Wujud Pertolongan Allah

(Foto: Pinterest.com)

Dalam ilmu tasawuf, hal pertama yang termasuk pondasi pokok sebelum membahas hal lainnya adalah tentang taubat. Ini pasti terkait dengan kesalahan. Orang baik itu bukan orang yang tidak punya salah, orang baik itu ia yang mempunyai salah namun ia mau mengakui kesalahannya dan mau memperbaikinya.

Karena semua orang selain para Nabi dan orang yang dilindungi Allah tidak luput dari kesalahan. Nabi Adam pun pernah melakukan kesalahan, namun selain beliau mengakui kesalahannya beliau juga melakukan taubat, sehingga kedudukannya tetap mulia di sisi Allah.

Taubatnya Nabi Adam tiap malam tidak tidur dan menangis. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan air matanya bercampur dengan darah selama 40 tahun. Dan akhirnya setelah 40 tahun itu Allah mengampuni dosa Nabi Adam setelah disempurnakan dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Allah tidak mungkin memberi sengsara dan siksa kepada kita baik di dunia maupun akhirat. Selagi kita masih mau membaca istighfar dan sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Nabi Adam melakukan dosa atas dorongan dari iblis. Nabi Adam merasa tidak akan mampu melawan iblis jika tanpa pertolongan dari Allah. Demikian juga semua keturunannya. Sederhananya, iblis bisa melihat kita, sementara kita tidak bisa melihat iblis.

Hebatnya iblis mampu masuk lewat aliran darah kita, itulah kenapa kadang tidak bisa merasa bahwa kita sudah digoda iblis. Maka ada doa ta’awuz. Kita bisa mengalahkan iblis apabila kita ditolong oleh Allah.

Ketika Nabi Adam sudah merasa bahwa melawan iblis itu berat, maka Nabi Adam berdoa ke Allah, “Yaa Allah kalau seperti ini adanya aku tidak sanggup untuk melawan iblis. Demikian juga semua keturunanku kelak. Maka aku mohon pertolonganMu ya Allah. Aku minta senjata untuk melawannya”.

Allah pun berfirman, “Hai Nabi Adam, kamu akan Aku beri senjata. Senjata pertama, setiap jaman akan Aku beri utusan seorang Nabi yang akan membimbing anak cucumu agar tidak terkena godaannya iblis”.

Jadi para Nabi yang diutus Allah termasuk yang terakhir Nabi Muhammad SAW termasuk bentuk pertolongan dan senjata dari Allah. Untuk mendidik dan mengarahkan kita semua agar kita tidak terkena tipu dayanya iblis.

Di luar itu semua, sebenarnya untuk melawan iblis termasuk simpel. Untuk melawannya cukup dengan tidak menuruti godaanya. Hanya saja, kadang kita tidak bisa membedakan itu tipu daya iblis, dorongan dari nafsu atau malaikat.

Contoh, apabila kita merasa kecewa terhadap orang lain, yang baik adalah jangan berlarut-larut. Sebenarnya apa keuntungan jika kita memendam kecewa yang berkepanjangan? Kalau bertemu dengan orang yang membuat kita kecewa tersebut, kita membuang muka, mancari jalan lain, tidak mau duduk berdekatan, orang tersebut mendapat kesusahan kita malah senang. Semua itu tidak ada nilai kebaikannya.

Memendam kecewa jika berkepanjangan yang senang adalah iblis. Karena iblis tidak suka kalau ada orang yang rukun. Kita yang pada posisi yang harus meminta maaf atau memberi maaf itu jika punya masalah, sebenarnya dorongan dari malaikat, dorongan dari Allah.

Tapi nafsu yang ditumpangi iblis inginnya kalau kecewa sebisa mungkin dipelihara selamanya. Maka sering kita bisa jumpai orang bermusuhan sampai sama-sama meninggal dunia. Amat disayangkan jika sampai seperti itu. Karena orang yang memutuskan persaudaraan dan silaturahim akan diputus dari kasih sayangnya Allah.

Bagi orang yang memendam kecewa kebanyakan tidak berfikir sampai sejauh itu. Iblis akan selalu berupaya untuk selalu menambahkan. Yang pasti bukan menambahkan kebaikan, melainkan menambahkan keburukan.

Maka menurut ilmu tasawuf kecewa seperti apapun juga sebisa mungkin segera diakhiri. Diselesaikan dengan baik, Tidak ada untungnya jika berlarut-larut.

Begitu juga dalam berumah tangga jika kita sampai ada masalah dengan pasangan, maka kedua belah pihak harus mempunyai komitmen untuk kembali baik. Misal sehari semalam harus sudah kelar perselisihannya. Itu paling lama.

Adalah wajar jika seseorang mempunyau masalah lantas kemudian merasa kecewa. Namun setelah itu harus sudah selesai. Dengan begitu akan selamat semuanya. Yang baik seperti itu.

Menurut Kanjeng Nabi, sifat manusia itu bermacam-macam, ada yang mudah kecewa dan mudah baikan. Ada yang mudah kecewa namun sulit untuk baikan, ada yang sulit kecewa namun begitu sekali kecewa sulit untuk sembuh kecewanya.

Orang yang baik adalah yang hubungan baiknya sewajarnya saja. Tidak perlu kalau sudah merasa cocok lantas berlebihan. Yang seperti itu biasanya begitu dikecewakan sedikit saja akan merasa sakit hati yang mendalam. Kalau bisa hubungan dengan orang lain yang biasa-biasa saja.

Nabi Adam berdoa lagi, “Ya Allah aku mohon Engkau berkenan menambahi senjata untukku dan anak cucuku agar kelak mampu menangkal tipu dayanya setan.”

Allah menjawabnya, “Kalau sampai anak cucumu melakukan 1 kebaikan, akan Aku lipat gandakan dengan 10 kalinya. Bahkan bisa sampai 100 kali, 700 kalinya bahkan hanya Aku saja yang tahu”.

Orang yang menanam kebaikan dipastikan tidak akan rugi karena buahnya pasti banyak. Memang orang menanam tidak seindah dan senyaman saat panen. Maka sangat wajar apabila saat panen orang tahu hasilnya namun tidak tahu bagaimana proses yang harus dijalani hingga panen tersebut.

Kabar gembiranya untuk kita semua bahwa salah 1 senjata agar menang dari godaan setan adalah jika kita menanam kebaikan akan tumbuh buah 10 biji, 100 biji, 700 biji dan seterusnya. Ini yang jadi faktor kita bisa merasakan nikmatnya Allah.

Ketika 1 benih padi tumbuh 7 batang, setiap batang berbuah 100. Berarti 1 biji berbuah 700 biji. Itu saja kita masih suka mengeluh. Umpama 1 biji hanya berbuah 1 biji mungkin tidak ada yang mau bertani. Kita menanam 1 biji mangga bisa panen mangganya berkarung-karung. Tiap tahun berbuah. Umpana 1 biji hanya berbuah 1 mangga saja. Juga tidak ada yang mau menanam mangga.

Itu termasuk anugerahnya Allah. Pernah suatu kali Sayyidina Umar memandang miring ke seorang yang sudah lanjut usia. Orang tua tersebut hendak menanam kurma. Kata Umar, “Wahai orang tua, engkau sudah begitu berat menanam kurma. Apa engkau yakin besok masih hidup dan bisa memanen?”

Ini kita tidak tahu apa motif pertanyaan Umar tersebut. Menguji atau benar-benar tidak tahu. Kita husnudzon saja.

Akhirnya orang tua tersebut menjawab, “Wahai Khalifah, kalau saat ini kita bisa menikmati kurma, itu karena jerih payahnya orang terdahulu yang mau menanam. Seumpama orang dulu tidak mau menanam, kita tidak mungkin bisa makan kurma saat ini.

Demikian juga saya yang sudah berumur tua ini. Tidak berfikir besok masih bisa memanen atau tidak, tapi saya berfikir itu untuk anak cucu saya.”

Sayyidina Umar mendapatkan pelajaran baru. Lantas orang tua tersebut diberinya uang yang cukup banyak. Orang tua itupun berujar, “Benar khan, saya menanam belum ada buahnya sekarang malah sudah memanen.”

Jangah pernah khawatir dengan kebaikan yang kita tanamkan. Pasti akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Seperti di atas sudah kita singgung, saat kita menanam memang tidak seindah saat memanen. Namun yakinlah bahwa ada makhluknya Allah yang akan memanennya. Dan kita akan dapat pahalanya.

Sebaliknya balasan orang bersalah hanya satu. Jika mau minta maaf selagi matahari belum terbit dari barat dan nafas masih di tenggorokan maka masih bisa diampuni oleh Allah.

Jika nafas sudah di tenggorokan semua lakon yang akan diterima di akhirat sudah dibuka oleh Allah. Saat itu sudah tidak bisa taubat. Mumpung masih sehat, mumpung masih bisa bertaubat alangkah baiknya jika kita memperbanyak istighfar.

Karena dosa yang kita lakoni entah kecil atau besar itu ibaratnya racun di tubuh kita. Maka cara untuk menghilangkan racun tersebut dengan membaca istighfar.

Jika niat berbuat baik akan mengundang 70 pertolongannya Allah. Niat baik sebelum dilakoni sudah dicatat sebagai 1 kebaikan. Jika dilakoni akan dicatat Allah menjadi 2. Jika berniat jelek akan dicatat oleh malaikat yang diutus Allah jika sudah dilakoni. Tapi jika tidak jadi dilakoni maka akan mendapat pahala.

Tapi ketika mempunyai berniat jelek tersebut ternyata kita keduluan meninggal dunia maka kita akan termasuk su’ul khotimah. Karena sudah punya niat yang tidak baik. Niat jelek walaupun belum dilaksanakan dan belum terhitung dosa namun dia termasuk bibit-bibit su’ul khotimah. Maka jangan sekali-kali punya niat yang tidak baik.

Sama-sama berniat lebih baik berniat yang baik saja. Saat waktu Shubuh berniat saja untuk mencari rejeki yang halal dan berkah. Berniat saja untuk selalu menolong sesama makhluknya Allah. Itu akan membuat hidup kita berkah. Entah seperti apa bentuknya.

Ketika pagi hari kita sudah berniat mencari rejeki yang halal maka akan dipermudah oleh Allah. Ketika kita berniat menolong sesama di pagi hari, maka sehari semalam kita dipayungi pertolongan Allah. Ini tidak pakai biaya.

Semakin banyak berniat baik maka akan semakin banyak keberkahan dari Allah. Itu adalah amal yang paling ringan namun berdaya guna hebat. Semua bermula dari niat baik. Apapun kita niati untuk mencari ridlonya Allah.

Allah menambahi satu hal lagi agar kita tidak kalah dengah setan yakni jangan sekali-kali dalam hidup ini putus asa dari kasih sayangnya Allah. Karena setan adalah makhluk terkutuk karena putus asa atas karunianya Allah. Tidak mau menerima rahmatnya Allah gara-gara iri, sombong dan tidak suka dengan Nabi Adam.

Apapun yang saat ini kita lakukan dalam menjalani lakon, kita tidak usah merasa bingung. Yang penting kita tidak diputus dari kasih sayangnya Allah. Allah maha menolong, maha mencukupi, maha kaya dan maha segalanya.

Semakin kita punya masalah yang di luar kemampuan kita itu adalah sarana kita untuk mendekat ke Allah. Banyak berdoa, banyak beribadah, banyak berbuat baik, itu termasuk anugerah dari Allah.

Ketika kita sedang sedikit diuji Allah jangan sampai seperti Allah sudah tidak memberi kita kasih sayangnya lagi. Karena tabiat nafsu yang ditunggangi iblis. Maunya manusia itu sama yakni selalu sehat, rejeki selalu lancar, kalau perlu selalu panen.

Pada umumnya manuasia ingin selalu nyaman, ayem tentrem. Itu manusiawi namun berbau nafsu. Tapi kalau sudah masuk ilmu tasawuf sudah lain. Karena munusia dicipta pasti ada suka dukanya. Ada siang malam. Jangan sampai kalau kita merasakan lezatnya makan karena lauknya yang cocok, nasinya yang super. Tidak hanya itu. Faktor yang lain yang membuat bisa merasakan lezatnya makanan tersebut adalah kita masih diberi sehat oleh Allah.

Sebaliknya ketika kita makan dengan lauk yang tidak begitu cocok, jangan sampai seperti kita tidak merasakan nikmat dari Allah. Kadang hanya karena makanan malah menjadi topik pembicaraan utama.

Sehingga tujuan semula tidak tercapai. Contohnya saat kita menghadiri sebuah undangan resepsi. Sebenarnya tujuan utamanya adalah mendoakan yang punya hajat. Namun pada kenyataannya malah menggunjing soal hidangan dan lain sebagainya. Tentu ini sangat tidak pas.