Sumber Kebersihan Jiwa

(Foto: Pinterest.com)

Sumber dari ilmu tasawuf, sumber dari kebersihan jiwa, sumber dari sehatnya hati kita yang pertama adalah al imanu billah. Mempunyai keyakinan dan keimanan kepada Allah. Tingkat keimanan itu bermacam-macam. Bagi orang yang sudah sampai tingkatan menengah ke atas, dalam menjalani hidup di dunia ini dia tidak kagetan. Tidak mudah putus asa. Jika diberi nikmat juga tidak mudah lupa diri. Tidak lupa ke teman dan keluarganya. Tidak lupa pula ke yang memberi nikmat yakni Allah.

Sebuah kisah untuk menggambarkan penjelasan di atas, di Arab Saudi ada seorang ulama bernama Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, meninggal tahun 2004. Beliau ini seorang doktor lulusan dari al Azhar Mesir. Santrinya kebanyakan dari Indonesia. Beliau menerima santri paling banyak hanya 40 orang saja. Penyaringannya ketat.

Sebelum memutuskan penerimaan santri tersebut, beliau harus istikharah dulu. Harus berpuasa lebih dulu. Meminta wasilah langsung ke Kanjeng Nabi Muhammad. Sebab beliau cucu Kanjeng Nabi. Hanya yang mendapat ‘lampu hijau’ dari Kanjeng Nabi saja yang bakal diterima. Dengan metode seperti itu maka tidak heran jika semua santri beliau banyak yang jadi orang hebat.

Suatu saat beliau diutus oleh Kanjeng Nabi lewat mimpi, agar berdakwah pertama kali ke Indonesia. Sekitar tahun 1982. Saat itu beliau belum dikenal di Indonesia. Dari beberapa kejadian di Indonensia diantaranya adalah beliau meminta tolong ke murid seniornya yang sekarang ini mengasuh Pesantren di Kujon Malang. Dia diminta untuk menemani Sayyid Muhammad Alawi al Maliki. Saat itu beliau membawa uang sebanyak 2 koper. Untuk apa uang sebanyak itu? Hendak disedekahkan.

Ternyata dana tersebut tidak sembarangan langsung diberikan ke beberapa lembaga. Harus melalui serangkaian penelusuran. Ternyata juga ada ilmunya. Daerah yang pertama kali dituju adalah Bogor. Di sana ada sebuah pesantren yang santrinya hanya sedikit, namun bangunannya luar biasa besar. Ada beberapa bagian bangunan yang belum selesai, diantaranya lantai 3 dan 4.

Sayyid Muhammad Alawi bertanya, “Berapa banyak santrinya saat ini?’.

Dijawab oleh murid seniornya, “Jumlah santrinya 50 anak”.

Sayyid Muhammad Alawi kembali bertanya, “Mengapa santrinya hanya 50 anak, tapi bangunnanya luar biasa besar dan luas?”.

Dijawab oleh murid seniornya lagi bahwa hal tersebut didasari rasa optimis dan percaya diri. Yang penting bangunannya luas dan bagus dulu.

Akhirnya Sayyid Muhmmmad Alawi memutuskan untuk cabut diri dari pesantren tersebut. Beliau tidak jadi bersedekah di pesantren tersebut.

Murid seniornya bertanya, “Kenapa tidak jadi menyumbang Sheikh? Pesantren tersebut khan butuh dana untuk menyelesiakan bangunannya?”.

Jawab Sayyid Muhammad Alawi, “Pola pikir dari pengasuhnya kurang sehat. Apakah dia bisa menjamin jika kamarnya ratusan buah, lalu santrinya bisa memenuhi kamar tersebut? Seperti itu tidak boleh”.

Akhirnya beliau jalan mencari tempat lain, keliling sampai kota Batu. Di sana bertemu dengan seorang pengusaha yang sudah membebaskan lahan seluas 2 hektar. Kesemuanya merupakan perkebunan apel. Masih ada lahan seluas 2 hektar lainnya. Beliau bertanya, “Ini rencana untuk apa?”

Dijawab oleh sang pengusaha tadi, “2 hektar ini rencananya untuk pesantren, yang 2 hektar sisanya untuk perkebunan apel. Perkebunan apel itulah yang nantinya untuk menghidupi pesantren”.

Akhirnya Sayyid Muhammad Alawi memilih meninggalkan tempat itu. Ketika muridnya bertanya, “Kenapa wahai Syeikh koq tidak cocok?”

Sayyid Muhammad Alawi menjawab, “Pengelola pesantren itu tawakalnya ke Allah kurang. Mereka lebih bertawakal ke perkebunan apel dari pada ke Allah”. Tawakal yang seperti itu menurut Sayyid Muhammad Alawi tidak boleh. Berarti itu melupakan Allah.

Ketika kita mencari rejeki namun tidak ingat Allah dulu, itu bermasalah. Berarti melupakan yang memberi rejeki. Kita sering lebih mengandalkan tenaga dan fikiran kita. Padahal itu hanya sarana saja. Sangat terbatas. Ada yang mengatur dan memberi rejeki yakni Allah.

Alangkah indahnya ketika kita berangkat dan memulai kerja ingat kepada Allah. Sokur jika bisa menjaga sholat dhuha, walaupun hanya 2 rekaat. Doanya yang paling mudah saja, “Yaa Allah, mudahkan hamba menjemput rejekiMu yang halal dan berkah”.

Sumber kebersihan jiwa yang kedua adalah mempunyai keimanan yang mencontoh kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Kanjeng Nabi Muhammad sebagai Rasulullah fungsinya adalah mengajar. Beliau mendidik umatnya. Beliau juga seorang santri, murid. Beliau diajar oleh malaikat Jibril. Malaikat Jibril langsung dari Allah.

Beliau juga sebagai kepala rumah tangga. Punya istri dan anak. Beliau juga punya usaha, seorang pedagang. Beliau juga seorang panglima perang. Beliau juga sebagai pemimpin agama. Semua dicontohkan oleh Kanjeng Nabi. Seseorang yang sudah beriman ke Allah dan mengikuti Kanjeng Nabi Muhammad maka secara kejiwaan dia akan sehat.

Sumber kebersihan jiwa yang ketiga, dia mempunyai sifat yakin. Keyakinan akan menumbuhkan semangat dalam ibadah.

Melakukan apa saja harus didasari keyakinan. Tidak boleh ada keraguan. Ketika kita beramal baik yakin pasti akan dibalas Allah. Orang-orang terdahulu melakukan amal baik karena yakin dibalas Allah. ‘Becik ketitik ala ketara, sing nandur bakale ngundhuh’ mereka pegang kuat karena dasarnya keyakinan.

Sekarang banyak yang kurang melakoni ini. Buktinya, banyak yang tidak mempedulikan rejeki yang halal dan haram. Mengambil yang bukan haknya. Karena dia tidak punya keyakinan. Mengambil sesuatu yang bukan haknya akan menyengsarakan dirinya sendiri. Dunia dan akhirat.

Keempat, ciri orang yang mempunyai jiwa sehat adalah jika setelah melakukan kesalahan di dalam hatinya dia menyesal. Jadi kalau ada orang yang melakukan kesalahan malah bangga itu adalah alamat jiwanya sudah mati. Jiwanya berpenyakit parah. Orang yang terbiasa melakukan kejelekan dan dosa, sifat malunya sudah dicabut oleh Allah.

Kelima, orang yang jiwanya sehat adalah dia yang punya sambung dengan Allah. Ibarat listrik strumnya nyambung dengan sumber listrik. Di ilmu tasawuf, bacaan yang perlu terus dijaga adalah laa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.