Mengenal Ghasab dan Wudhu

Mengenal ghasab dan wudhu. (Foto: Pinterest)

Fiqih membahas tata lahir sedangkan Tasawuf membahas tata batin. Kalau secara lahir dan batin sudah sesuai dengan perintah Allah maka hidup kita akan diberkahi Allah.

Jika kita ingin hidup ini mendapat berkah dan ridla Allah maka itu lebih kepada bahasan tasawuf. Hidup kita akan mendapatkan keberkahan apabila jiwa kita memang sudah bersih. Tak heran jika kita jumpai ada seorang ulama yang mendidik banyak santri dengan begitu ikhlasnya, hanya mengharap ridla Allah.

Kali ini bicara tentang ghasab, ghasab artinya menggunakan barang milik orang lain tanpa seijin yang punya, barangnya tidak berkurang dan sudah ada niat untuk dikembalikan. Contoh sederhananya sandal, dipakai untuk berwudlu tapi tanpa seijin yang mempunya sandal.

Ini berbeda jika kita pinjam motor, akadnya tersendiri. Apa sebab? Karena bensinnya berkurang, dalam hal ini kita bisa meminta atau dengan akad hutang, itu kalau dihukumi secara fiqih, bisa berlarut-larut, tinggal siapa yang beruntung. Saat memimjam bensinya terisi penuh, namun saat pulang tinggal separo, atau kalau sedang beruntung bisa juga sebaliknya. Dalam hal ini kembali ke kesadaran.

Kembali tentang ghasab, ghasab ini termasuk dosa, di atas ghasab ada lagi, yakni menggunakan milik orang lain dengan niat tidak dikembalikan, itu termasuk mencuri. Jelas ini dosanya lebih besar daripada ghasab.

Bagi yang sedang menuntut ilmu dilarang keras untuk berghasab. Sebuah kisah, ada seorang Kiai yang hendak pulang dari mesjid namun tidak menjumpai sandalnya, beliau tidak tahu apakah di ghasab atau dicuri orang, lalu beliau mengikhlaskan, mudah-mudahan bermanfaat,semoga yang mengambil sandalnya justru dimudahkan rejekinya oleh Allah. Begitu beliau mendoakan.

Ternyata yang mengambil sandal beliau adalah santrinya sendiri, akhirnya benar yang terjadi. Selang sekian lama, santri yang mengambil sandal tadi jadi pengusaha sandal. Ini membuktikan bahwa semua yang datang dari orang soleh itu tidak ada yang tidak baik. Bagaimanapun kondisinya. Orang yang selalu berdoa baik menandakan orang tersebut jiwanya bersih.

Jika hanya sekadar sandal yang hilang hendaknya tidak disikapi dengan kecewa, hilang ya sudah, begitu saja. Hebatnya, justru sang Kiai tersebut berdoa semoga yang mengambil sandalnya dimudahkan rejekinya, dan doa tersebut dikabulkan Allah. Jadi sang santri menjelma menjadi pengusaha sandal karena dulu mengghosob. Tapi yang seperti ini tidak boleh dijadikan niat dari awal.

Dari hukum fiqih seperti ini jelas tidak boleh, namun jika dari hukum tasawuf masih bisa boleh karena bisa disikapi dengan yang baik sesuai dengan kondisinya. Beliau berdoa dengan doa yang baik, intinya di atas fiqih masih ada lagi yakni tentang kejiwaaan. Jiwa jika sudah ikhlas, sabar, dan syukur maka semua hal tidak akan menjadi masalah.

Seseorang punya masalah itu jika alamnya normal, jiwa dan fisiknya juga normal. Kalau masih ada masalah hal tersebut bisa jadi karena kurang ikhlas. Dan hal itu termasuk penyakit. Pada ilmu tasawuf, jika seseorang tidak ikhlas itu pertanda bahwa dalam jiwanya ada penyakit.

Sehingga potensi hati, jiwa yang bersih apapun yang namanya penyakit maka penyakit tersebut akan menghalangi kegunaan potensi hati sehingga tidak maksimal.

Kalau sedang sakit mata maka jika dipakai untuk melihat matahari maka dia akan terasa lebih sakit, padahal jika matanya sehat tidak apa-apa. Kulit sehat apabila terkena air maka tidak akan terasa apa-apa, namun ketika kulit kita sedang sakit dan terkena air maka akan terasa perih, demikian juga kita jika sedang mengaji kita tersinggung, danperih berarti hati kita sedang sakit.

Jika saat ini kita masih suka mengeluh, mungkin hati kita masih kurang ikhlas, ketika seseorang sedang tidak ikhlas sama saja dia tidak punya Allah. Jika punya Allah itu bisa menggunakan nikmat dari Allah dengan sebaik-baiknya. Contoh, fikiran kita, secara kemampuan kita menyelesaikan masalah hanya sekitar 18% saja, maka pikiran jika kita paksakan jadi bermasalah. Pikiran jangan dipaksa-paksa karena memang sangat terbatas.

Ada seorang kakek yang sakit, setelah ditanya apa penyebabnya ternyata dia banyak menanggung pikiran. Beliau sedang memikirkan buyutnya, ini tidak salah. Hanya saja jika mau dirunut lagi mestinya tidak perlu seperti itu.

Namun ada pertanyaan seperti ini, seorang buyut mengapa harus dipikirkan, khan masih ada cucu? Cucu masih ada orangtuanya yakni anaknya si kakek itu, dan anak juga kita tidak wajib memikirnya jika mereka sudah dewasa apalagi anak tersebut sudah berumah tangga dan bisa cari nafkah sendiri.

Demikian juga seorang pemimpin, pemimpin yang baik bukanlah semua hal harus dipikir dan dikerjakan sendiri. Seperti itu malah kurang baik, harus ada pembagian tugas.

Bahasan selanjutnya adalah tentang wudhu. Wudhu termasuk anugerah dari Allah karena tidak pernah diperintahkan Allah ke umat-umat sebelumnya.

Orang yang sering wudhu maka rejeki dan hidupnya akan diberi keberkahan oleh Allah, kika meninggal dalam keadaan masih punya wudhu, akan dihitung husnul khotimah. Kelak di Yaumul Qiyamah, umat Nabi Muhammad SAW akan berbeda dengan umat Nabi lain karena wajah umat beliau yang terkena air wudhu, semua akan bercahaya.

Maka di hukum fiqih, setelah berwudhu air jangan dibasuh, karena itu bisa masuk makruh. Karena air wudlu yang menetes itu akan menjelma menjadi malaikat yang akan bersaksi ketika kita menghadap Allah. Jika kita akan berwudhu, ada syarat-syarat yang harus kita pahami.

Syarat pertama harus Islam. Di lain waktu akan dibahas apa saja yang bisa menggugurkan Islam kita, dan apa saja yang bisa membuat Islam kita hilang. Diantaranya adalah mengumpat atau berkata kotor ke apa saja yang tidak mempunyai dosa. Bagi ulama yang sangat berhati-hati melakukan hal tersebut tidak boleh, karena bisa terhitung murtad, contohnya adalah mengumpat kepada hujan dan binatang.

Yang lainnya adalah menghilangkan anugerah kemampuan dari Allah, sebagai contoh, ketika bertani tanamannya subur dan buahnya menyenangkan. Ketika ditanya apa doanya? Dijawab, “Nggak penting doa, yang penting adalah pupuknya.”

Berarti ia mempunyai keyakinan yang menyuburkan bukan Allah tapi pupuk. Seperti ini berbahaya karena sudah melupakan Allah. Maka saat hendak berwudlu disunahkan membaca syahadat terlebih dulu, seperti saat hendak melaksanakan ijab qabul.

Syarat kedua adalah tamyiz, bisa membedakan yang baik dan yang buruk, najis dan yang bukan najis. Kalau anak berumur sekitar 6 sampai 7 tahun, kita perlu untuk memahami hukum Islam. Seseorang jika sudah tidak bisa membedakan hukum Islam berarti akalnya tidak fungsi, berarti dia tidak terkena hukum Islam.

Termasuk mutiara dijiwa kita adalah kita diberi akal yang fungsinya untuk membedakan perkara manfaat dan tidak manfaat, untuk membedakan yang baik dan tidak baik.

Apa yang bisa menghilangkan? Nafsu, jika dituruti kita bisa jatuh sampai ke titik orang yang tidak punya malu. Jika sudah tidak punya malu maka dia sudah tidak sempurna sebagai manusia.

Jika urusan nafsu pasti keinginan kita ingin yang nyaman saja, contohnya diajak bekerja keras dia tidak mau, jika kita punya orangtua yang sudah jompo, maka jika nafsu yang berbicara, umumnya kebanyakan menghindar, kecuali orang yang akalnya sudah bagus, imannya bersih, maka dia akan mengatakan ke saudara-saudarnya, “Tolong beri kesempatan saya untuk mengasuh orangtua kita. Agar bisa berbakti ke mereka.”

Di sisi lain, nafsu pasti akan berkata biarkan saja jika diminta saudara kita yang akan mengasuh orangtua kita, apalagi jika posisinya sebagai menantu dan dulu tidak mendapat restu dari sang mertua.

Tamyiz bisa dirusak oleh nafsu, jika ada anak yang keberatan mengasuh orangtuanya maka dia akan datang pertama kali untuk meminta warisan dan semua yang ditinggalkan orangtuanya, ini biasanya sudah satu paket.

Jika ada anak yang dengan suka rela dan bahagia jika dia bisa berbuat sesuatu untuk orangtuanya maka dia tidak akan begitu memikirkan apa yang ditinggalkan oleh orangtuanya.

Tamyiz bisa hilang karena nafsu ingin memiliki yang menjadi bagiannya sampai menggunakan jalan yang tidak halal. Padahal semua orang sudah tahu jika menghalalkan segala cara maka ia akan mengalami kesulitan, Tapi hal seperti ini tidak difikirkannya.

Syarat wudhu yang ketiga adalah airnya disiapkan, jika di masjid, maka semua yang di masjid sebaiknya tidak digunakan selain untuk keperluan masjid. Contohnya air di masjid hendaknya jangan dipakai untuk mencuci motor atau mobil pribadi kita.

Tapi jika sudah menjadi kesepakatan pengurus, contohnya jika untuk keperluan makan dan minum diperbolehkan dan tidak menjadi bahan pembicaraan maka diperbolehkan. Tapi jika malah menimbulkan masalah satu dengan lainnya mending tidak saja.

Syarat keempat, wudhu itu sah jika sudah pasti batal, jika masih punya wudhu lalu wudhu lagi maka wudhunya tidak sah. Tapi itu dihitung memperbarui wudlu, itu termasuk sunah.

Dalam hukum fiqih, seseorang jika sudah berwudhu lantas ragu apakah sudah batal atau belum. Jika kasusnya seperti itu maka posisi kita tidak batal. Sebab yakin masih punya wudhu, yang ragu batalnya. Berarti ragunya tidak terpakai, jadi kita masih punya wudlu.

Beda jika yang ragu di wudhunya. Tadi aku sudah wudhu atau belum ya? Maka yang dipakai yang belum wudhu saja.

Bagi kaum perempuan jika wudhu hanya saat tidak sedang haid atau nifas. Jadi orang yang sedang haid dan nifas tidak sah berwudlu. Karena mereka punya hadast besar.

Antara air dan anggota badan yang harus kena air wudhu tidak boleh ada penghalang, artinya air tidak bisa membasahi kulit. Contohnya jika kulit kita terkena cat, jika catnya masih menempel dan kita berwudlu otomatis di bawah cat tersebut kulit kita belum terkena air. Maka harus dibersihkan terlebih dahulu.

Demikian juga jika memakai gelang, jam tangan, cincin yang ketat menempel di kulit. Air wudhunya harus bisa masuk dan membasahi kulitnya, beda halnya jika sedang sakit dan ada perban di kulit kita. Ada pembahasan tersendiri.

Syarat wudhu yang terakhir adalah paham tata cara dan urutannya wudhu. Wudhu ada aturan tersendiri dari Kanjeng Nabi, bukan semaunya. Jika kita menjalankan aturan Allah dan Kanjeng Nabi maka itu akan jadi sebab hidup kita diridlai Allah.