4 Kelompok Manusia

(Foto: Pinterset.com)

Kita diberi anugerah Allah berupa jasmani dan rohani. Keduanya harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Jika tidak, maka akan sia-sia. Bisa jadi keduanya malah menjadi penambah dosa. Apalagi kalau keduanya terkena penyakit. Dikhawatirkan penyakit tersebut akan menghilangkan manfaat dari anugerah yang luar biasa tersebut.

Contoh mudahnya adalah mata. Jika mata sakit maka kita akan kerepotan. Untuk membaca dan melihat saja tidak nyaman. Dengan demikian manfaat mata tidak bisa maksimal. Terlebih lagi jika yang sakit adalah jiwa kita. Pasti akan merasakan betapa repotnya.

Di ilmu tasawuf, orang yang paling ideal adalah yang jasmaninya makmur,  rohaninya juga makmur. Itu niknat yang luar biasa. Seperti Nabi Ibrahim AS. Beliau secara jasmani  berkecukupan. Rohani beliau masya Allah hebatnya. Faktor rohani beliaulah yang justru menjadikan beliau khalilullah. Kekasihnya Allah.

Kejiwaan Nabi Ibrahim luar biasa. Selama hidup beliau tidak pernah pusing dan susah memikir yang terkait dengan rejeki. Karena beliau yakin rejeki sudah ada yang mengatur, Allah. Jika kita menyimak hadits Nabi seperti ini kadang di hati berkata, “Ya wajar saja tidak pusing karena serba kecukupan. Coba saja kalau tidak serba kecukupan pasti pusing juga”.

Kebanyakan kita kurang lebih seperti itu pemahamannya. Padahal yang dikehendaki Allah bukan seperti itu. Kalau bisa cukupnya dhahir bisa berpengaruh pada ketenangan batin. Atau sebaliknya. Ketenangann batin bisa membantu terwujudnya ketenangan dhahir.

Kecukupan dhahir di sini yang ada kaitannya dengan kesehatan batin. Orang seperti ini adalah orang  yang bisa menerima hidup apa adanya. Kata Nabi, “Orang kaya itu, orang yang jiwanya sudah merasa cukup”. Intinya, bisa menikmati semua pemberian Allah. Ia tidak terkena penyakit rakus.

Nabi Ibrahim contoh paket lengkap, dhahir dan batinnya cukup. Nabi Ibrahim selama hidupnya tidak mau sarapan pagi kecuali kalau ada yang menemani. Beliau rela berjalan jauh hanya untuk mencari teman yang bisa diajak sarapan pagi. Selain itu beliau selalu mendahulukan perintah Allah dibanding yang lain.

Makmur, orang per orang ukurannya berbeda-beda. Ada yang hartanya banyak, kebutuhannya juga banyak. Ada yang hartanya sedikit, kebutuhannya banyak. Ada juga yang hartanya banyak, kebutuhannya hanya sedikit. Dalam hidup ini pasti lengkap. Tergantung masing-masing.

Kedua, dhahirnya tidak kelihatan makmur tapi jiwanya makmur. Diberi hidup yang tenang oleh Allah. Ini juga termasuk anugerah Allah yang luar biasa. Termasuk cerminan bahwa orang tersebut rohaninya bagus. Tak pernah mikir yang tidak perlu.

Contoh kasus, ada seorang karyawan yang bekerja di sebuah pabrik tekstil. Jarak dari rumah ke pabrik, jika ditempuh dengan naik sepeda sekitar 1 jam. Jika ditempuh dengan motor 30 menit. Ketika masih naik sepeda, sebelum berangkat kerja masih bisa mengerjakan beberapa pekerjaan di rumah. Berangkat jam 07.00 sampai pabrik jam 8.00. Ini kondisi normal.

Pulang kerja, keluar dari pabrik jam 16.00 sampai rumah jam 17.00. Seperti ini normal. Karena gajinya sedikit, jika pulang kerja mampir ke warung dulu. Kadang berhutang untuk keperluan dapur. Seperti ini juga masih normal.

Dalam perjalanannya, Allah memberi anugerah. Yang semula karyawan biasa lantas diangkat menjadi staff. Gajinya pun naik. Mulai saat itu sudah mulai ada penyakit yang muncul. Ketika gajinya 2 juta per bulan, pulang pergi ke tempat kerja naik sepeda tidak masalah. Hitung-hitung untuk olah raga. Namun ketika gaji sudah berubah menjadi 4 juta per bulan, sudah melirik sepeda motor. Akhirnya kredit sepeda motor.

Secara jasmani ini bagus. Akan tetapi karena perjalanan waktu, yang semula perjalanan dari rumah ke pabrik hanya memakan waktu hanya 30 menit. Mestinya jam 16.30 sudah sampai rumah. Artinya ini sebenarnya dia kesempatan berbuat baik lebih banyak.

Ternyata setelah punya sepeda motor lambat laun semakin tidak baik. Yang biasanya berangkat jam 06.30, sekarang malah berubah jadi jam 06.00. Pulang kerja harusnya jam 16.30 sudah sampai rumah, sekarang malah jam 18.00. Kadang jam 19.00. Ini sudah tanda-tanda tidak sehat. Sudah tidak normal.

Kenapa dulu saat naik sepeda tidak terserang penyakit gaya hidup? Bisa jadi karena tidak ada yang mau dibonceng pakai sepeda. Jadi aman-aman saja.

Sekarang, setelah naik sepeda motor semuanya telah berubah. Berangkat kerja lebih awal dan pulang kerja lebih telat dari yang seharusnya. Ternyata setelah dicheck, benar adanya. Sekarang sering pergi dengan wanita lain. Terjangkit penyakit bukan saat masih naik sepeda tetapi saat naik sepeda motor. Harusnya tidak seperti itu.

Apakah si ayah yang berbuat seperti ini merasakan kebahagiaan? Tidak. Jika kesenangan mungkin. Karena kebahagiaanya sudah dicabut Allah.

Ahli tasawuf lebih ke titik rohaninya. Jika disuruh memilih, daripada naik sepeda motor terkena ‘penyakit gaya hidup’ lebih baik naik sepeda tapi lurus perbuatannya. Ini kalau versi ilmu tasawuf.

Tetapi kebanyakan dari kita jika diminta memilih inginnya naik sepeda motor dan tambah rajin ibadahnya. Biasanya pergi ke masjid buru-buru, sekarang ada sepeda motor bisa datang lebih awal. Ada kesempatan bisa bantu bersih-bersih. Kalau perlu menggantikan muadzin jika muadzinnya berhalangan.

Menurut ilmu tasawuf, jika tambahnya gaji, hadirnya sepeda motor namun tidak menjadikan seseorang lebih baik, itu bukan nikmat tapi laknat. Ini yang dibahasakan jangan sampai makmur secara dhahir, tapi krisis di batin. Jangan sampai seperti itu.

Jadi yang pertama dhahir batinnya makmur. Yang kedua, dhahirnya biasa saja, tidak makmur tapi batinnya makmur. Naik sepeda tidak masalah yang penting lurus. Baik pekertinya. Yang seperti itu lulus. Karena kehidupan ini tidak hanya di dunia ini. Besok masih ada akhirat. Dan semua akan dipertanggungjawabkan. Itu yang berat.

Makan seadanya. Minum air putih tidak apa-apa. Yang penting halal. Bisa menjadikan badan sehat. Hatinya tentram. Seperti itu lebih mulia di sisi Allah dan lebih mulia kehidupan kita di akhirat kelak.

Yang ketiga dhahirnya makmur, batinnya krisis. Dhahir makmur namun seakan-akan tidak merasakan kebahagiaan. Hidupnya tidak tenang. Mudah marah, gampang stress. Ibadah tidak terjaga dengan baik. Ini sebenarnya berat. Yang melihat bisa saja mengatakan hidupnya nyaman. Namun berat bagi yang menjalani. Ini banyak menjangkit di kehidupan saat ini. Amat rugi sebenarnya. Yang sebenarnya kesempatan untuk berbuat baik itu terbuka lebar namun tidak dimanfaatkan dengan baik.

Yang terakhir, baik dhahir dan batinnya krisis. Jangan sampai kita masuk di dalam kelompok ini. Kalau yang ketiga tadi masih lumayan. Sebagai contoh, pikiran pusing tapi bisa beli mobil. Walaupun kredit dan angsurannya juga mencekik.

Untuk kelompok terakhir ini, jika masih punya ilmu tasawuf insya Allah tidak sampai seberat itu. Menuntut ilmu ibarat resep obat, ada dosisnya. Ada tingkatannya. Hidup juga seperti itu. Jika sakit ini maka obatnya itu. Jika menerima resep obat namun hanya kita kantongi saja tidak ada gunanya. Ke mana-mana dibawa. Seperti itu tidak memberi manfaat apa-apa. Hanya sekedar bawa resep itu saja. Tapi sakitnya masih tetap sakit.

Itu sama saja dengan orang yang sudah sering menuntut ilmu, namun masih keras hatinya. Masih suka marah-marah. Oleh sebab itu jika sudah ada resep obat harus dibelikan obatnya. Kalau sudah dibeli obatnya, apakah sudah cukup? Belum. Harus diminum. Itupun harus sesuai dengan dosisnya.

Jika aturan minumnya sehari 3 tablet, maka jika kita ingin lekas sembuh ya harus diminum sesuai aturan tersebut. Hidup ini juga ada aturannya. Kalau ikut aturan akan selamat dunia akhirat. Saat kondisi beratpun masih bisa merasakan nikmat dan bahagia karana rumusnya orang-orang sholeh adalah tidak ada orang yang nyaman hidupnya kecuali harus berjuang dulu. Tidak ada panen kecuali harus menanam dulu. Di dunia ini saatnya untuk banyak menanam kebaikan.

Add Comment