Mengenal Mukallaf

(Foto: Pinterest.com)

Manusia adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Makhluk yang banyak kebutuhan dan masalah. Dengan kondisi seperti itu, kalau tidak ditolong Allah kita pasti akan menemui kesulitan dan kesusahan. Di dunia ini dan akhirat nanti.

Allah memerintahkan kita agar menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Di mana saja. Jika kita mampu melakukan itu maka semua permasalahan hidup kita akan dengan mudah diselesaikan Allah.

Itu kewajiban seorang hamba ke Allah sebagai sang Khaliq. Jika didalam diri kita beres maka semuanya akan beres. Kalau saat ini hidup kita belum beres berarti masih banyak yang perlu kita benahi. Itu terkait dengan kesungguhan menjalankan perintah Allah dan kesungguhan menjauhi laranganNya.

Dalam bahasa hukum fiqih ada yang namanya mukallaf. Artinya orang yang dipilih Allah, diperintah Allah agar taat. Apa seperti ini berlaku bagi semua orang? Tidak.

Tidak semua orang itu mukallaf. Orang yang diperintah Allah hanya orang yang punya iman dan Islam. Jika seseorang punya iman dan Islam berarti dia adalah orang yang dipilih Allah. Orang yang mempunyai iman dan Islam itu tandanya dia taat atas aturan Allah.

Namun dalam praktiknya, ternyata tidak semua orang yang punya iman dan Islam itu jika diperintah menaati perintah tersebut. Sehingga ada hukum bagaimana caranya orang yang dipilih Allah tersentuh hatinya sehingga mau menjalankan perintah Allah. Ada yang harus dengan jalan diiming-imingi.

Contohnya, jika kita bisa istiqomah menjalankan sholat tahajjud maka hidup kita akan dimuliakan Allah. Di mana saja hidup kita akan penuh dengan kemuliaan. Barangsiapa yang menjalankan sholat dhuha maka akan dimudahkan urusan rejekinya.

Kalau soal banyak sedikitnya rejeki tiap orang pasti berbeda-beda. Sesuai dengan kebutuhan hidup masing-masing. Sebab ada orang yang rejekinya banyak, kebutuhannya juga lebih banyak. Umumnya seperti itu. Orang biasa kebutuhannya juga lebih sedikit.

Tentang mukallaf ini, jika digambarkan seperti kita memakai sandal. Ternyata orang memakai sandal itu ada beberapa ilmu yang ada kaitannya dengan kenyamanan hidup.

Pertama, memakai sandal harus dipastikan sesuai posisinya. Kaki kiri memakai sandal yang sebelah kiri, kaki kanan memakai yang sebelah kanan. Jika terbalik, pasti tidak nyaman.

Selain posisinya sesuai masih ada lagi lainnya yakni sesuai ukurannya. Jika ukuran kakinya besar memakai yang kecil pasti tidak nyaman. Demikian juga sebaliknya, hidup jika mau dibuat sederhana juga seperti itu.

Apa cukup hanya itu saja? Ternyata tidak, kanan kiriya sudah sesuai, ukurannya pas selanjutnya jika ingin lebih nyaman maka harus dipastikan bahwa sandal yang kita pakai adalah milik kita sendiri.

Dalam kondisi normal, saat kita memakai sandal yang bukan milik kita sendiri seharusnya sudah terasa bahwa itu bukan sandal kita. Allah sudah memberi sinyal di kaki kita. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terkait dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Mestinya lebih hati-hati jika bersentuhan laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

Selanjutnya masih ada kaitannya dengan sandal ini yakni terkait dengan sifat manusia. Jika sudah pas ukurannya pasti akan pas, posisinya benar, kepunyaan sendiri, berikutnya sudah masuk ke rasa malu dan rasa bangga.

Jika pakai sandal yang sudah rusak ke acara tertentu ada rasa malu dan minder. Kurang percaya diri. Ini hukumnya sudah berbeda. Sudah masuk bahasan gengsi.

Jika memakai sandal yang bagus dan mahal kadang ada rasa bangga dan lebih percaya diri. Jadi sandal di sini sudah menjadi sumber kepercayaan diri. Orang yang sudah mempunyai sifat seperti ini jika dikembangkan terus akan berbuah kurang baik. Apakah dia akan selalu bahagia dengan sandal yang bagus dan mahal tersebut? Jawabnya belum tentu.

Contohnya jika pergi ke masjid. Memakai sandal jepit dengan sandal kulit yang masih bagus dan mahal kira-kira lebih merasa tenang yang mana? Secara umum lebih tenang jika memakai sandal jepit. Begitupun orang hidup. Belum jaminan kalau pakai sandal yang bagus dan mahal jika dipakai pergi ke masjid, ke pengajian atau acara lainnya lantas menjadikan tambah khusyu’.

Ternyata tidak, bahkan bisa sebaliknya, pikirannya tidak fokus ke Allah, malah tertuju ke sandalnya. Yang seharusnya kita memakai sandal yang bagus membuat kita semakin menambah syukur kita ke Allah, makin dekat ke Allah. Tapi dengan sifat manusia hal seperti itu malah membuat tidak tenang. Dalam hidup seperti itu gambarannya.

Maka orang mukallaf, insya Allah kita sudah termasuk di dalamnya. Orang-orang yang memang dianugerahi Allah dengan keimanan dan keislaman serta kesempurnaan fisik. Sebab orang yang dengan kondisi fisik yang tidak bisa menerima nasihat tidak termasuk mukallaf.

Contohnya orang tuna netra, tuna rungu atau kurang waras. Maka orang yang dalam perjalanannya sudah menyanggupi perintah Allah tapi menemui kekurangan dan kesalahan, menurut hadist Nabi kalau tidak disengaja itu termasuk maksiat dan dosa kecil yang kita memang tidak bisa menghindar.

Contohnnya saat kita melihat lawan jenis yang bukan mahram dan tidak dalam tujuan muamalah seperti jual beli, periksa kesehatan dan lainnya. Hanya memandang saja itu sudah termasuk maksiat. Semakin hati tertarik makin maksiat.

Maka jika sedang menjalankan puasa Ramadhan sebaiknya tidak bermain di tempat terbuka kecuali memang sedang ada keperluan. Ini dalam rangka untuk mengatur hawa nafsu.

Tapi kalau masuk kategori kesalahan besar hitungannya dosa yang besar, ada pembahasan tersendiri. Dalam hadist ini jika termasuk dosa kecil bisa dilebur dengan menjalankan kebaikan. Wujudnya bisa apa saja. Yang paling bagus adalah dengan sholat. Termasuk berwudlu juga bisa melebur dosa.

Hidup ini jika dimaknai dengan menunggu datangnya waktu sholat akan luar biasa. Waktu maghrib ke Isya’ itu waktu yang sangat pendek. Maka ulama terdahulu menasihati kalau bisa jangan membahas duniawi. Yang utama dipakai untuk berdzikir ke Allah.

Kalau bisa seperti itu maka Allah akan memberi kemudahan dan keberkahan dalam urusan dunia kita.