memakai aturan Islam. Islam mengatur urusan duniawi sampai urusan akhirat. Sudah komplit karena Islam adalah agama yang sudah disempurnakan oleh Allah.

Menjaga agama lebih fokus bagaimana caranya kita menyembah kepada Allah. Dalam fiqih ada bab ubudiyah. Tata cara kita selaku manusia menyembah ke Allah. Sebelum datang agama Islam bisa kita jumpai bermacam caranya. Diantaranya ada yang membuat patung lalu disembah.

Orang Hindu menyembah patung itu hanya simbul. Seperti kita sholat menghadap Ka’bah. Maka ketika jamam sahabat pertama kali mengerjakan sholat, banyak yang kebingungan. Sebelum Islam datang, yang disembah lebih jelas karena ada di depannya. Kelihatan. Kalau menyembah Allah, di mana Allah? Jaman awal-awal Islam seperti itu.

Dalam fiqih ada bahasan tata cara bergaul sesama makhluknya Allah. Namanya muamalah. Yakni hukum fiqih yang membahas tentang tara cara bergaul selama hidup. Sudah dirumuskan lengkap. Maka dalam bergaul kita harus siap bisa menerima keadaan bahwa teman kita tidak semua orang Islam. Kadang bergaul dengan saudara yang di luar Islam.

Di masyarakat, kita jumpai kenyataan tidak semua orang mengerjakan sholat. Tidak semua orang menjalankan puasa Ramadhan. Apa motivasinya menutup warung makan dengan paksa yang berjualan di bulan puasa? Padahal pembelinya ada yang non muslim. Dan juga orang Islam yang sedang berhalangan. Ada tata cara bergaul yang dibahas di bab muamalah.

Ada juga bab tentang transaksi yang ada kaitannya dengan harta benda. Kita menggunakan milik orang lain harus jelas akad atau ijab qabulnya. Kita bisa memiliki dan memakai kendaraan orang lain misalnya dengan cara jual beli. Motornya ditukar dengan uang. Membeli suatu barang dalam masyarakat Jawa kadang ada jadi ada kebanggaan tersendiri. Tapi jika ada orang menjual suatu barang seperti ada rasa malu. Sebenarnya keduanya adalah hal biasa saja.

Selain dengan cara jual beli, ada juga karena pemberian. Ini namanya hibah. Diberikan dengan tanpa syarat. Ada lagi lainnya yakni dengan cara meminjam. Meminjam itu definisinya pergi utuh kembali juga harus utuh.

Sebenarnya akadnya seperti itu. Jika saat pinjam utuh namun saat mengembalikan berkurang itu harus ada hitung-hitangannya. Maka jika barang yang dipinjam rusak, yang punya barang berhak meminta gantinya.

Bagaimana dengan meminjam kendaraan? Saat mengembalikan bensinnya berkurang? Secara hukum fiqih ada hitungannya. Maka yang meminjamkan berhak untuk menanyakan untuk penggantian bensinnya. Jika kita ijabnya pinjam tapi bensinnya berkurang dan yang punya kendaraan tidak ridha maka kita dapat dosa.

Jika kita membawa milik orang lain tanpa ada ijin yang punya, tetapi ada niat untuk mengembalikan, itu namanya ghosob. Contohnya memakai sandal di masjid. Niatnya memakai untuk berwudlu, setelah selesai dikembalikan. Selama kita membawa sandal tersebut sampai dikembalikan itu kita dihukumi berdosa.

Jika kita menggunakan milik orang lain, dan tidak ada niat mengembalikan, itu bukan ghosob lagi tapi sudah masuk kategori mencuri.

Dalam fiqih, akad sangat mempengaruhi dalam hukum. Misalnya di masjid ada toilet dan kamar mandi. Ini terkait dengan pengurus dan semuanya. Ketentuan yang dibuat harus jelas. Apakah boleh digunakan hanya untuk yang ada urusannya keperluan ke masjid yakni untuk sholat dan lainnya. Atau bebas untuk umum. Tidak sholat juga tidak apa-apa.

Kalau dikhususkan untuk orang yang akan sholat ke masjid saja, kita datang ke masjid untuk keperluan mandi lantas pergi, kita masuk kategori ghosob. Dan seperti itu berdosa.

Jika kita mengambil air di masjid dan diperbolehkan oleh pengurus bahwa air masjid ini disediakan keperluan masyarakat, maka tidak apa-apa. Tapi jika hanya terkait urusan dengan masjid saja, selain urusan dengan masjid tidak boleh berarti hukumnya haram.

Jika kita mengambil listrik dari masjid, bagaimana hukumnya? Hukumnya jika tidak dapat ijin dari pengurus berarti haram. Idealnya masjid mengambil listrik dari listrik warga. Tapi kalau warga yang mengambil listrik dari masjid dilihat dari hukum bermasyarakat kurang baik. Seperti ini tergantung kebijakan masing-masing pengurus. Jika itu memang tidak diperbolehkan, maka kalau kita menggunakan harus benar-benar mendapat ijin dari pengurus.

Bolehkah kita membawa barang milik masjid untuk sesuatu di luar kepentingan masjid? Sebagai contoh, masjid dibongkar ternyata masih ada sisa galvalum yang masih bagus. Bolehkah kita membawa pulang untuk dipakai untuk membuat peralatan di rumah kita?

Terkait hal ini ada 2 pendapat. Pendapat pertama, dimasukkan ke haram hukumnya. Apalagi status tanah masjid adalah wakaf. Pendapat kedua, galvalum tersebut bisa ditukar dengan uang dan uangnya dimasukkan ke kas masjid. Seperti itu ada yang membolehkan.

Kita harus berhati-hati dengan hal muamalah karena terkait dengan keberkahan hidup. Jangan sampai kita mencari rejeki dengan cara yang tidak halal secara hukum fiqih. Karena resikonya keluarga kita tidak mendapat keberkahan hidup dari Allah. Dunia dan akhirat.

Memang tidak mudah berjalan sesuai dengan hukum fiqih. Di generasi para sahabat dan tabiā€™in saja juga merasakan berat, apalagi kita orang awam. Terlebih di hal perdagangan. Dalam berdagang, biasanya kita lebih mengejar keuntungan.

Jika kita hanya mengejar untung secara materi sampai menghalalkan yang diharamkan Allah, bukannya untung yang kita dapat tapi malah dapat buntung.

Tanda-tanda kehilangan keberkahan hidup dari Allah adalah hidupnya tidak tentram. Banyak masalahnya, keluarga sakit, sering dapat kesulitan dan lainnya.

Hukum fiqih perlu kita pelajari agar kita berusaha sebisa mungkin mencari rejeki sesuai aturan Allah. Karena ini wajib hukumnya. Para petani mencari air jika bukan jatahnya tidak boleh mengambil jatah orang lain.

Jika air yang dipakai untuk mengaliri itu bukan hak kita maka kita berdosa. Hukum fiqih mengatur sedemikian rupa agar kehidupan kita jadi lebih baik. Sayangnya umat Islam sendiri banyak yang menyepelekan.

Sebenarnya suara hati selalu berontak setiap kali kita melakukan sesuatu yang tidak benar. Orang yang menipu itu pasti hatinya tahu kalau dia menipu. Menipu orang lain berarti menipu dirinya sendiri. Dilihat dari hukum fiqih, sebelum orang lain tahu kita sendiri sudah lebih tahu. Maka dicabut keberkahan hidupnya.

Ada tata cara menjaga harta benda, agar harta benda kita rejeki halal secara lahir dan batin. Barang yang dijual halal caranya juga halal. Jika barang yang dijual haram, walaupun cara jualnya halal tetap saja hukumnya haram. Contoh, kita punya ayam belum sempat disembelih sudah mati. Kalau ayam yang sudah mati tersebut kita jual ke orang lain untuk dikonsumsi maka penjualan ini ikut haram.

Kasus lain, ayam masih hidup, tapi ayam tersebut bukan milik kita. Ayam tersebut kita jual. Seperti ini juga haram hukumnya.

Di hukum fiqih juga ada bahasan pernikahan. Ini agar kita jadi manusia dan tetap jadi manusia kelak saat menghadap Allah di akhirat. Karena kalau tidak diatur dengan hukum fiqih, keserakahan manusia bisa melebihi hewan.

Banyak orang yang dipanggil dengan jenis hewan. Karena licik dan suka mencuri, dia dipanggil dengan kancil. Ada yang sifatnya seperti katak. Suka menjilat yang di atas menjilat dan menginjak yang di bawah. Sebenarnya semua hewan adalah cerminan sifat manusia.

Maka dalam hukum fiqih diatur Allah agar kita berbeda dengan tata caranya hewan. Hewan jika suka dengan lawan jenis, tidak melalui KUA. Manusia harus pakai aturan agama. Harus dinikahkan dulu. Jangan sampai belum ijab qabul tapi sudah berbuat layaknya sudah menikah.

Ada juga bahasan bagaimana menjaga jiwa manusia. Sebisa mungkin jangan sampai kita melukai secara fisik orang lain. Jika kita berbuat kasar secara fisik kalau sampai meninggal dunia maka urusan di akhirat sangat berat.

Seseorang yang masuk kategori dosa besar yang bisa merusak kehidupan diantaranya durhaka ke orang tua, memakan yang diharamkan Allah, membunuh jiwa yang tidak punya hak untuk dibunuh.

Termasuk kategori di sini adalah bunuh diri. Kalau ada orang Islam yang bunuh diri, apakah harus disholatkan? Sama halnya dengan orang Islam yang selama hidupnya tidak mengerjakan sholat, jika meninggal dunia apakah perlu disholatkan?

Ulama fiqih yang hati-hati cenderung tidak menyolatkan. Pendapat ulama yang kedua, yang memakai ilmu toleransi dan dengan pertimbangan kita hidup bersama-sama dengan masyarakat, mereka tidak melihat hitam di atas putihnya. Selagi dia tidak pernah berkata bahwa tidak sholat tidak apa-apa lebih baik tetap disholatkan dan mayatnya diurus secara Islam.

Tapi jika dia pernah berkata bahwa tidak sholat tidak masalah, sholat kalau tidak makan ya lemas. Nyatanya dia tidak sholat tapi badannya juga sehat, yang sholat malah sering sakit. Dalam hal ini berarti dia menghalalkan tidak sholat, maka ketika dia meninggal dunia tidak perlu disholatkan.

Demikian juga bagi yang meyakini bahwa bunuh diri itu tidak apa-apa, maka ketika meninggal tidak perlu disholatkan.

Add Comment