Ukuran Kemuliaan Manusia

(Foto: Pinterest.com)

Allah memberi anugerah ke hambanya, ada yang sama, ada yang berbeda. Yang berbeda contohnya adalah ilmu,  Ada orang yang diberi sedikit, ada yang diberi banyak. Orang yang diberi banyak ilmu, Allah memudahkan dirinya mencari ilmu.

Seseorang menjadi ulama, kerap kali sejak kecil memang sudah punya bibit-bibit ulama. Bapak ibunya sering berpuasa, sering mengaji. Bahkan ketika dia masih di kandungan pun, ibunya banyak berdzikir ke Allah.

Makanan yang dikonsumsinya juga terjaga kehalalannya. Ibunya jika akan memberi ASI anaknya berwudlu terlebih dahulu dan membaca istighfar. Ketika anak sudah masuk dunia sekolah, sudah terlihat bagus akhlaknya. Mudah memahami yang diajarkan oleh guru-guruya.

Memang ada orang yang jalan hidupnya seperti itu, kita tidak boleh iri. Semua adalah anugerah dari Allah. Allah tidak memakai ukuran yang berbeda ini untuk melihat kemuliaan seseorang. Apakah yang punya ilmu banyak jaminan masuk surga? Jaminan jadi kekasihnya Allah? Tidak

Kedudukan, pangkat derajat pun juga demikian. Termasuk anugerah dari Allah. Ada orang yang dianugerahi pangkat derajat. Ada yang tidak diberi. Ada orang penting, ada pula yang tidak begitu penting. Maka pangkat dan derajat ini pun tidak dipakai Alah untuk mengukur kemuliaan.

Harta benda dan kekakayaan juga sama. Ada yang diberi banyak, melimpah. Sehingga dikategorikan sangat kaya. Sebaliknya ada yang diberi sedikit. Sampai kesusahan dalam mencari rejeki.

Yang beda sudah jelas. Lantas apakah yang diberikan sama? Diantaranya adalah rasa. Rasa itu siapa saja orangnya akan sama. Orang pandai merasakan cabe pedas, orang bodoh pun akan merasakan yang sama, pedas. Orang pintar jika dihina bisa merasakan kecewa, orang bodoh pun sama.

Maka di rasa ini Allah memberi secara lahir dan secara batin. Secara lahir, jika kita melihat sesuatu yang baik, di hati akan merasa senang. Para Nabi, shalihin dan orang-orang yang dicintai Allah bagaimanapun kondisinya, punya pangkat atau tidak, punya harta atau tidak, pintar atau tidak, ternyata yang dimuliakan Allah adalah siapa yang bisa mengembangkan di rasa ini.

Orang-orang yang dekat dengan Allah dia bisa merasakan orang lain seperti dia merasakan. Kalau dicubit sakit maka jangan mencubit. Itu sama persis. Apa yang kita rasakan sama dengan yang dirasakan orang lain. Maka kita tidak boleh menghina orang lain, menyepelekan orang lain karena secara umum, siapapun kalau dihina akan kecewa.

Kita dikatakan bodoh akan kecewa. Padahal memang benar bodoh. “Aku tidak usah dibodoh-bodohkan, memang sudah bodoh”. Normalnya seperti itu.

Jika kita melihat rumah tangga sebelah rumah kita tiap hari ribut, apa yang kita rasakan? Tentram atau ikut tidak nyaman? Pagi-pagi sudah saling lempar piring. Ketika kita melihat dan mendengar yang seperti itu kalau perasaan kita hidup pasti ikut tidak nyaman. Maka kalau kita setiap hari ribut dengan keluarga kita, maka tetangga kita pun ikut tidak nyaman.

Kenapa dalam Islam kalau bertemu diperintahkan untuk bermuka berseri, tersenyum, tidak cemberut dan bersikap ramah? Tenyata itu mengandung maksud bagaimana kita menjadi manusia seutuhnya. Lahirnya manusia, batinnya juga manusia.

Orang kalau sudah tidak punya perasaan sifat kemanusiaanya akan hilang. Kalau melihat orang koq hanya cemberut saja di hati juga tidak nyaman. Maka kalau ada orang yang bertamu ke rumah kita, jangan sekali-kali kita pasang wajah cemberut.

Perkara yang datang itu orang yang meminta sumbangan diterima saja dengan baik. Kalau ada diberi, kalau tidak ada ditanggapi dengan baik.

Karena yang datang ke tempat kita juga punya perasaan. Seperti apa beratnya jika bertamu ke rumah orang, muka sang tuan rumahnya cemberut. Maka saat kita bertamu tuan rumahnya cemberut maka kita jangan lama-lama bertamunya.

Para pendahulu kita dulu selain berilmu juga mempunyai ilmu rasa sehingga menimbulkan kebijaksanaan. Ilmu hikmah. Yang di era  saat ini sudah mulai hilang. Tata krama juga sudah mulai hilang. Karena apa? Karena nafsu. Nafsu juga punya rasa. Nafsu kalau dituruti jadinya senang dan inginnya terus diulangi.

Secara fiqih, berdagang kalau menuruti nafsu ingin untungnya banyak. Secara fiqih boleh tapi dengan cara-cara yang benar. Jangan mengurangi timbangan, tidak memberi obat pemutih pada beras dan lain-lain. Orang-orang yang mencari rejeki dengan jalan yang tidak dibenarkan itu menandakan perasaan di jiwanya sudah hilang.

Kita diberi telinga dan lisan ternyata bisa berpengaruh di rasa. Pedas tidak hanya ada di cabe. Suara kita juga bisa pedas. Pelajaran apa yang bisa kita tarik? Kalau ngomong jangan sampai pedas.

Dalam Islam diatur, jika lewat di depan orang yang sedang duduk hendaknya kita permisi. Memberi salam. Perasaan kita harus hidup. Yang diberi salam pasti senang karena merasa dimanusiakan.

Orang yang perasaanya hidup akan luar biasa. Dulu, mbah Hasyim Asy’ari mempunyai banyak pohon pepaya di belakang rumah beliau. Banyak yang sudah matang. Saat itu ada wali santri yang datang dan membawa pepaya sebagai oleh-oleh.

Mbah Hasyim berkata, “Masya Allah pak, sudah membawakan pepaya yang memang sudah lama saya tunggu-tunggu. Saya paling suka pepaya seperti ini.”

Padahal di belakang rumah banyak. Ini tanda perasaanya hidup. Tapi kalau orang yang tidak hidup perasaannya akan berkata, “Bawa apa ini pak? Pepaya? Walah di belakang banyak pak. Satu karung juga lebih.”

Orang kalau perasaannya hidup tidak akan banyak mencela. Tidak banyak ‘maido’. Orang yang senang mencela karena perasaannya tidak hidup. Dia senang ‘maido’ tapi kalau dipaido tidak mau. Orang yang punya perasaan akan menimbulkan ilmu kebijaksanaan.

Ajaran Islam bisa diterima baik di tanah Jawa karena disebarkan tanpa melukai perasaannya, tidak dirubah tapi diisi dengan cara-cara Islami. Ulama terdahulu pintar lahir batin. Ketika berdakwah di tanah Jawa ini, dipelajari terlebih dulu seperti apa yang sedang berjalan. Caranya tidak harus sama dengan Kanjeng Nabi di Mekkah. Ajarannya sama tapi caranya bisa berbeda.

Ternyata filsafat Orang Jawa kalau dipangku mati. Ini ilmu. Kalau ada orang yang sebel dengan kita, cobalah datangi ke rumahnya dan bicaralah yang baik. Pasti akan berbeda.

Orang Jawa sukanya guyup rukun. Maka kalau ada hajat tertentu mereka mengundang tetangga kanan kiri. Dari dulu sudah ada dan tidak dihilangkan. Lantas diisi dengan cara Islami.

Kesukaan orang Jawa lainnya adalah pertunjukan wayang kulit. Oleh Sunan Kalijaga didekati pelan-pelan. Pertunjukannya tidak di perempatan jalan tapi digeser ke masjid. Maka dengan sendirinya mendekat dan masuk ke masjid.

Tidak masalah jaman dulu banyak yang tidak punya sandal. Bagaimana caranya? Di depan masjid dibuatlah kolam air sehingga orang yang akan masuk ke masjid dengan sendirinya mencuci kakinya. Dengan sendirinya akan bersih.

Termasuk ciri orang baik adalah apabila dia bisa memanusiakan manusia. Itu termasuk anugerah dari Allah. Allah membuat manusia dengan banyak perbedaan. Kalau perasaannya bagus, dengan siapa saja berkumpul maka dia akan nyaman. Karena dia tidak melihat sisi perbedaanya. Tapi lebih melihat kesamaannya.

Batin yang bahagia dalam kondisi apapun dia akan selalu bahagia. Maka perlu bersyukur. Dhahirnya nyaman tapi jika batinnnya tidak nyaman maka nyamannya dhahir akan ikut hilang.

Apabila kita makan enak hanya di lidah saja itu bisa menghilangkan rasa syukur kita ke Allah. Makan terasa enak itu karena didukung oleh bermacam anugerahnya Allah. Diantaranya karena kita diberi sehat.

Kita diberi rasa yang bermacam-macam di jiwa. Tidak nampak tapi bisa dirasakan. Kita diberi rasa capek juga termasuk anugerahnya Allah. Berarti itu sudah saatnya kita istirahat. Bila dipaksakan akan bermasalah. Sebenarnya saat itu sudah terasa tapi kadang karena nafsu tidak diperhatikan.

Orang-orang shalihin selalu merasa bahagia dhahir batinnya. Seperti itu orang-orang yang diberi surga Allah sebelum dia masuk surga sebenarnya. Ini orang nomer 1. Apapun kondisinya dhahir dan batinnya selalu bahagia.

Orang sekelas kita masih akan terasa berat untuk bisa selalu bahagia. Ini karena nafsu. Kita naik sepeda ontel diminta mengucap alhamdulillah masih berat. Apalagi lainnya sudah naik motor yang rata-rata baru. Sebenarnya hal seperti ini kembali di rasa saja.

Orang yang meraih fiddunya hasanah akhiratu hasanah itu apa saja pemberian Allah bisa membuat bahagia secara lahir juga bahagia secara batin. Inilah orang-orang yang akan menjadi kekasihnya Allah. Jika kita mau menengok kanan kiri kita, pasti akan kita jumpai banyak orang yang lebih susah dari kita. Kita perlu selalu mengucap alhamdulillah.

Kita masih bisa merasakan cabe itu pedas, garam itu asin, kita bisa mengantuk dan bisa tidur, bisa merasakan lapar lantas makan terasa nikmat. Semua masih normal. Lantas apa yang menyebabkan semua jadi bermasalah?

Kedua, orang yang mendapat anugerahnya Allah tata lahirnya susah, tata lahirnya longgar. Ini bukan orang lain yang merasakan. Tapi kita sendiri. Karena jika ada orang yang kita lihat terlihat susah tapi ternyata dia bahagia.

Kalau kita lihat abang tukang becak seharian belum mandapat tumpangan. Ternyata dia juga bisa tidur nyenyak. Tidak ‘kemrungsung’.

Kalau kita tidak bisa menjadi nomer pertama, hendaknya jadi nomer dua. Jadi diberi rasa ayem oleh Allah. Itu anugerah Allah yang perlu kita pelajari. Ditingkatkan rasa bahagianya. Rasa syukurnya. Rukun dengan kanan kirinya.

Apa yang kita punya, itu yang kita berikan. Misalnya tenaga. Atau ide dan pikiran kita. Mencari anugerahnya Allah kalau bisa ya lahirnya, ya batinnya. Seumpama tidak ketemu lahirnya, kita bisa menemukan di batinnya.

Nomer tiga, orang yang tampak makmur lahirnya tapi batinnya susah. Ini karena diukur dengan nafsu. Seperti ini bisa menimpa siapa saja. Karena yang dikedepankan adalah rasa yang bukan dari anugerahnya Allah. Tapi dari rasa nafsu. Yang kalau dituruti tidak ada habisnya. Sehingga tidak bisa menikmati apa yang dipunyai. Yang selalu dipikir adalah yang tidak ada.

Jiwa serakah bukan jiwa manusia. Orang yang punya jiwa serakah pasti sifat kemanusiaanya akan hilang.  Tega, sombong, adigang adigung dan adiguna. Apabila seisi dunia ini diberikan semuanya ke dia maka tetap saja masih merasa kurang.

Kita mempunyai rasa, namun jangan sampai rasa itu yang mengendalikan diri kita. Tapi rasa itu yang harus bisa kita kendalikan. Serakah itu bukan sifatnya manusia. Kepingin boleh saja tapi kepingin yang mendapat ridlonya Allah.

Keempat, dhahir dan batinnya susah. Jangan sampai kita dan anak cucu kita kecanthol yang ini. Selama hidup rejekinya morat-marit, lahirnya jauh dari rahmatnya Allah, jauh dari sesama makhkuknya Allah, batinnya tidak punya rasa ketenangan. Contohnya anak berani ke orang tua, dengan saudara sendiri tega.

Orang kalau rasanya masih jalan, Allah akan membimbing dia selamat dunia akhirat. Tidak mungkin dia macam-macam.

Mudah-mudahan kita bisa jadi nomer 1, lahirnya bahagia, batinnya bahagia. Kalau tidak bisa jadi nomer 2 saja. Lahirnya susah tapi hati selalu penuh kedamaian. Nomer 3, hati tidak begitu tenang tapi punya kelebihan harta benda. Jangan sampai jadi yang nomer 4, lahir dan batinnya susah.

Add Comment