Jangan Sombong

(Foto: Pinterest.com)

Takabur atau sombong cirinya dia menyepelekan terhadap hamba-hamba Allah yang lain. Menyepelekan orang dengan segala bentuknya tidak boleh. Seperti apapun bentuk manusia dia dimuliakan Allah.

Jadi ciri orang yang takabur yang pertama, suka menyepelekan orang lain. Kedua, kalau diingatkan membantah. Ketiga, merasa lebih dari yang lain. Bisa lewat ucapan, perbuatan, tingkah laku.

Kalau menasihati orang sombong tidak perlu panjang lebar. Dalam bahasa Jawa ada beberapa nasihat yang bagus. Diantaranya ‘aja dumeh’. Ada lagi ‘ngono ya ngongo ning aja ngono’.

Di tengah masyarakat, jika kita mencari ilmu yang secara dhahir tidak ditemukan secara tertulis. Yang banyak adalah ilmu yang sudah digelar Allah.

Di Ploso, mbah Kiai Djazuli punya anak namanya Gus Hamim, panggilannya Gus Miek. Sejak kecil sudah nyleneh. Diminta ngaji tidak mau. Senengnya dolan saja. Tapi karena anak Kiai tetap jadi orang hebat.

Umur 9 tajun sudah keluar dari pondok. Sudah tidak kerasan ngaji. Tapi ilmunya mengalahkan santri-santri lainnya. Kalau ayahnya sedang mengajar, dia malah main bola. Sambil juga mendengarkan. Pernah suatu ketika dia menendang bola sampai mengenai kitab ayahnya. Kitabnya jadi kocar-kacir.  Iapun dimarahi ayahnya. Dijawabnya, “Sudahlah Bah biar aku saja yang mengajar”.

Ternyata lancar. Ternyata dia diberi kelebihan oleh Allah. Kurang lebih kisahnya seperti Sunan Kalijaga. Kecilnya nakal, karena dia anak dari pejabat yang hidup serba berkecukupan. Tidak pernah kekurangan apapun, minta apa saja dipenuhi.

Raden Sahid, nama kecil Sunan Kalijaga merasakan tidak nyaman dengan hidup seperti itu. Hidup seperti itu bukan menjadi tujuannya. Hebatnya apa, hidup menjadi anak bupati, serba dihormati. Tapi dia melihat di tengah masyarakat banyak yang kelaparan.

Saat itu para demang rutin memberi upeti kepada Bupati Walikota. Raden Sahid mengintai. Ada seorang demang yang jujur. Setiap memberi upeti, dia tidak pernah mencapai target. Paling sedikit sendiri. Dia dimarahi sang Bupati.

“Bagaimana ini, lainnya upetinya banyak koq kamu selalu paling sedikit? Gertaknya.

Dijawabnya,”Bagaimana lagi pak Bupati, saya melihat rakyat saya menanam pisang. Jika berbuah pisangnya dibawa ke sini. Daunnya yang mereka makan. Menanam jagung pun demikian. Rakyat sudah kelaparan dan kena penyakit. Maafkan saya tidak tega ke mereka. Setoran saya seadanya. Saya siap menerima hukuman”, papar sang demang tersebut.

“Seperti itu hanya alasanmu, buktinya lainnya bisa setor banyak,“ lanjut sang Bupati.

“Begini ndoro, mereka yang bisa setor banyak, nariknya ke rakyat tidak pakai peri kemanusiaan. Sudah mamaksa luar biasa dan mereka lebih mementingkan pujian. Tidak mau tahu kondisi rakyatnya. Rakyat yang seharusnya dimakmurkan tapi ini kebalikannya. Atas kekurangan ini saya siap menerima hukuman” jawab sang Demang.

Raden Sahid mendapat ilmu dari Demang tersebut. Kalau seperti ini sudah tidak benar. Kondisi seperti itu mengusik jiwa Raden Sahid. Sama seperti Gus Miek, anak Kiai besar yang jika minta apa saja bisa kesampaian.

Tapi tidak untuk Gus Miek. Dia tidak puas seperti itu. Kalau Kiai mengajar santri, mengajar yang senang ngaji itu bukan suatu yang hebat baginya. Biasa saja. Karena yang diajar orang yang memang orang yang benar. Suka ngaji. Yang diajar santri yang disuruh apa saja pasti ngikut.

Akhirnya Gus Miek pergi mencari guru yang tingkatannya lebih tinggi Sama seperti dulu Raden Sahid yang mengembara. Dia harus menolong orang miskin dengan mencuri, merampok dan lainnya. Raden Sahid bertemu Sunan Bonang. Sunan Bonang didorong oleh Raden Sahid sehingga terjungkal. Beliau mencabut rumput. Rumput tersebut terangkat yang membuat Sunan Bonang menangis.

Ditanya Raden Sahid, “Kenapa engkau menangis mbah? Kau sakit?

Dijawab oleh Sunan Bonang, “Aku tidak sakit, aku menangis karena rumput yang terangkat itu sebelumnya selalu membaca tasbih. Memuji Allah. Berarti aku mencabut rumput ini dan tidak aku manfaatkan. Aku berdosa ke Allah”.

Akhirnya Gus Miek melalang buana yang disinggahi adalah ulama-ulama sepuh. Beliau lantas melihat tempat-tempat perjudian, lokalisasi. Semua didatangi. Lantas beliau merenung, “Apakah orang seperti ayahku termasuk orang yang sombong? Sudah jadi Kiai, mengajar banyak santri tapi justru dengan orang-orang yang tidak tahu agama, yang mereka juga umatnya Nabi Muhammad, bapakku punya kewajiban untuk mengingatkan mereka. Malah sering dipakai untuk bahan ejekan. Yang suka sabung ayam, berjudi, besok digebuki malaikat di neraka”. Biasanya seperti itu yang umum disampaikan di pesantren.

Lanjut Gus Miek, “Seperti ini tidak boleh, kasihan mereka. Mereka tidak butuh diancam neraka. Namun mereka perlu didatangi, didekati”. Pertanyaannya, siapa yang berani mendekati? Gus Miek berani mengambil langkah ini. Beliau sudah siap dengan segala ilmunya.

Beliau ikut berjudi dan semua bandar kalah. Sampai suatu saat dalam 1 malam, beliau pernah menang dengan uang sejumlah 3 koper. Sebab ilmunya sudah sampai. Akhirnya semua bandar dikumpulkan, “Maumu bagaimana, ini uangmu aku kembalikan tapi mulai saat ini jangan berjudi lagi. Cari kerjaan lain yang halal. Uang ini bisa kamu pakai untuk modal.”

Suatu hari Gus Mik pernah mengajak salah 1 gurunya ke lokalisasi Gang Doly. Sang Kiai gemetar melihat wanita-wanita yang berpakaian minim. Gus Mik berkata, “Mereka ini semua umatnya Nabi Muhammad Kiai, yang akan mengingatkan mereka siapa? Seperti ini  kalau dikatakan bakal menjadi penghuni neraka ya kasihan. Mereka mencari nafkah. Kita tidak bisa mencukupi. Justru orang-orang seperti mereka inilah yang perlu kita perhatikan dan arahkan.”

Termasuk sasaran dakwah Gus Miek adalah para preman. Di tiap kota pasti ada tokoh premannya, didekati. Beliau punya ilmu yang mampu mengubah minuman keras menjadi air tawar biasa. Bahkan racun yang diberikan ke beliau lantas didoakan bisa menjadi tawar. Memang sudah menjadi maqamnya. Allah sudah memilih beliau untuk membenahi wilayah yang belum terjangkau ini.

Apa inti yang kita bahas ini? Jadi orang jangan sombong, merasa baik, merasa suci, merasa paling dekat dengan Allah. Seperti itu justru akan jatuh di sisi Allah.  Dan juga di mata manusia.

Gus Miek tidak mau seperti itu. Karena selama ini mereka hanya dipakai bahan cemoohan ketika pengajian. Mereka digambarkan sebagai orang sesat, yang dikabarkan bakal menjadi penghuni neraka. Seperti itu tidak boleh.

Orang itu kalau sudah jelek, tidak perlu dikatakan jelek. Malah jadi kecewa. Orang kalau suka mengambil milik orang lain, tidak perlu dikatakan sebagai maling. Tidak dikatakan maling wong dia kerjaannya sudah mencuri. Ini kalau versinya Gus Miek. Beliau prihatin terhadap hal yang seperti itu.

Orang yang mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan ajaran Kanjeng Nabi tentu tidak boleh bersikap seperti itu. Mereka sebenarnya perlu dididik, perlu diarahkan. Bukan untuk bahan olok-olok. Kita tidak tahu nasib orang. Kadang saat ini baik, besok berubah jadi tidak baik. Bisa juga sebaliknya.

Gus Miftah, seorang ulama muda dari Yogya mengatakan, surga kelak akan dihuni oleh orang-orang yang berlaku maksiat tapi akhirnya bertaubat. Orang-orang yang merasa suci, merasa ahli ibadah,  justru tidak menempati surga.

Maka sebaiknya biasa-biasa saja. Yang penting terus membenahi diri kita. Tidak perlu  merasa paling baik sendiri. Tidak perlu menantang orang lain untuk debat tentang pengetahuan al Qur’an dan sebagainya. Itu justru menunjukkan sifat sombong.

Orang kalau hebat itu justru tidak pernah mengatakan dia itu hebat. Kalau ada orang yang mengatakan diri dia itu hebat, justru menunjukkan dia tidak bagus.

Nabi Musa pernah berpidato di depan kaumnya. Memang benar dia adalah orang pintar. Pantas saja karena Nabi. Nabi Musa secara syariatnya kuat tapi secara batinnya beda. Akhirnya dia bertemu Nabi Khidir.

Nabi Khidir termasuk Nabi yang diberi ilmu laduni oleh Allah. Nabi Musa ilmunya tidak seberapa jika dibanding denga Nabi Khidir. Maka ketika mereka berjalan bersama, Nabi Musa diajari beberapa ilmu oleh Nabi Khidir, “Kamu tidak boleh tinggi hati, jangan sombong.”

“Kalau kamu ingin belajar dengan aku. Hanya satu syaratnya, jangan banyak bertanya” kata Nabi Khidir lagi. Akhirnya benar, ketika berjalan bersama mereka melihat anak kecil yang tengah bermain tiba-tiba kepalanya dipatahkan Nabi Khidir. Langsung meninggal. Nabi Musa tidak paham. Iapun bertanya, “Ini gimana, anak kecil tidak punya dosa koq malah dibunuh?”

Mereka melanjutkan perjalanan lagi, lantas menemukan sebuah tembok yang miring. Tembok itu pun lalu ditegakkan oleh Nabi Khidir. Nabi Musa pun membantu menegakkan tembok tersebut. Mereka pun merasa lapar dan haus. Nabi Musa bertanya ke Nabi Khidir, “Ayo mencari makan dan minum.”

Lanjut lagi perjalanan sampai ke tepi laut. Di sana mereka menemukan beberapa perahu. Anehnya, perahu-perahu tersebut dilubangi oleh Nabi Khidir. Nabi Musa pun berkomentar lagi, “Ini apa maksudnya. Perahu bagus koq malah dilubangi?”

Akhirnya Nabi Khidir berkata, “Wahai Musa kamu tidak berhasil. Kamu sudah aku pesan hanya satu hal saja. Jangan banyak bertanya. Kenyataannya kamu malah selalu bertanya.”

Nabi Khidir menjawab, “Musa, bapak dari anak ini orang soleh. Nantinya anak ini akan jadi anak yang tidak baik. Sebab cintanya orangtua ke anak ini besok akhirnya orangtua ikut jadi tidak baik. Maka anak ini lebih baik dimatikan sekarang. Dari pada kelak akan menyengsarakan orangtuanya. Ini kalau ilmunya Nabi Khidir boleh, karena sudah paham ilmunya. Kalau Nabi Musa membunuh tidak boleh karena belum tahu ilmunya.

Sama seperti kita saat belajar ilmu tasawuf. Ketika kita masuk toilet, kita dapati pengguna toilet sebelumnya tidak mau membersihkan. Jika kita jadi orang kelas 3, kelas yang paling bawah, kita langsung mengamuk, membanting pintu lalu pergi.

Atau masuk orang dengan kelas 2, kita masuk toilet dengan ngedumel tapi masih mau membersihkan. Ngedumelnya dapat dosa, membersihkannya dapat pahala. Jadi impas.

Jika kita termasuk kelas 1, akan berkata, “Alhamdulillah ini kesempatan untuk berbuat baik dengan membersihkan. Semoga jadi ridhomu ya Allah.” Menerima dengan senag hati dan dibersihkan dengan ikhlas.

Nabi Musa belum paham, karena masih bermain di tataran syariat. Apa yang dilakukan Nabi Khidir tidak diperbolehkan. Demikian juga dengan Gus Miek. Apa yang dilakukannya banyak dimusuhi Kiai pada umumnya. Karena para Kiai membahasnya lebih di wilayah syariat. “Orang paham agama koq datang ke lokalisasi, koq malah ikut berjudi. Itu jelas hukumnya haram. Itu sesat menyesatkan”. Seperti ini kelasnya Nabi Musa. Bukan kelasnya Nabi Khidir.

Terkait dengan tembok yang ditegakkan tadi, Musa juga bertanya kepada Nabi Khidir, “ Mengapa tidak minta upah sama sekali. Mengapa temboknya tidak dirobohkan saja sekalian?”

Dijawab Nabi Khidir, “Wahai Musa dalam tenbok itu terdapat hartanya anak yatim yang memang jadi wasiat orangtuanya. Kalau sampai roboh temboknya akan jadi rebutan orang banyak.” Maksudnya kita berniat membantu, niat ibadah tidak perlu punya pamrih yang neko-neko. Seperti itu akan menyelamatkan kita.

“Lha bagaimana dengan perahunya orang miskin tadi. Kenapa engkau lubangi. Apa maksudnya?”

Jawab Nabi khidir, “Kalau tidak aku lubangi mereka akan berangkat melaut. Mereka akan  ketemu dengan bajak laut yang akan merusak tidak hanya perahunya tapi juga dengan orangnya. Aku kasihan. Karena perahu sudah aku lubangi maka mereka tidak jadi melaut, dengan begiu mereka jadi selamat.”

Seperti itu namanya ilmu kasyaf. Orang yang dibukakan Allah mampu melihat uang belum terjadi.

Add Comment