Tinggalkan 6 Perkara, Ganti dengan 6 Perkara

(foto: pinterest.com)

Dosa banyak membawa dampak yang tidak baik. Dosa memang harus dijauhi. Ia akan membuat sengsara di dunia dan akhirat. Bagaimana cara menghentikannya? Caranya dengan bertaubat. Mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Orang yang mau bertaubat adalah orang yang dicintai Allah. Mengapa?

Karena tidak semua orang yang bersalah mau mengakui kesalahannya. Yang lebih berat lagi, sebenarnya dia bersalah tapi merasa benar. Nasihat dari para shalihin, orang yang sudah diberi kebaikan dhahir dan batin, “Manusia mempunyai kewajiban untuk mengisi hidup dan umurnya dengan perkara yang ada manfaatnya.”

Jangan sampai sebaliknya. Umur malah kita habiskan untuk perkara yang tidak ada manfaatnya. Lebih parah lagi, umur dipakai untuk perkara yang membahayakan hidup, dunia dan akhirat.

Kebanyakan dari kita, jika diberi nikmat sehat dan sempat ternyata lebih banyak yang tidak digunakan dengan baik. Banyak yang terbuang sia-sia. Jika kebanyakan manusia menyibukkan diri dengan 6 perkara yang tidak baik maka kita diperintahkan Kanjeng Nabi Muhammad untuk mengisi dengan 6 perkara yang lebih baik. Lebih berguna dunia dan akhiratnya.

Pertama, jika kita sudah tahu sesuatu itu kurang baik maka akan lebih baik jika kita tinggalkan. Jika bukan urusannya lebih baik tidak ikut mengurusi. Lebih baik ditinggalkan jika itu nantinya malah menjadikan maksiat dan dosa.

Kedua, jika kebanyakan orang sibuk dengan keutamaan-keutamaan yang sifatnya sunah maka perlu diutamakan mengerjakan yang wajib.

Contoh untuk kaum hawa, berdandan ketika hendak keluar rumah namun tidak berdandan saat di rumah. Dalam hukum fiqih disebutkan, jika hendak keluar rumah lebih utama berdandan yang seperlunya saja. Namun jika berdiam diri di rumah saja maka hendaknya berdandan dengan lebih baik untuk suaminya.

Berdandan saat hendak keluar rumah bisa berhukum sunah. Sedangkan berdandan di rumah yang menjadikan suami lebih betah di rumah, bisa berhukum wajib. Seperti ini hukumnya bisa berubah-rubah. Tergantung situasi dan kondisi masing-masing. Banyak orang yang mengabaikan aturan ini. Saat keluar rumah berdandannya berlebih, ketika tinggal di rumah malas berdandan.

Ketiga, saat kebanyakan orang sibuk menghias diri secara dhahir, kita diminta menyibukkan dengan tata batin. Seseorang dinilai Allah bukan hanya yang nampak mata saja. Namun yang tidak nampak mata juga dinilai. Apa yang ada di dalam hatinya.

Berdandan juga bisa merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Tetapi berdandan ini tidak bisa serta merta mengangkat derajat seseorang. Apabila berdandan tidak dibarengi dengan akhlak yang baik.

Contoh mudahnya, berdandan tapi menerima tamu dengan wajah yang kecut. Lebih baik dandanannya biasa saja tapi saat menerima tamu bersikap ramah, tersenyum.

Pointnya di sini, dalam hidup bermasyarakat perlu ada ikatan batin. Tidak hanya dhahirnya saja. Secara batin kita perlu terus berupaya menjalankan kebaikan dengan dilandasi ketulusan. Artinya jangan sampai hanya fokus mengejar penilaian dhahir saja. Perlu terus belajar untuk menyeimbangkannya.

Keempat, ketika kebanyakan orang sibuk mencari aib dan menilai orang lain, kita diminta sibuk mencari kekurangan diri sendiri. Menilai orang lain jelas lebih gampang tapi menilai diri sendiri lebih sulit. Maka ketika kita menuntut ilmu, hakikatnya seperti orang sedang bercermin. Kadang materi yang dikupas menyinggung kita.

Mencari ilmu membahas aturan. Jika kita pada posisi belum sesuai dengan aturan tersebut, maka kita harus berupaya untuk membenahinya. Demikian juga saat ada teman yang mengingatkan kita, mestinya kita terima dengan senang hati. Bukan malah menjadi marah.

Menilai orang lain tidak akan ada habisnya. Karena manusia dicipta Allah pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Orang yang pintar menilai orang lain otomatis kurang pintar menilai diri sendiri. Karena tidak sempat.

Bahayanya jika suka menilai orang lain, apa yang disimpulkan berpotensi tidak seperti yang sebenarnya. Sebab kita tidak tahu persis yang sebenarnya. Kita tidak tahu sampai ke dalam-dalamnya.

Sebenarnya menilai orang lain itu tidak gampang. Itulah baiknya untuk tidak mudah menilai orang lain. Takutnya penilaian kita salah. Suka menilai orang lain dampaknya kurang bagus. Bisa berbuah jadi fitnah dan ghibah.

Kelima, ketika kebanyakan orang sibuk mengurusi dunia dan tidak sempat mengurusi kepentingan akhirat, kita diminta menyibukkan urusan dunia tapi demi kepentingan kita di akhirat kelak.

Bekerja sudah pasti bagus tapi jangan sampai melupakan ibadah. Ibadah sholat diantaranya. Allah sudah sedemikian rupa membagi waktu. Waktu yang paling baik untuk istirahat adalah malam hari. Sedangkan untuk bekerja di siang hari.

Ada waktu untuk bekerja, ada jadwalnya sendiri. Lembur boleh. Tapi tubuh juga perlu istirahat. Juga perlu diperhatikan.

Dalam tubuh kita sudah diberi signal. Perlu dijaga, jangan sampai rusak. Jika rusak pasti akan berdampak tidak baik. Setiap kita pasti mengalami capek dan ngantuk. Itu tandanya sudah perlu istirahat. Mengantuk adalah signal dan itu adalah anugerah dari Allah.

Demikian juga saat tubuh kita sudah membutuhkan cairan. Maka Allah sudah menghadirkan rasa haus. Kecuali saat puasa, jika sudah haus sebaiknya lekas mengambil air minum.

Semua sudah diatur sedemikian rupa. Jangan sampai kita nekat. Saatnya makan kita suka menunda-nunda makan. Bisa berakibat kurang baik ke depannya. Ada waktu yang harus dipatuhi. Ada waktu untuk bekerja, istirahat, keluarga dan bermasyarakat. Semua perlu diatur agar seimbang.

Keenam, ketika kebanyakan orang mencari penilaian dari orang lain, kita diperintahkan untuk mencari penilaian dari Allah. Kita tidak perlu pusing atas penilaian orang. Kalau sudah punya niat baik, biarkan saja jika ada yang mencibir. Jika yang mencibir ternyata benar, hitung-hitung itu untuk mengingatkan kita.

Jika yang dicibir orang lain ternyata salah, tidak seperti kenyataan, lebih baik kita doakan saja. Semoga dosanya diampuni. Yang utama adalah bagaimana mencari nilai yang baik dari Allah. Dalam ibadah dan pergaulan yang akan menjadi kunci keberhasikan amal kita jika beramal karena Allah semata. Ini yang akan selamat.

Orang jika beramal karena Allah tidak bakal kena penyakit. Jika beramal karena manusia akan benyak resikonya. Banyak penyakitnya. Namanya orang banyak, pasti ada yang suka, ada juga yang tidak suka. Ada yang memperhatikan, ada juga yang mengabaikan. Jika kita berfokus terhadap penilaian orang lain, kita akan sengsara.

Harus dihindari, dalam pergaulan, bermasyarakat dan ibadah-ibadah mahdoh, niatnya hanya karena tidak enak hati dengan teman. Harus diawali dari kesadaran sendiri. Orang yang berbuat baik karena kesadaran sendiri dibanding dengan yang bukan karena kesadaran sendiri, hasilnya pasti akan beda.

Jika beramal bukan karena Allah ujungnya pasti rugi. Beramal karena manusia menandakan jiwanya terkena penyakit. Penyakitnya orang munafik. Orang yang beramal karena Allah ciri-cirinya adalah ketika dia dipuji biasa, jika dihina juga biasa.

Dhahirnya dirawat, batinnya juga dijaga. Jangan sampai kita menghormati orang lain karena tata dhahirnya saja. Ini tidak boleh. Tidak boleh menghargai orang karena pakaiannya saja.

Seorang sahabat bertanya kepada Kanjeng Nabi Mihammad, “Wahai Nabi, bagaimana agar hidup kita mendapat ridla Allah?”

Kanjeng Nabi balik bertanya ke sahabat tadi, “Saat ini apakah engkau ridla ke Allah?

“Ya Nabi, aku ridla”, jawab sahabat tersebut.

“Jika kita ridla atas pemberian Allah berarti Allah ridla ke kita”, papar Kanjeng Nabi.

Sikap yang terbaik, apapun pemberian dari Allah harus diterima dengan hati yang gembira.

Add Comment