Janganlah Berbuat Dzalim

(Foto: Pinterest)

Hadis qudsi adalah perintah Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan al Qur’an tapi hadits dari Allah diperintahkan kepada Nabi Muahmmad SAW. Allah perintahkan, “Yaa ibadi inni harramtu dhulma ‘ala nafsi wajahaltuhu baynakum muhharaman fala tadhalamu.”

Artinya, “Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan atas diriKu berbuat dzolim dan Aku haramkan dzolim kepada kalian. Maka janganlah berbuat dzolim.”

Pertama, wahai hambaku, jadi yang disebut hamba itu jika dinisbahkan dengan nama Allah adalah orang-orang pilihan. Ciri-ciri orang yang bisa dikategorikan hamba adalah mereka yang taat kepada juragannya. Taat kepada majikannya.

Jika kita taat kepada Allah pasti selamat, para Nabi dan shalihin terdahulu mempunyai kunci yakni taat ke Allah. Maka diantara doa itu yang paling bagus itu adalah doa yang ada di al Qur’an, doa yang dibaca para Nabi terdahulu. Yang kedua yakni doa-doa yang dibaca Kanjeng Nabi Muhanmad SAW dan yang ketiga adalah doanya para orang shalih.

Kenapa doa mereka dikatakan istimewa? Karena doa mereka tidak ada unsur nafsu, tidak ada unsur keinginan duniawi.

Keempat, doa kita sendiri yang kita paham, dengan bahasa kita sendiri, ini termasuk paling bagus, jadi kita harus menggunakan bahasa Arab, karena dengan kita kurang menguasai dikhawatirkan malah bisa luput.

Perintah pertama Allah yang bisa kita jadikan pegangan adalah Allah mengharamkan kita bertindak dzolim. Dzolim artinya menganiaya, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya atau tidak pas.

Tidak pas pasti tidak enak, contohnya pakai sandal terbalik, atau memakai sandal dipakai di kepala, kopyah di kaki, ini pasti menimbulkan ketidak nyamanan.

Jika ada orangtua namun tidak mengasihi anaknya, berarti tidak pas, pasti bermasalah, demikian juga, anak tidak berbakti kepada orangtua. Ini juga tidak pas, pasti juga bermasalah.

Orang yang diberi tanggung jawab namun dia tidak tanggung jawab berarti tidak pas. Soal yang ‘ngepaske’ ini hanya Allah saja yang kuasa.

Hidup yang pas itu yang bagaimana? Jika sesorang belum paham terhadap suatu perkara maka dia terus terang bahwa dia sebenarnya belum paham. Itu sesuatu yang baik dan justru dia termasuk orang yang pintar. Menjadi tidak pas jika belum paham namun mengaku sudah paham.

Jangan pernah berputus asa atas rahmat Allah, Allah tidak mungkin dzolim kepada hambaNya. Jika kita diberi sakit, diterima saja karena sakit bisa menggugurkan dosa dan mengangkat derajat, dan bisa mengantar kita jadi orang yang mulia. Tapi kita jangan minta sakit, namun jika diberi sakit, jalani saja. jadikan doa.

“Ya Allah semoga dengan sakit ini bisa melebur dosa saya, mengangkat derajat saya dan mendatangkan ridhaMu ya Allah”.

Sakit tidak apa-apa. Selama ini kita mau sehatnya juga harus mau sakitnya.  Jika kita sudah memahami ilmu agama yang kaitannya dengan dzolim maka ketika ada orang datang minta ijin untuk tinggal bersama kita di rumah.

Sedang dia sudah benar-benar tidak punya apa-apa, ketika kita mau dan mengijinkan untuk menampung dan mengasuhnya, apa pertimbangannya? Kalau karena dunianya jelas tidak ketemu, dia sudah tidak punya apa-apa.

Pertimbangannya tak lain adalah ridhonya Allah, jika seperti itu maka kita akan ditolong dan diselamatkan Allah dari fitnah dunia dan akhirat.

Lain cerita jika yang ingin tinggal bersama kita adalah orang yang punya tanah yang luas dan uang yang banyak, lantas apa yang akan kita sampaikan kepadanya?

“Begini pak, Bapak saya rawat tapi soal tanah dan uang yang Bapak punya saya tidak ikut campur tangan. Lebih baik diserahkan ke yayasan atau bisa diwakafkan ke jalan Allah saja. Saya takut jadi fitnah.”

Jika seperti ini maka kita termasuk orang pilihan nomer 1. Tidak ada kepentingan duniawi, yang dicari hanya ridlonya Allah, karena nomer 1 maka orang seperti ini tidak banyak.

Kalau nomer 1 kita belum mampu maka bisa memilih menjadi nomer 2. “Baik pak, Bapak saya rawat, soal tanah dan uang ini kalau Bapak akan memberikan ke saya maka akan saya terima. Mungkin itu rejeki saya. Mudah-mudahan jadi berkah untuk kita semua.”

Ini nomer 2, mau merawat dan mau menerima tanah dan sawahnya. Namun tidak memintanya. Siap menerima fitnah dunia dan akhirat termasuk diantaranya gunjingan dari tetangga.

Jangan sampai kita memilih menjadi nomer 3, ini yang tidak baik dan termasuk dzolim. Dzolim ke diri sendiri maupun ke orang lain, ketika ada orang yang datang seperti itu pertimbangan kita adalah untung dan rugi.

Kita menghitung berapa lama kita akan mengasuh orang tersebut, dengan hitung-hitungan sepeninggal orang tersebut kita bakal mengeruk keuntungan yang besar. Kalau niat seperti ini jelas tidak baik dan dampaknya luar biasa, kita akan merasa rugi kalau yang kita rawat tersebut orangnya sehat terus dan berumur panjang.

Ketika terjadi seperti itu pasti kita tidak akan ikhlas, inilah fitnah dan kedzoliman bagi orang yang kurang paham agama. Gara-gara tanah dan uang jadi dzolim kepada orang lain.

Setelah sekian tahun, orang yang dirawat tersebut masih sehat dan justru kita yang dipanggil Allah. Pasti setan akan bernyanyi. “Tahu rasa kamu”. Malaikatpun akan berkata, “Kamu pasti amat rugi”. Sebagai orang yang beragama, kita pasti tidak memilih yang seperti ini.

Berbeda cerita jika orang yang datang tersebut tidak membawa apapun maka tidak jadi soal. Justru yang membawa tanah dan uang itu bisa jadi sumber malapetaka. Bagi yang beriman dan beramal shalih tidak jadi masalah.

Itulah dunia, yang seharusnya mendapat tempat terbaik di surga namun justru diseret malaikat ke neraka. Karena dzolim, niatnya tidak lurus. Kalau niatnya sudah tidak baik, maka hasilnyapun pasti tidak baik.

Dzolim adalah sesuatu yang kurang pas, mengapa selama ini hidup kita tidak bisa bahagia, kurang merasa tenang? Mungkin selama ini hubungan kita dengan Allah kurang pas. Apa itu? Harus dicari dulu. Bisa jadi sulit menemukannya karena kita sendiri kurang paham.

Ketika Adzan berkumandang, apakah pas jika kita pura-pura tidak mendengarnya? Kurang pas, apalagi hanya karena alasan pekerjaan, bisa jadi inilah sebab kita tidak menerima keberkahan dan ketenangan hidup.

Padahal kelak ketika akan menuju surga juga akan dipanggil. “Wahai semua yang wajahnya bersinar, berkumpullah ke sini.”

Semua akan segera memenuhi panggilan tersebut. Namun tidak bagi yang di dunia pura-pura tidak mendengar panggilan Allah.

Ketika dipanggil oleh Allah pura-pura tidak mendengar, jelas itu tidak pas. Dipanggil orang tua saja harus segera mendatanginya, demikian juga ketika dimintai tolong oleh kawan atau tetangganya. Kita harus segera meresponnya, jika tidak bisa pun harus merespon dan menyampaikan alasannya.

Apapun yang kita terima, apapun yang terjadi dengan kita, tidak ada yang jelek di sisi Allah semua ada nilai baiknya, tidak mungkin Allah berbuat jelek, dan Allah tidak mungkin dzolim terhadap hambanya. Haram bagi Allah.

Jika ada yang kurang, jelas karena manusia banyak yang mendzolimi dan kurangnya pengertian karena kurang pengertianlah kita masih banyak mengeluh, merasa susah dan hidup kita tidak nyaman. Tapi kalau mengerti, hidup ini nyaman, baik nyaman di dunia dan akhirat, semua tergantung kita yang menyikapinya.

Air hujan jatuh dari langit ke tanah semuanya baik, ketika jatuh ke tempat yang subur, dia akan jadi subur, tanaman akan menjadi hijau. Buahnya bisa dimanfaatkan, sama nilainya dengan rahmat dari Allah. Rahmat Allah muncul didiri orang-orang sholeh, hidupnya bahagia dan bisa membuat bahagia kanan kirinya.

Namun ketika hujan jatuh ke tempat yang tandus, dia tidak berbekas sama sekali, ketika jatuh di atas daun talas dia akan jatuh tergelincir. Begitu banyak orang yang diberi nikmat Allah namun tidak membuat bekas sama sekali.