Ciri-ciri Orang yang Mempunyai Batin Bersih

(Foto: Pinterest)

Ilmu tata dzahir maupun tata batin perlu kita pahami. Tata dzahir berkaitan dengan pakaian yang kita pakai, sebagai contoh, Secara tata dzahir pakaian bisa menentukan nilai seseorang, jika dihitung secara batin akan berbeda, jika seseorang menghargai diri sendiri, maka dia akan memakai pakaian yang sopan dan bisa menyesuaikan.

Umumnya, orang menilai seseorang dari penampilan lebih ke dzahir, jika secara hukum fiqih seperti itu diperbolehkan. Kita datang ke kantor pemerintahan atau bank, apabila pakaian yang kita kenakan meyakinkan, ditambah dengan mobil yang mewah besar kemungkinan akan lebih diperhatikan. Ini secara dzahir, kita kadang menilai seseorang dari dzahirnya saja.

Sedangkan tasawuf lebih ke tata batin, maksudnya dzahir hanya sekedarnya saja, lebih kepada batin, jika kita berpakaian yang dinilai Allah adalah niat kita berpakaian, namun jika niat kita berpakaian hanya untuk mendapat pujian nantinya bisa masuk ke pamer.

Seperti ini jiwa kita sudah berpenyakit, dan pada akhirnya kita tidak mendapatkan pahala, bahkan sebaliknya bisa menjadikan dosa, apabila ada kesombongan di sana.

Dalam hal ini dari kedua ilmu tersebut harus saling keterkaitan, artinya tata dzahir perlu untuk memperbagus tata batin. Tata batin juga penting untuk memperbagus tata lahir. Maksudnya baik itu ukurannya ya dzahir ya batin, dua ilmu tersebut saling berkaitan.

Bukan hanya batinnya saja yang harus diperhatikan dan malah melupakan lahirnya, jangan seperti itu. Namun berbeda jika ilmu batin saja. Jika ada seseorang yang ilmu batin saja yang ditekuni, tata dzahir tidak begitu diperhatikan. Berpakainnya sembarangan, mereka berprinsip Allah tidak melihat pakaiannya, dan yang dilihat hatinya.

Orang yang batinnya bersih dan sehat bisa dilihat dalam hidupnya. Pertama, dia menjadi orang yang khusyu’. Seperti ini untuk menilai diri sendiri. Kalau untuk menilai orang lain bisa keliru, dampaknya baru untuk orang lain. Kita belum berkewajiban memperbaiki orang lain apabila diri kita belum benar-benar baik. Kewajiban utama kita adalah memperbaiki diri kita sendiri.

Orang yang khusyu’ dapat menghadapi keadaan hidup dengan tenang, dia memiliki hati yang tenang. Setiap masalah yang dihadapi dicari solusi yang terbaik, bukan amarah dan kecewa yang dikedepankan.

Yang kedua, dia mempunyai jiwa yang tenang. Menghadapi apapun dengan ketenangan, yang dikedepankan sifat kasih sayangnya Allah. Ciri orang-orang yang dikasihi Allah selain dia banyak amal adalah mempunyai jiwa yang sangat tinggi yang terkait dengan sifat kasih sayang. Kasih sayang lebih dikedepankan.

Jika kita punya masalah di keluarga, biasanya bisa merenggangkan sifat kasih saying, padahal itu adalah modal utama. Maka apabila kita bergaul dengan keluarga, tetangga kalau ada permasalahan maka yang harus dikedepankan adalah sifat kasih sayang.

Itu yang luar biasa, apalagi seorang pemimpin, harus mempunyai sifat-sifat yang diwarisi dari para Nabi yakni sifat kesabaran, sifat ketulusan, sifat ketenangan, sifat mengasihi. Sebab menghadapi banyak orang dengan berbagai karakter.

Maka ciri yang kedua ini dia mempunyai sifat kasih sayang kepada siapa saja, kepada orang yang berbuat salah kita harus kasihan. Ada orang yang kurang baik kepada kita, kita harus tetap mengasihi, bukan malah dibenci. Jika ada orang yang bersikap tidak baik kepada kita dan kita masih benci, itu berarti jiwa kita belum sehat.

Semakin kita punya rasa benci kepada orang lain, siapa saja dia, semakin kita punya banyak penyakit. Kalau itu menurut ahli ilmu batin. Karena apa? Semua sudah kehendak Allah. Alhamdulillah kita dicipta menjadi orang baik, karena orang itu tidak sama.

Penerapannya dalam masyarakat, jika dalam suatu acara sudah diatur tempat duduk khusus tamu atau orang tertentu kita sebagai orang biasa harus bisa menyesuaikan diri. Apabila tempat duduk sudah disediakan untuk kita, sebaiknya kita langsung menempatkan diri saja. Jangan sampai merepotkan orang lain. Jangan duduk semaunya kita. Sepertinya baik, tapi sebetulnya malah merepotkan orang lain.

Sebagai gambaran saja, ada dua ulama yang memang mempunyai beda pemahaman. Ulama yang pertama, ketika dia datang ke sebuah acara, pengajian contohnya, dia memilih duduk membaur dengan jama’ah umum lainnya. Alasan tawadlu’. Panitia atau tuan rumah menghendaki agar dia duduk di depan dan menempati tempat yang sudah disediakan. Alhasil panitia menarik-narik agar mau duduk di depan.

Ulama yang kedua beda lagi, dia tidak mau seperti itu. Dia paham bahwa panitia sudah menyediakan tempat khususnya, maka dia langsung menempatkan diri di tempat yang sudah disiapkan.

Mana yang lebih baik? Sebaiknya mengikuti tuan rumah saja. Agar tidak merepotkan orang lain. Sekali lagi, tawadlu’ tidak harus diperlihatkan secara dzahirnya. Yang penting batinnya.

Ciri orang yang jiwanya sudah bersih adalah tawadlu’, artinya rendah hati, tidak sombong. Kalau dalam tokoh pewayangan dia seorang ksatria. Tidak dilihat dari kesaktianya saja, tapi dia mempunyai jiwa yang besar. Walaupun dia seorang yang bernilai tinggi atau mulia, dia tidak merasa mulia.

Jika kita punya karyawan atau anak buah yang bekerja membantu pekerjaan kita, tidak boleh kita perlakukan semau kita. Jika kita memperlakukan mereka semau kita, maka kita bisa masuk katergori sombong, dan itu termasuk penyakit yang dimurkai Allah.

Kita tidak perlu merasa lebih dari yang lain. Jika kita mempunyai karyawan, sebenarnya merekalah yang membantu kerepotan kita. Mereka yang menyelesaikan pekerjaan kita. Justru mereka harus dimuliakan. Jangan terbalik. Kita yang minta dimuliakan.

Bagi orang yang sudah mempunyai jiwa yang bersih, mereka manjauhi sifat seperti itu. Mereka tidak memakainya. Karena orang yang mulia itu adalah orang yang bisa menghormati orang lain. Siapapun dia.

Jangan sampai kelak di Hari Akhir kita dituntut oleh karyawan atau anak buah kita. Sebab kita sering menyakiti mereka. Terlebih lagi, tidak memenuhi hak-haknya.

Jangan sampai kita merasa jadi orang yang memberi pekerjaan. Merasa yang memberi gaji sehingga bisa berbuat sekehendak kita. Termasuk dalam berbicara. “Kamu bekerja di sini aku bayar,” yang seperti itu tidak boleh. Karena menyakitkan orang lain. Sesuatu yang memang menjadi kewajiban kita, tidak perlu diomongkan.

Menjadi orang yang sholeh itu jiwanya yang bersih dan tawadlu’. Orang yang sholeh itu sikapnya kepada orang lain amat luar biasa. Bisa memanusiakan manusia.

Dulu ketika pertama kali ada ketentuan semua organisasi masyarakat (ormas) Islam harus berasas tunggal Pancasila, beberapa ulama sepuh menyikapinya dengan sangat baik. Ketika ada pertanyaan, “Bagaimana ini Kiai, kita sebagai umat Islam koq diminta tunduk ke Pancasila, bukan Qur’an hadist. Kok sepertinya kita dipaksa?”

Para ulama sepuh, memberi jawaban, “Pancasila itu termasuk inti ajaran al Qur’an dan Hadist. Sebenarnya kita tidak dipaksa, justru kita dikembalikan ke inti dari al Qur’an dan Hadist. Kenapa bisa seperti itu? Karena dari Pancasila tersebut jika kita bisa menjalani 2 pasal saja maka kita sudah menjadi walinya Allah.”

Pertama sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Berarti kita bisa mengesakan Allah. Mengerti kewajiban kita kepada Allah. Bisa mengagungkan Allah. Bisa bersyukur ke Allah. Bisa ridla ke Allah. Maka hidup kita akan laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun.

Selama ini kita belum merasa bahagia dan selalu merasa kurang karena Ketuhanan Yang Maha Esanya tidak begitu dipakai. Ketika rejeki kita sedang tidak stabil, kita seakan-akan tidak punya Allah, seakan-akan Allah sudah tidak memberi rejeki kepada kita, itu menjadi sumber masalah.

Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Orang yang menjadi kekasihnya Allah adalah orang yang mempunyai jiwa kemanusiaan, dia merasa dirinya manusia, dan dia bisa memanusiakan orang lain.

Ini sudah walinya Allah. Siapa saja yang namanya manusia itu pasti berbeda agamanya. Tidak semua harus Islam. Dalam al Qur’an disebutnya bermacam-macam.

Yang namanya manusia itu pasti mempunyai paham yang berbeda-beda. Maka kita harus berusaha nyaman. Terhadap mereka kita tidak perlu merasa risih.

Orang sholeh itu orang yang sudah menjadi manusia seutuhnya, mempunyai sifat manusia. Bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.