Edupreneurship Berbasis Industri untuk Sekolah Menengah Kejuruan

SMK Muhammadiyah Kartasura Program Keahlian Tata Busana dalam program pengembangan edupreneurship berbasis industri. SMK MUHAMMADIYAH KARTASURA

Salah satu indikator kesuksesan penyelenggaraan pendidikan (kejuruan) adalah seberapa besar lulusannya dapat terserap di dunia kerja atau pun berwirausaha.

Dalam mempersiapkan siswa agar memiliki kompetensi kerja sesuai tuntutan dunia industri atau memberi berbagai macam bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi seorang wirausaha (entrepreneur) harus dilakukan melalui proses pemberdayaan pendidik dan peserta didik yang efektif dan tepat sasaran.

Salah satunya, dilakukan SMK Muhammadiyah Kartasura pada salah satu program keahlian yang dimiliki, yaitu Program Keahlian Tata Busana, dengan mengembangkan edupreneurship berbasis industri.

Edupreneurship jamak dipahami sebagai kegiatan yang ditekankan pada upaya kreatif atau inovatif yang dilakukan oleh sekolah untuk mendapatkan prestasi sekolah dan meningkatnya pendapatan. Pelaksanaan bisa melalui Teaching Factory dan Bisnis Center.

Direktorat Pembinaan SMK menyebutkan tiga hal penting yang harus dipenuhi oleh seorang entrepreneur. Pertama, mengejar peluang dan kesempatan yang mungkin tidak dilihat orang lain (the pursue of opportunities).

Kedua, melakukan perubahan serta membuat strategi-strategi baru untuk berbisnis atau memproduksi barang (innovation).

Ketiga, upaya pasca-entrepreneur dalam mengejar pertumbuhan (growth). Sebagai entrepreneur harus senantiasa bekerja keras untuk selalu tumbuh dan maju berkembang

Tujuh Kajian Strategis

Sebagai langkah awal, diperlukan kajian terhadap dokumen-dokumen daerah. Pertama, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) daerah. Tujuannya, mengetahui peta dukungan pemerintah terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan.

Kedua, identifikasi kebutuhan industri. Identifikasi meliputi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh lulusan SMK dan persyaratan yang meliputi rincian kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. SMK dapat menggali informasi dengan cara bertanya secara langung kepada industri dan mengumpulkan dokumen.

Ketiga, koordinasi jejaring industri. Koordinasi berfokus pada pengembangan hasil analisis bersama industri yang relevan.

Keempat, penyelarasan kejuruan. Apabila telah berhasil melaksanakan identifikasi terhadap kebutuhan industri, yaitu persyaratan jabatan kerja yang akan dilaksanakan oleh lulusan SMK, selanjutnya dituangkan ke dalam kurikulum SMK dan strategi pembelajaran di SMK.

Persyaratan jabatan kerja dipilah sesuai dengan dimensi keterampilan, pengetahuan, dan sikap, kemudian disejajarkan dengan isi mata pelajaran dalam setiap kompetensi keahlian. Kesenjangan yang timbul dalam proses penyelarasan ini harus ditambahkan untuk diberikan kepada siswa.

SMK perlu menyusun strategi pembelajaran supaya hasil penyelarasan dapat disampaikan kepada siswa tepat waktu. Selain itu, modul, sarana dan prasarana juga perlu diselaraskan untuk memenuhi kebutuhan industri. SMK wajib memiliki daftar kebutuhan buku, modul, serta sarana dan prasarana untuk dipenuhi segera, supaya kebutuhan industri dapat segera dipenuhi.

Kelima, penggunaan sumber belajar. Buku sumber atau referensi yang digunakan oleh SMK, banyak di antaranya masih menggunakan buku-buku edisi yang sudah tidak lagi relevan dengan kekinian. Sementara teknologi yang diterapkan oleh industri selalu berubah mengikuti perkembangan teknologi terkini.

Keenam, penataan fasilitas pembelajaran. Ruang praktik siswa maupun ruang kelas yang digunakan untuk pembelajaran harus dikelola berbasis industri. Oleh karena itu, pembelajaran dapat dikondisikan secara nyaman, sebagaimana lingkungan yang ada di industri.

Ketujuh, sinkronisasi kompetensi pengajar. Berdasarkan hasil penyelarasan kurikulum bersama industri mitra, sekolah dapat melakukan analisis kebutuhan kompetensi yang belum dimiliki oleh guru.

Untuk mengetahui sejauh mana penguasaan kompetensi guru, dapat dilakukan dengan membuatkan instrumen, berupa check list kompetensi pembuatan barang atau jasa keunggulan wilayah yang harus diisi oleh guru (skill scanning). Kompetensi-kompetensi yang belum dikuasai tersebut merupakan kebutuhan yang harus ditingkatkan.

Peningkatan kapasitas guru dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, magang industri, sertifikasi kompetensi, dan sertifikasi asesor.

Batik Khas Kartasura Berkonsep Eco-Green

Setelah melalui berbagai tahap, pengembangan edupreneurship berbasis industri yang dilakukan SMK Muhammadiyah Kartasura pun menuai hasil. Lahirlah batik khas Kartasura berbahan alami (eco-green).

Edupreneurship ini setidaknya berdaya guna dalam wujud profit dari penjualan, Proses Belajar Mengajar yang terintegrasi secara reguler, meningkatnya kualitas skill tenaga pengajar untuk mendukung keberhasilan program dengan menjaga rutinitas magang guru dan siswa.

Selain itu, ekspose (launching) produk ke masyarakat, mempopulerkan batik khas Kartasura. Peserta didik dapat berperan sebagai kepanjangan tangan mitra Industri dalam melakukan berbagai operasi bisnis, yakni melatih siswa berwirausaha.

Sebagai catatan, untuk mewujudkan edupreneurship di lingkungan sekolah kejuruan harus dijalankan dengan strategi dan perencanaan yang matang, didukung oleh kesamaan visi antara pihak manajemen sekolah dengan para pendidik.

Konsep eco-green yang diusung pun ternyata belum mewujudkan konsep Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ramah lingkungan.

Lebih dari itu, diperlukan dukungan yang positif dari pemerintah dalam mengembangkan potensi batik, khususnya di wilayah Kartasura, juga rencana keberlanjutan program yang mempunyai target kompetitif.