Ketaqwaan, Satu-satunya Ukuran Kemuliaan di Sisi Allah

(Foto: Pinterest.com)

Dalam al Qur’an Surah Ali Imron ayat 102 dan Al Hujurat ayat 13, Allah menciptakan manusia dengan berbagai bentuk, suku, warna kulit, budaya dan bahasa. Tujuannya agar satu sama lain bisa mengambil manfaat, pelajaran, bisa bekerja sama dan saling tolong menolong.

Maka di Indonesia ini termasuk luar biasa karena dengan berbagai keberagamannya sudah mampu menunjukkan bahwa dengan keberagaman itu bisa rukun dan damai.

Ayat ini juga menerangkan kaitannya dengan kasih sayangnya Allah. Ayat yang menerangkan bahwasannya ketaqwaan adalah hal yang inti bagi kita sebagai muslim, umatnya Nabi Muhammad SAW.

Sehingga dalam khotbah Jum’at sang khotib harus menyebut berwasiat bertaqwa kepada Allah. Memakai kata wasiat, karena merupakan sesuatu yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ditinggalkan.

Di beberapa ayat lainnya Allah juga menerangkan bahwa inti ketaqwaan itu tidak dimaknai dengan takut. Jadi kalau selama ini kita sering memahami bahwa taqwa identik dengan takut ke Allah maka perlu dikaji ulang.

Karena Allah itu tidak menakutkan. Kata takut ke Allah itu aslinya bukanlah seperti kita takut ke sesuatu yang menakutkan. Istilah yang lebih tepat adalah ketaatan.

Wujudnya dengan menjalankan perintah dan meninggalkan laranganya. Ini bagi orang yang sudah punya keimanan. Karena ayat ini kaitannya dengan taqwa dan iman. Menjalankan perintah Allah itu harus dengan senang hati, dengan ringan.

Tidak merupakan beban. Kalau kita puasa Ramadhan, kita bermohon kepada Allah agar dalam berpuasa kita tetap semangat, dengan hati yang gembira. Jangan sampai puasa Ramadhan rasanya berat dan menjadi beban.

Secara dhahir puasa memang berat. Apalagi bagi kita yang bekerja di kondisi panas, tidak boleh makan minum. Perjuangannya luar biasa. Keimanan akan menjadikan berat jadi ringan, sulit jadi gampang.

Semakin keimanan seseorang tinggi makin dia mendapatkan rasa yang diringankan oleh Allah. Karena iman itu bertingkat, maka kita perlu terus memupuk agar iman kita semakin meningkat. Salah satu caranya adalah dengan mengaji, menuntut ilmu.

Perintah Allah bisa jadi berat untuk dilakukan. Namun seberat apapun pasti ada manfaat yang luar biasa, dunia maupun akhirat. Dhahir dan batin juga. Sholatpun dalam al Qur’an disebutkan sebagai perintah yang berat.

Apalagi kalau tidak berjama’ah. Kalau boleh dipangkas pasti jumlah rekaatnya ingin dipangkas. Allah sudah mendesain sedemikian rupa jumlah rekaat sholat Shubuh hanya 2 rekaat saja. Umpama lebih dari 2 rekaat pasti akan terasa lebih berat lagi.

Ketaqwaan yang menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah. Dalam al Qur’an ini kemulian dan derajat yang paling tinggi adalah yang paling bertaqwa. Ini bentuk kasih sayang dari Allah.

Para ahli tafsir memahami bagaimana keterangannya. Mengapa yang dipakai yang paling taat, tidak pakai yang paling pintar. Seandainya yang pakai paling pintar maka banyak yang tidak bakal masuk. Kita bukan termasuk ulama, cendekiawan. Hanya orang biasa saja. Orang awam.

Orang yang punya ilmu kewajibannya juga berat. Harus dilakoni, harus mau ngajari yang belum bisa. Seperti ini termasuk anugerahnya Allah. Berarti ilmu bukan menjadi ukuran..

Ukuran untuk derajat paling tinggi lainnya bukan pangkat dan kedudukan. Kalau ukuran di sisi Allah untuk mencapai surga adalah yang tinggi pangkatnya, maka hanya orang tertentu saja yang masuk kategori tersebut.

Jika ukurannya dari kekayaan maka banyak orang yang tidak masuk. Ilmu, pangkat dan kekayaan akan menjadi faktor yang menentukan posisi di sisi Allah jika dipakai untuk bertaqwa ke Allah.

Orang biasa yang tidak tahu banyak hal atau lugu acap kali justru berpeluang jadi orang mulia. Bisa menyalip lainnya. Karena orang lugu fikirannya tidak macam-macam.

Inilah bentuk kasih sayang ke hambanya. Berarti Allah tidak membeda-bedakan hambanya. Siapapun dia kalau memang taat ke aturannya Allah dia akan masuk kategori mulia. Kalau seperti ini kita bisa masuk.

Karena orang yang taat ke aturan hidupnya akan bersinar di dunia dan akhirat. Dia tidak akan membawa beban dalam hidupnya. Hidupnya akan diberi nyaman. Ada pertanyaan apa saja bisa menjawab. Bekerjamu seperti apa, dibelanjakan untuk apa semua bisa dijawab.

Ini yang pertama, kemuliaan di sisi Allah dilihat dari ketaatannya itu bentuk kasih sayang Allah. Berarti Allah tidak membeda-bedakan satu dengan lainnya. Beda satu dengan lainnya merupakan ujian dan cobaan.

Diterangkan oleh Allah terkait dengan ketaqwaan Allah akan menjaga dan menolongi. Orang yang baik hidup dan keluarganya insya Allah bakal dijaga dan ditolong Allah. Orang kalau tidak bersalah bakal ditolong Allah.

Tapi kalau kita pada posisi salah harus hati-hati. Jangan sekali-kali merasa benar sendiri atau tidak merasa bersalah atau nekat. Yang bisa menjadi sebab seseorang hidupnya sengsara adalah hal yang nyata-nyata salah tetap dilakoni.

Yang pertama, orang yang berusaha taat kepada Allah bakal ditolong Allah. Kalau kita berniat menjaga sholat dan puasa kita bakal diberi kekuatan oleh Allah. Kepepetnya memang betul-betul tidak kuat lagi maka apabila membatalkan puasa sudah tidak berdosa lagi. Tapi tetap dihitung dan diganti di luar bulan Ramadhan karena tetap dihitung sebagai hutang.

Kalau kita benar-benar berusaha jadi baik maka yakinlah hidup kita akan ditolong Allah. Bisa saja rejeki kita tidak banyak namun insya Allah berkah. Jadi pedagang yang jujur timbangannya, bisa jadi untungnya tidak banyak namun itu yang akan dapat ridla Allah, dunia akhirat. Itu akan jadi jalan Allah memudahkan jalan rejeki lainnya.

Diberi sehat mungkin. Anak-anaknya soleh solehah mungkin. Semakin tambah rejeki makin tambah berkah.

Akan beda jadinya kalau dapat rejeki banyak dengan curang timbangannya. Semakin banyak pembeli semakin banyak dosanya. Semakin banyak rejekinya malah semakin dicabut keberkahannya. Ini yang harus kita hati-hati.

Orang yang benar-benar taat kepada Allah selain dijaga dan ditolong juga akan diberi pengetahuan. Pengetahuan di sini diantaranya adalah kesadaran. Kita jadi orang baik dan akan sempurna kebaikannya jika kebaikan kita didasari dengan kesadaran kita sendiri. Kesadaran yang timbul diantaranya kebaikan itu bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diri sendiri.

Ada orang baik bukan karena kesadarannya. Namun karena tidak nyaman dengan temannya. Untuk pemula menurut ahli fiqih seperti ini hukumnya boleh. Contoh kecilnya, ikut kajian karena tidak enak dengan temannya, yang penting berangkat dulu.

Jadi menuntut ilmu karena malu dengan temannya bukan karena kesadaran sendiri hasilnya akan beda. Kalau orang yang menjadikan dia sungkan masih berangkat, dia masih berangkat. Begitu dia tidak berangkat ikut tidak berangkat.

Kesadaran termasuk ilmu yang diberi oleh Allah untuk hambanya. Kesadaran sudah tidak berfikir masalah upah. Jika masih berfikir tentang upah, tingkatan ibadahnya masih mencari upah. Umpama tidak diberi upah bisa saja tidak ibadah lagi. Seperti inipun masih dihargai Allah sehingga Allah memberi iming-iming.

Begitupun dengan bekerja. Jika didasari dengan kesadaran akan nyaman. Jika bekerja sama dengan orang lain dilakukan dengan kesadaran kewajibannya dikasanakan dengan sebaik-baiknya maka akan sama-sama nyaman.

Orang yang sungguh-sungguh taat kepada Allah, insya Allah dalam melakukan apapun didasari dengan kesadaran. Sehingga hatinya akan tentram. Bekerja, menafkahi keluarga, bermasyarakat, didasari dengan kesadaran bahwa ini memang perintahnya Allah. Rukun, tolong menolong, menjauhi pertengkaran juga perintah Allah.

Orang yang sungguh-sungguh Allah akan memberi anugerah bisa membedakan dan merasakan. Orang itu kalau sudah terbiasa jujur, sekali diajak tidak jujur dalam hati akan tidak nyaman. Sudah terbiasa mencari rejeki yang halal koq diajak menipu dalam hati pasti sudah tidak bisa menerima.

Yang sudah terbiasa baik pasti merasa kasihan dengan yang punya pekerjaan. Dia juga kasihan kepada diri sendiri dan kasihan kepada keluarga yang dirumah karena diberi rejeki yang tidak halal.

Sudah dibela-belian bekerja dengan berat, ujungnya tidak mendapat pahala malah mendapat dosa. Dosa sama dengan penyakit. Orang yang melakoni dosa tidak mungkin hidpnya nyaman. Dunia sampai akhirat.

Yang dikejar hanya ingin mendapat hasil banyak. Ini namanya orang yang tertipu. Dunia ini kalau tidak hati-hati maka banyak orang yang akan tertipu. Sama seperti saat kita menonton televsi. Ada sinetron atau film yang membuat kita tidak sadar bahwa kita sedang ditipu.

Ada adegan bertengkar sampai menangis histeris kita ikut menangis. Padahal para pemain sinetron tersebut setelah selesai syuting mereka makan bersama. Kita sebagai penonton masih mikir besok episode berikutnya seperti apa yang bertengkar tadi. Seperti itu kita termasuk tertipu.

Seperti itulah kehidupan ini. Kalau kita tidak sungguh-sungguh, tidak mengikuti aturannya Allah hidup kita sudah tertipu. Contoh riilnya ketika ada orang memindah batas tanah tetangganya maka dia termasuk orang yang tertipu. Hanya dengan harapan dapat lebih luas. Padahal hanya beberapa meter saja.

Sepertinya dapat lebih tapi yang didapat malah hilangnya keberkahan. Sampai akhirnya dicoba Allah sakit. Diperiksakan ke mana-mana tidak ditemukan sakitnya, hasil curangnya yang hanya beberapa meter saja tadi sudah terjual untuk berobat.

Uangnya habis namun penyakitnya masih. Belum kelak harus bertanggung jawab di akhirat. Sampai anaknya mengeluh, ketika semuanya habis terjual baru meninggal.

Semoga kita tidak jadi orang yang tertipu. Harus lebih hati-hati. Apabila kita tahu itu tidak baik mending kita tinggalkan dengan kesadaran. Insya Allah keluarga diberi keberkahan.