Inti Kandungan Surat Asy-Syams

(Foto: Pinterset.com)

Surat Asy-Syams diawali dengan sumpah dari Allah, sumpah bukan suatu perkara yang ringan. Maka tidak boleh digunakan untuk sembrono, sumpah harus benar-benar diperhatikan dan dipahami, jangan sampai dalam hidup ini kita melanggar sumpah kita sendiri.

Jika sampai seperti itu maka akibatnya akan sangat berat. Orang kalau sudah berani bersumpah dan dilanggar sendiri akibatnya sangat tidak baik.

Allah bersumpah dengan nikmat-nikmat yang sudah diberikan kepada semua hambanya, banyak sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Saking banyaknya, kadang kita malah memandangnya sebagai hal yang biasa saja.

Dalam hidup ini jika yang selalu kita rasakan adalah kesusahan, itu berarti kita kurang bisa merasakan nikmat dari Allah atau bisa dikatakan kita kurang bersyukur. Jika kita bisa merasakan nikmat dari Allah maka hidup kita akan terasa nikmat, seperti kita berrnafas, makan minum, tidur dan semua aktifitas hidup terasa nikmat.

Sangat perlu kita bisa merasakan nikmat yang begitu besar dari Allah, faktor yang menjadikan hidup kita terasa susah sebenarnya hanya sedikit saja, yang menjadikan hidup kita terasa susah lebih karena kenyataan yang kita terima tidak sesuai dengan yang kita inginkan, kadang hal yang sepele saja.

Contoh kecil saja, saat kita menghadiri suatu acara di malam hari yang dingin, kita berharap dapat suguhan minuman yang hangat, namun ternyata yang disajikan adalah air putih saja. Ini bisa menjadi sebab mengeluh. Seperti ini contoh bahwa kita kurang bisa merasakan nikmat dari Allah.

Bagaimana rasanya jika benar yang tersaji saat itu adalah minuman hangat? Seperti yang kita harapkan namun di saat yang sama kita sedang sakit sariawan yang cukup parah di bibir dan mulut kita. Apakah tetap bisa menikmati minuman hangat tersebut?

Demikian juga saat kita menyantap makanan yang lezat tapi saat itu hati kita sedang kecewa. Apakah masih bisa merasakan kelezatan itu?

Harus dipahami bahwa jangan sampai hidup kita kurang bisa merasakan kebahagiaan hanya gara-gara tidak sesuai dengan yang diharapkan. Inginnya dihormati, namun ternyata kurang dihormati. Inginnya untung ternyata rugi. Serasa Allah sudah tidak memberikan kenikmatan berupa rejeki kepada kita. Padahal Allah selalu dan pasti memberi rejeki tiada henti.

Sementara pengertian rejeki dan gaji berbeda. Kalau gaji ada hitungannya, ada waktunya. Sedangkan kalau rejeki tidak ada batasan waktunya, sepanjang waktu kita bisa diberikan rejeki oleh Allah. Tidak semua orang punya gaji, tapi semua orang punya rejeki, ini tidak bisa terelakkan.

Hidup ini adalah sebuah nikmat dari Allah, kuncinya apabila kita bisa merasakan nikmat yang telah Allah berikan, jangan sebaliknya justru dibuat menjadi susah.

Ayat-ayat dalam Asy-Syam ini menerangkan bahwa banyak nikmat Allah yang begitu besar namun kita hakikatnya fakir. Fakir itu pengertiannya bukan tidak punya harta, melainkan butuh.

Dalam hidup kita mempunyai banyak kebutuhan, semakin seseorang mempunyai harta yang banyak, kebutuhannya juga semakin banyak. Itu sudah pasti.

Selama ini kebutuhan kita amat banyak. Seperti saat lapar butuh makan, saat haus butuh minum, saat dingin butuh selimut, saat kepanasan butuh berteduh, saat capek butuh istirahat, butuh udara, butuh bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, butuh air.

Kebutuhan tersebut semua sudah disediakan oleh Allah. Namun di luar semua itu, kita juga butuh anugerahnya Allah. Kita butuh hidayahNya juga agar hidup kita mulia dunia akhirat.

Tidak semua orang dianugerahi hidup menjadi orang mulia. Banyak yang menjadi hina. Kenikmatan yang sudah kita rasakan tiap hari, kadang tidak pernah kita perhatikan. Karena manusia bisa merasakan sehat itu mahal harganya ketika sudah jatuh sakit. Ketika sehat semua seperti biasa saja, maka ketika kita diberi sakit jangan diterima sebagai sebuah penderitaan. Justru bisa dijadikan sarana untuk bisa merasakan betapa nikmtanya sehat.

Nikmat kita diluar begitu banyak begitu juga nikmat di dalam diri kita. Kita diberi nikmat yang bisa merasakan nikmat yang ada di luar kita itu ternyata juga ada kaitannya nikmat yang ada di dalam diri kita.

Nikmat yang di luar kita bisa dirasakan apabila jiwa kita sudah merupakan jiwa yang baik. Saat kita menuntut ilmu salah satu tujuannya adalah untuk membenahi jiwa kita.

Disebutkan dalam kitab Nashaibul ‘Ibad bahwa Allah itu tidak pernah dholim. Di ayat al qur’an juga diterangkan bahwa Allah akan melaknat orang dholim. Tanda orang yang dilaknat Allah itu hidupnya tidak akan bahagia. Ciri-cirinya adalah hidupnya tidak tentram, itu adalah indikasi hidupnya tidak mendapat nikmat dan rahmat dari Allah.

Maka tugas kita adalah jangan sampai nikmat yang kita terima berubah jadi laknat. Lihat saja orang yang sedang bertengkar. Sebenarnya nikmat yang mereka terima sudah komplit. Bisa dipastikan orang yang bertengkar adalah orang yang sehat. Tidak mungkin orang yang sedang sakit bertengkar. Orang yang memindah patok sawah tetangganya dipastikan juga orang sehat. Orangnya jelas sehat namun jiwanya yang sakit.

Di ayat ini diterangkan ternyata orang-orang yang memusuhi Nabi, hidup jadi hina. Mereka menjadi celaka bukan karena faktor Allah tidak memberi nikmat kepada mereka, namun justru karena Allah memberi begitu banyak nikmat yang nikmat tadi tidak digunakan untuk kebaikan.

Jika nikmat tidak menjadikan hidup kita mulia berarti nikmat ini telah kita salah gunakan. Kalau hidup kita menjadi orang hina, menjadi orang yang dibenci oleh banyak orang.

Sejak jaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, orang-orang yang memusuhi Nabi adalah orang-orang yang diberi kelebihan oleh Allah. Orangnya sehat, pintar. Akan tetapi kelebihan itu tidak digunakan untuk hal baik tapi malah dipakai untuk maksiat ke Allah.

Hidup ini jika tidak kita pakai untuk taat, berarti hidup kita mendapat laknat. Laknat itu ada tingkatannya. Ada laknat dari kecil sampai laknat yang besar. Laknat kecil tandanya cukup mudah, yang melakoni tidak nyaman, yang melihat juga tidak nyaman. Laknat menjadikan hidup kita tidak nyanan.

Sebagai contoh sederhana, kita memakai peci yang terlalu kecil ukurannya. Peci tersebut milik anak kita. Kira-kira kita yang memakai apakah nyaman? Yang melihat apakah juga nyaman?. Demikian juga kalau memakai peci yang terlalu besar. Yang memakai kurang nyanan. Yang melihat juga kurang nyaman. Ini contoh makna laknat kecil-kecilan

Contoh laknat yang lebih besar, peci digunakan di kaki, sebaliknya sandal ditaruh di kepala. Ini sudah seperti orang gila. Akal sehatnya sudah tidak digunakan. Orang yang tidak menggunakan akal sehat tidak pernah ingat dan berfikir bahwa kejahatan yang dia lakukan akan kembali ke dirinya sendiri.

Jika ada anak berani kepada orangtuanya, maka itu sudah termasuk kategori akalnya tidak normal. Orang yang memindah patok tanah tetangganya, juga termasuk akalnya tidak sehat. Memindah patok tidak akan ada keberkahan sama sekali. Justru dampak negatifnya besar sekali.

Kategori yang tidak berakal sehat lainnya. Kalau ada orang kaya mencuri milik dari orang yang miskin. Kalau orang tidak punya mencuri ke orang kaya, masih agak masuk akal. Orang kaya mencuri barang milik orang yang miskin termasuk kategori orang yang mendapat laknatnya Allah. Itu sangat keterlaluan, sudah semestinya, orang yang kurang mampu justru perlu kita bantu.

Termasuk orang yang dilaknat Allah adalah orang yang berbuat salah yang disengaja. Juga berbuat salah namun tidak merasa bersalah.

Seorang sahabat bertanya ke Nabi SAW, apa ada wahai Nabi orang yang akalnya sehat, diberi kelebihan harta, lantas dia mencuri dari orang yang tidak punya? Jawab Rasulullah, “Ada. Dialah orang yang sudah wajib membayar zakat, namun dia enggan membayarnya”. Orang seperi itu tidak mungkin hidupnya tentram. Dunia akhirat.

Nikmat apapun bentuknya jika tidak ditambah dengan nikmat yang berbentuk hidayah, maka nikmat tersebut bisa berubah menjadi laknat. Belum tentu orang yang mendapat banyak nikmat dia akan menjadi orang baik.

Kita ambil contoh, misalnya menjadi petani cabe, semua doanya pasti sama. Yakni semoga berbuah banyak dan saat panen harganya mahal, ternyata benar, buahnya banyak, namun faktor yang kedua yakni harga tidak sesuai dengan yang diinginkan. Harga yang menentukan bukan kita sendiri.

Saat itu anugerah Allah seperti tidak Nampak, sudah diupayakan sebaik mungkin saat menanam dan memelihara, ternyata saat panen harganya pas jatuh.

Harga yang menentukan pasar, pasar sesuai dengan keadaan saat itu. Artinya saat kita panen banyak dan harga sedang bagus-bagusnya itu adalah anugerah Allah yang paling luhur. Saat panen banyak dan harga jatuhpun sebenarnya kita bisa jadi orang dermawan. Apabila cabe hasil panenan bisa kita bagi-bagi ke tetangga dan kerabat kita.

Sebaliknya, saat panen banyak dan harga mahal apakah lantas membuat kita jadi dermawan? Umumnya tidak. Apakah juga menjadikan hidup kita lebih tentram? Juga belum tentu. Bisa saja malah merasa khawatir jika diambil orang lain dan lain-lain.

Apabila kita mampu menjadi orang yang dermawan saat panen banyak dan harganya mahal, di saat banyak orang membutuhkannya, saat itulah kita menjadi orang yang diberi nikmat dan menjadi berkah. Jadi sarana kita menjadi orang baik dan mulia.