Hidup adalah Anugerah dari Allah

Hidup adalah anugrah dari Allah. (Foto: Pinterest)

Semua masalah yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia ini sebenarnya termasuk kecil, bukan bermaksud untuk menyepelekan, namun jika kita simak Surat Asy Syam, kita diajak untuk merasa oleh Allah dengan segala nikmat yang kita terima, karena nikmat tersebut sudah biasa kita rasakan sehingga menjadi sesuatu hal yang biasa saja.

Pertama, wasy syamsi wadhuhaahaa, kita bisa merasakan, kita bisa melihat dengan nyata bahwa Allah membuat matahari. Manfaatnya luar biasa. wadhuhaahaa dan sinarnya di pagi hari khususnya di waktu dhuha.

Matahari di waktu pagi hari itu sudah diatur oleh Allah sinarnya sangat bagus untuk kehidupan ini. Setiap hari kita merasakan manfaat tersebut, namun terasa sangat biasa, padahal suatu saat nanti akan berakhir.

Jika saat ini kita mempunyai masalah dan itu kita besar-besarkan, selagi matahari masih bersinar maka masalah kita ini hanya masalah yang kecil saja. Contoh, kita tidak mempunyai uang, jika matahari masih bersinar maka ketidakpunyaan uang itu masih termasuk hal yang kecil.

wasy syamsi wadhuhaahaa, anugerah yang luar biasa Allah menciptakan matahari dan sinarnya sehingga ada siang dan malam.

Wal qomari idza talaha, dan rembulan bercahaya di malam hari. Sangat berfaedah untuk manusia, bagi orang Jawa rembulan bisa digunakan untuk menghitung hari. Rembulan dimulai dari kecil sampai membesar dan kembali ke kecil lagi, namun matahari tidak seperti itu.

Wannahari idza jalaha, dan ketika siang hari Allah bersumpah dengan ciptaannya tersebut sebab banyak orang yang sudah tidak memperhatikannya. Allah membuat siang hari dengan aneka macam kesibukannya.

Wallaili idzaa yaghsyaa, dan ketika malam sudah diliputi dengan kegelapan. Idealnya siang itu untuk bekerja dan malamnya untuk istirahat, struktur tubuh kita sudah diatur seperti itu. Jika kita bekerja di malam hari lalu siangnya banyak tidur itu secara kesehatan kurang bagus. Demikian juga bekerja terus menerus kurang tidur, tidak baik. Terlalu banyak Tidur dan tidak bekerja juga tidak baik.

Wassamaa I wamaa banaahaa, langit yang ada di atas sana dengan bermacam keadaan yang ada di atasnya. Ada mendung, hujan, bintang, planet, meteor dan banyak lagi lainnya.

Wal ardi wama thaha, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya yang digelar oleh Allah. Sungguh nikmat yang agung, semua ini masih ada dan bisa kita rasakan dan belum ada yang sirna.

Matahati, bulan, siang dan malam semua masih ada hingga saat ini. Jika kita bertingkah seenaknya dan bumi diperintahkan Allah untuk bergoyang walau hanya beberapa menit saja, kita sudah tidak berdaya.

Dalam sejarah gempa bumi yang pernah terjadi durasinya hanya beberapa menit saja. Bagaimana jika Allah berkehendak gempa buminya selama sehari semalam? Jika sudah seperti itu walau kita punya uang segudang dan emas permata berkilo-kilo maka sudah tidak berguna lagi.

Wanafsiw wama sawwaha, dan Allah juga bersumpah karena ini sudah perkara besar yang sebenarnya kecil jika dihitung secara fisik namun pengaruhnya luar biasa di kehidupan manusia, nafs. Wama sawwaha dan pengaruh di dalam jiwa ini. Ternyata adanya beberapa nikmat jika sudah dipegang oleh jiwa-jiwa yang baik akan berbeda dampaknya.

Fa alhamahaa fujurahaa wataqwaahaa, Allah memberi sinyal di jiwa kita sehingga kita mampu merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itu tidak memerlukan kepintaran, tidak membutuhkan ilmu yang tinggi. Di dalam hati kita bisa merasakan jika kita sedang berbuat tidak baik.

Orang yang mencuri itu sebenarnya bisa merasakan bahwa yang mereka lakukan itu tidak benar. Apa tandanya? Mereka takut di ketahui orang lain, dan selalu was-was. Maka jika sinyal itu ditutupi dengan yang namanya kebutuhan, keinginan maka potensinya bisa tertimbun sehingga kita tidak menjadi manusia yang mulia bahkan sebaliknya, kita menjadi manusia yang hina.

Karena nafsu itu macam-macam, nafsu itu dekat dengan fisik kita atau dhahir. Dhahir ini memang diberi anugerah oleh Allah. Contoh, lidah kita ini dianugerahi oleh Allah bisa membedakan rendang dan tempe.

Jika dengan nafsu kita bisa merasakan rendang lebih lezat daripada tempe. Namun jika dengan akhlak kita bisa merasakan kita sedang makan bersama dan kita lebih menyukai rendang daripada tempe.

Maka saat rendang tersebut ada di depan kita, yang baik adalah setelah mengambil rendang tersebut hendaknya rendang tersebut lantas diputar. Agar yang lain juga ikut merasakan rendang tersebut, jangan karena kita menyukainya lantas tidak peduli dengan yang lain.

Maka di sini nafsu dijadikan sumpah oleh Allah dan disejajarkan dengan nikmat-nikmat yang begitu besar, kenapa? Karena nafsu ini kadang kita tidak merasakan nikmat Allah yang begitu besar, karena nafsu itu keinginannya bermacam-macam, jika dituruti tidak akan ada habisnya.

Maka berbahagialah orang yang beruntung dengan adanya langit, bumi, udara dan se isinya, yang dengan itu semua bisa membersihkan jiwanya, serta digunakan untuk taat kepada Allah.

Banyak orang seperti yang diceritakan dalam al Qur’an, telah diberi kemudahan dan kelebihan dengan harta benda, ilmu dan kedudukan tetapi karena nafsunya tidak diarahkan untuk taat kepada Allah akhirnya tidak menjadi orang yang mulia, tetapi malah sebaliknya, menjadi orang yang hina.

Dari ayat-ayat tersebut bisa kita rasakan, apapun masalah kita selagi matahari masih bersinar, rembulan masih ada cahayanya, masih ada siang dan malam, langit masih gemerlap, serta bumi masih menumbuhkan banyak tanaman, berarti nikmat Allah yang agung masih ada dibanding cobaan hidup kita. Itu sangat kecil. Tidak ada apa-apanya.

Jikabumi sudah digoyangkan, planet-planet sudah ditabrakkan, air laut dinaikkan ke daratan, matahari sudah tidak terbit, itu adalah masalah terbesar bagi kehidupan kita. Karena semua yang kita miliki sudah tidak ada manfaatnya, kecuali iman dan amal soleh.

Maka orang soleh yang sudah memegang ilmunya, semua cobaan hidup dijadikan ladang amalnya, dijadikan jalan untuk mendapat rahmatnya Allah. Orang-orang soleh pasti hidupmya nyaman, hidupnya tidak kagetan, dan tidak berantakan.

Sebenarnya yang menjadikan berantakan itu bukan masalahnya namun cara kita dalam menyikapi masalah tersebut. Karena dari sisi nafsu kita yang belum bisa menyikapinya dengan benar. Maka wajib hukumnya kita merawat potensi jiwa yang bersih. Dengan apa?

Pertama, jiwa kita akan bersih dan hidup kita akan tenteram dengan syarat kita mengikuti aturan Allah. Hidup kita ini diatur oleh Allah. Semua masalah yang timbul karena kita tidak mengikuti aturan Allah. Ketika kita tidak taat terhadap aturan Allah pasti akan timbul masalah dalam hidup kita.

Selanjutnya, taat terhadap aturan negara. Taat aturan keluarga dan masyarakat. Jika kita taat, dunia akhirat lancer, dijamin hidupnya bahagia. Insya Allah selamat dan jiwa kita dibersihkan oleh Allah.

Maka ketika kita berpuasa, sholat dan ibadah lainnya kita belajar apa manfaat dari ibadah tersebut. Jangan sampai setiap hari melakukan tapi manfaatnya tidak kita rasakan.

Kedua akhlak, kita harus bisa menjaga akhlak yang baik, karena akhlak yang baik akan mendukung jiwa yang bersih. Jika kita tidak mempunya ‘suba sita’, akhlak yang baik kepada Allah, orangtua, keluarga dan diri sendiri berarti kita mengotori diri kita sendiri.

Akhlak kepada sesama diwujudkan dengan menjaga perasaan orang lain seperti menjaga perasaan kita sendiri. Kita mencintai orang lain seperti mencintai diri kita sendiri.

Akhlak adalah faktor yang bisa membedakan manusia dan bukan manusia. Maka jika kita menggunakan milik orang lain, atau mengambil milik orang lain maka akhlaknya harus minta ijin.

Jika kita mengambil milik orang lain walaupun kecil tanpa seijinnya berarti akhlak kita bukan manusia tapi akhlaknya hewan. Dengan seperti itu tidak mungkin kita akan menjadi mulia.

Hidup ini adalah anugerah dari Allah, kita harus menikmatinya. Ketika kita bisa menikmati maka akan mendapat nikmat dunia akhirat dan tidak mendapat laknat.

Begitu banyak orang yang diberi nikmat oleh Allah, namun tidak sedikit juga yang mendapat laknat. Banyak orang yang diberi harta melimpah tapi tidak bisa menjadikan hidupnya tenteram berarti harta tersebut tidak menjadi nikmat tapi menjadi laknat.

Jika ada orang yang mempunyai pangkat tinggi namun tidak bisa menikmati pangkatnya, itu berarti pangkatnya menjadi laknat dari Allah.

Demikian juga seseorang dengan ilmunya tidak menjadikan hidupnya tenteram berarti ilmunya tidak mendapat rahmat dari Allah, sebaliknya mendapat laknat dari Allah.

Jadi agar jiwa kita tetap bersih harus taat terhadap aturan, akhlak yang baik dan jiwa kita mesti dihiasi dengan sifat-sifat Allah. Kesenangan harus kita kendalikan, jika itu hal yang baik kita kerjakan, jika bukan hal yang baik kita harus bisa mengeremnya.