Orang yang Diperintah Allah adalah Orang yang Terpilih

(Foto: Pinterest.com)

Ada hikmah terkait dengan aturan Allah. Sekian banyak makhluk ciptaan Allah ternyata tidak semuanya harus menjalankan terhadap aturan Allah. Mereka dipilih oleh Allah, contohnya para malaikat.

Malaikat tidak harus melakukan aturan yang Allah tetapkan untuk manusia. Malaikat yang diperintah Allah untuk bertakbir, maka dia akan terus bertakbir. Malaikat yang diperintah untuk rukuk, maka dia pun terus rukuk. Yang diperintah untuk bertasbih maka malaikat tersebut akan terus bertasbih.

Malaikat di Baitul Makmur yakni Ka’bah di langit Sidratul Muntaha, Ka’bah di langit yang lurus dari Ka’bah yang di dunia. Setiap hari sekian ribu malaikat yang tawaf lalu masuk ke Baitul Makmur dan mereka tidak keluar lagi sampai datangnya hari Kiamat.

Berapa jumlah persisnya hanya Allah saja yang mengetahui. Jumlah manusia yang dicipta Allah di dunia ini termasuk sedikit jika dibandingkan dengan setan. Jumlah setan lebih banyak daripada manusia. Demikian juga dengan malaikat. Lebih banyak dari pada manusia.

Manusia memang dibuat istimewa oleh Allah. Tapi apakah semua manusia diperintah untuk melaksanakan perintah Allah? Ternyata juga tidak. Di sini juga ada seleksinya. Hanya orang yang beriman dan Islam saja. Yang harus menjalankan aturan dari Allah periode Nabi Muhammad SAW.

Ada perintah sholat dan puasa hanya bagi Islam dan beriman saja. Di luar orang Islam dan beriman tidak ada kewajiban dari Allah. Jadi saat Ramadhan orang yang bukan muslim boleh makan dan minum karena dia memang tidak terkena aturan untuk berpuasa.

Maka kalau kita jadi orang Islam dan beriman itu sudah melalui sekian seleksi dari Allah. Yang sudah dipilih Allah. Ini termasuk anugerah yang agung yang harus kita syukuri. Sebab jika iman dan Islam tidak disyukuri, dikhawatirkan ketika kita akan dipanggil Allah iman dan Islam kita akan lepas. Karena kurang bisa mensyukurinya.

Allah melakukan seleksi lagi. Apakah orang yang beriman dan Islam ini semua menjalankan perintah Allah? Ternyata juga tidak. Kira-kira apakah ada, orang beriman dan Islam tapi tidak menjalankan sholat 5 waktu? Jawabnya ada dan bisa jadi jumlahnya juga banyak. Kadang menjalankan sholat tapi tidak berpuasa Ramadhan. Sebaliknya, ada juga yang berpuasa tapi tidak menjalankan sholat. Ini juga termasuk seleksi.

Sudah beriman, Islam dan sudah menjalankan perintah Allah apakah semua menjalankannya dengan ketulusan dan dengan senang hati? Ternyata juga tidak. Kebanyakan kita, apakah saat sholat hati kita merasa bahagia?

Belum tentu, saat pekerjaan padat sholat kadang dianggap sebagai gangguan. Sering merasa tanggung dan keberatan untuk meninggalkan pekerjaan. Mengerjakan sholat bukan dengan hati yang gembira tapi lebih banyak dengan ketergesa-gesaan. Yang penting sudah sholat. Hal seperti ini perlu dibenahi.

Apakah dengan menjalankan perintah Allah diberikan kelebihan dan kenikmatan dari Allah? Ternyata tidak. Kenikmatan dalam ibadah adalah anugerah tertinggi dari Allah. Sayyidina Ali RA saat perang dan kaki beliau terkena panah, beliau minta untuk dicabut panahnya ketika sedang melakukan sholat.

Karena maqamnya sudah luar biasa. Saat sholat mampu merasakan kenikmatan luar biasa. Sehingga saat panah dicabut beliau tidak merasakan sakit sama sekali.

Hal seperti itu adalah anugerah Allah. Khusyu’ adalah pemberian Allah. Jadi kalau kita mengusahakan khusyu’ dipastikan tidak akan mudah mendapatkannya. Banyak saudara kita yang memburu khusyu’ sehingga bertakbiratul ihram sampai diulang beberapa kali.

Hal seperti ini hendaknya dihindari. Bukannya khusyu’ yang didapat, malah yang datang adalah penyakit was-was. Yang menjadi makmum tentu akan susah.

Sebenarnya, siapa yang akan diberi khusyu? Yaitu orang yang hatinya sudah berserah diri total ke Allah. Ini termasuk kuncinya. Jangan berfikir macam-macam. Lebih baik seluruh masalah hidup kita serahkan ke Allah. Tidak ada yang bisa menyeselesaikannya kecuali Allah. Setelah itu Allah akan memberi sifat tenang, tentram dan akhirnya datanglah khusyu’.

Menurut ulama fiqih, saat sholat hendaklah dilakukan dengan senyaman mungkin. Jangan sampai menahan untuk buang air besar, atau menahan lapar. Jangan juga perut dalam keadaan kekenyangan.

Diposisikan tubuh dalam posisi nyaman. Itulah mengapa saat berpuasa kita disunahkan untuk berbuka puasa terlebih dulu. Baru melaksanakan sholat. Kaidahnya sederhana, lebih baik saat berbuka puasa kita ingat sholat dari pada saat melakukan sholat tetapi ingat berbuka.

Pemberian Allah tidak dapat direka-reka. Kalau kita belum bisa berserah diri total ke Allah maka tidak mungkin hidup kita akan merasa tentram. Karena kalau kita tidak berserah diri ke Allah, secara kejiwaan kita merasa bisa menyelesaikan urusan kita sendiri. Ini yang keliru. Merasa punya kemampuan.

Maka termasuk penyakit bagi orang -orang yang diberi kemudahan hidup yang serba cukup dia kadang diberi kesulitan bisa merasakan pertolongan Allah. Hampir mayoritas. Tengoklah di masyarakat. Siapa yang lebih rajin sholat berjama’ah? Kebanyakan mereka adalah orang yang secara ekonominya pas-pasan. Di jaman Kanjeng Nabi Muhammad juga seperti itu.

Dulu saat Habib Anis, seorang ulama dari Solo masih ada, bagi jama’ah yang punya usaha, maka beliau meminta agar sesekali saja untuk hadir di majelis beliau. Tidak harus rutin tetapi malah diminta untuk membantu menjamin kebutuhan dari majelis taklim tersebut.

Dengan begitu, dia akan mendapat pahala sebanyak yang hadir di majelis tersebut. Walaupun dia sendiri tidak mengikuti kajian tersebut.

Setelah mengalami beberapa tahapan seleksi, semoga kita termasuk orang yang sudah menjalankan perintah Allah dengan senang hati. Dan diberi ketentraman oleh Allah. Jika sudah mampu seperti itu maka tingkatan kita sudah termasuk bagus.

Orang yang diperintah Allah adalah orang pilihan. Kalau orang yang sudah dipilih namun tidak mau menjalankan itu termasuk pembangkangan yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, saat kita diperintah oleh seorang presiden maka bisa dipastikan bahwa kita termasuk orang yang luar biasa. Tidak semua orang terpilih seperti itu. Hanya tertentu saja.

Ketika kita diberi Al Qur’an maka itu termasuk PR. Semua ada aturannya. Al Qur’an adalah surat dari Allah. Kalau digambarkan seorang presiden memberi surat kepada seorang gubernur, maka dipastikan surat tersebut akan dibaca.

Misalnya presiden memerintahkan sang gubernur untuk mencari tanah guna dipakai suatu proyek. Maka sang gubernur tidak cukup hanya dengan membacanya lantas digeletakkan di atas meja begitu saja. Tidak menjalankan apa yang diperintah oleh presiden. Dipastikan surat tersebut dibacanya dan dilaksanakan apa yang diperintah presiden tadi.

Jangan sampai sudah menerima surat, sudah membacanya, namun tidak dilaksanakan perintahnya. Dipastikan sang gubernur tadi akan dipanggil oleh presiden. Dia pasti akan terkena masalah karena tidak menjalankan apa yang menjadi perintah sang presiden.

Maka orang Islam yang sudah diberi al Qur’an harus dipahami itu sebagai anugerah. Mestiya dibaca, lantas melaksanakan apa yang menjadi perintahnya. Jika mampu seperti itu kita akan diberi keberkahan oleh Allah.

Jangan sampai kita berkecil hati jika selama ini kita belum bisa bahagia. Karena harus diakui bahwa apa yang sudah menjadi perintah Allah, kita belum melaksanakannya dengan baik. Masih harus terus dibenahi. Dari sisi apa saja. Contohnya dari sholat kita. Ketika kita akan menghadap Allah mestinya sungguh-sungguh. Bukan sembarangan dan ala kadarnya.

Sebelum sholat kita harus berwudlu terlebih dahulu. Jika kita berwudlu paling tidak harus paham syarat-syaratnya wudlu. Selanjutnya harus paham tata cara berwudlu. Jika kita membasuh air ke wajah kita perlu diniati itu untuk membersihkan wajah dan yang ada di dalamnya. Agar bersihnya maksimal. Ini berbeda dengan hanya cuci muka biasa.

Selanjutnya harus bisa membedakan mana yang wajib dan tidak wajib. Membasuh telinga tidak wajib. Jika tidak dibasuh juga tetap sah. Berkumur juga tidak wajib kecuali setelah makan makanan yang ada rasanya yang ketika sholat bisa menelan ludah masih ada rasanya.

Maka kalau sholat setelah makan makanan yang berbau menyengat hukumnya makruh. Sebaiknya dihindari.

Selanjutnya niatnya tidak boleh diputus. Sholat juga demikian. Contohnya saat ada ziarah bareng-bareng dengan rombongan. Niatnya kalau nanti temannya datang akan diputus. Ketika baru sampai membasuh tangan dan rombongannya sudah datang maka wudlunya jadi batal.

Sholat juga demikian. Menanti rombongan yang belum datang lalu kita sholat dapat 1 rekaat. Tiba-tiba rombongan yang ditunggu sudah datang maka batallah sholat kita.

Jika kita berwudlu sebaiknya air yang dipakai untuk membasuh adalah air yang mengalir kecuali kalau ditempat yang memang sulit untuk mendapatkan air. Hanya dipegang dan diusap saja sudah sah. Air mengalir dimaksudkan jika ada kotoran bisa langsung lewat.

Saat membasuh bagian-bagian yang sulit terkena air maka diusahakan air bisa menjangkaunya. Contohnya di sela-sela jari dan telinga. Utamanya yang suka memanjangkan kuku. Bagi yang suka memakai jam tangan dan cincin sebaiknya juga dilepas dulu.

Agar dipastikan seluruh bagian jari terkena air. Upaya ini dimaksud agar apa yang menjadi ketentuan pokok saat berdialog langsung dengan Allah bisa terpenuhi dengan baik.