Ada Kebaikan di Setiap Kejadian

(Foto: Pinterest.com)

Allah berbicara di beberapa ayat al Qur’an. “Wallahu Yuhibbul Muhsinin.” Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik termasuk orang yang hidupnya akan mendapat kemuliaan, kebahagian dan keberkahan adalah orang yang dicintai Allah.

Dicintai oleh yang memberi rejeki, dicintai oleh yang membuat langit bumi, dicintai oleh yang membuat dunia akhirat, itu adalah modal yang luar biasa agar hidup kita bisa bahagia dunia dan akhirat.

Kita harus berusaha menjadi orang baik karena orang baik itu yang akan ditunggu oleh para malaikat. Orang baik itu di mana saja dinantikan keberadaannya, sampai-sampai hewan pun senang terhadap orang baik.

Umat Nabi Muhammad SAW semua digadang-gadang menjadi orang baik, namun perlu diingat, bahwa untuk jadi orang baik perlu tahu ilmunya.

Untuk jadi orang baik pasti ada penghalangnya, termasuk penting yang akan dibahas adalah hati dan kejiwaan kita, jika hati kita sakit berarti fungsi hati kita tidak maksimal.

Mengapa jadi orang baik itu sulit? Karena hatinya berpenyakit, maka perlu disembuhkan, dan untuk menyembuhkan hati yang sakit adalah gampang-gampang susah, karena ini tidak menyangkut tata lahir, melainkan tata batin.

Termasuk yang menjadi penyakit hati kita diantaranya adalah iri. Kalo seseorang sudah iri, sulit jadi orang baik, hatinya sering panas.

Yang kedua adalah dendam, menyimpan rasa kecewa yang berkepanjangan akan membuat hidup terasa sakit.

Sebagai orang normal kita bisa merasa kecewa, namun jika rasa dendam dipelihara maka hati yang sebenarnya berpotensi jadi orang baik akan menjadi orang jahat.

Orang yang menyimpan rasa kecewa maka apapun yang dilihatnya dari orang yang didendami pasti tidak baik, jika berdoa dan berbicara pun pasti tidak baik.

Padahal di ilmu tasawuf, diantara empat perkara yang harus dipahami dengan baik bahwa kita dicipta Allah itu tidak bisa hidup sendiri, tapi agar hidup bersama, pada dasanya manusia adalah mahluk sosial yang juga membutuhkan orang lain.

Allah menghendaki hidup bersama itu jadi sarana menjadi baik, namun kadang ada yang salah untuk memahaminya. Sehingga hidup bersama malah jadi jalan datangnya dosa. Contohnya adalah berumah tangga, sebenarnya itu sebagai jalan untuk menggapai ridhanya Allah, tapi malah bisa menjadikan dosa.

Anugerah dari Allah bisa jadi berantakan jika kita menyimpan rasa kecewa yang berkepepanjangan. Padahal ulama-ulama ahli batiniah mengakui bahwa memberi maaf kepada orang yang bersalah adalah perbuatan yang berat, kecuali bagi orang yang mendapat hidayah Allah.

Kisah Nabi Yusuf, yang masa kecilnya dianiaya oleh saudara-saudaranya sampai dibuang ke dalam sumur. Akhirnya Yusuf ditemukan oleh seorang pejabat negara, lantas dididik dan diasuh, akhirnya Nabi Yusuf bisa menjadi pengganti sebagai pejabat negeri Mesir bagian ekonomi.

Saat Yusuf menjabat, ada sebuah kampung di mana saudara-saudaranya tinggal sedang mengalami paceklik, dikirimlah makanan oleh Nabi Yusuf.

Saat itu Nabi Yusuf tidak mengtahui bahwa yang dikirimi makanan tersebut adalah termasuk saudara-saudaranya, namun karena ayahnya juga seorang Nabi, beliau akhirnya tahu bahwa yang memberi makanan tersebut adalah Nabi Yusuf.

Akhirnya semua saudara Nabi Yusuf minta maaf, mereka mengakui kesalahannya. Ini adalah contoh orang baik. Yakni orang yang berbuat salah lantas mau mengakui dan meminta maaf.

Ada yang lebih baik yakni di dalam diri Nabi Yusuf, ternyata Nabi Yusuf tidak mau mengingat apa yang dia alaminya saat kecil. Dia tidak menaruh rasa kecewa dan dendam sama sekali ke saudara-saudaranya.

Luar biasanya justru Nabi Yusuf menyampaikan rasa terima kasih kepada saudara-saudaranya. Nabi Yusuf merasa bahwa justru dengan dianianya dia saat kecil menjadi jalan baginya menjadi orang mulia di waktu sekarang.

Sarana Allah memilih orang yang menenukannya di dalam sumur, lantas ada orang yang mengasuh dan mendidiknya sehingga jadi orang mulia.

Ada kisah seorang penasihat Raja yang setiap bertemu siapapun mengatakan bahwa dia adalah orang yang bahagia dan tidak pernah mengeluh.

Suatu hari dia diajak sang Raja berburu, kemudian dia diminta oleh sang Raja untuk memasangkan peluru, namun ternyata pelurunya terbalik yang seharusnya peluru tersebut meluncur ke depan namun malah berbalik ke arah sang Raja yang mengakibatkan jempol tangan sang Raja putus.

Sang Raja marah besar, namun sang penasihat Raja tersebut mengatakan bahwa peristiwa ini pasti ada kebaikannya dan pasti ada hikmah baiknya.

Mendengar nasihat tersebut sang raja makin marah. “Aku tidak terima. Kebaikannya apa dari kejadian ini? Kamu yang salah dan teledor sehingga peluru tersebut berbalik arah.”

Akhirnya sang Raja tidak terima, sedangkan sang penasihat menerima apapun keputusan dari sang Raja. Karena dia merasa bersalah. Akhirnya sang Raja memutuskan untuk memenjarakan penasihatnya.

Hebatnya sang penasihat tidak kecewa karena dipenjara, malah ia berterima kasih kepada sang Raja karena sang penasihat ini selalu meyakini bahwa ada kebaikan dari keputusan tersebut.

“Saya mengaku salah. Saya siap menjalani hukuman untuk menebus dosa saya. Semoga Allah mengangkat derajat saya dan derajat Tuan Raja”.

Setelah peristiwa itu, akhirnya sang Raja kembali berburu dengan para pengawalnya. Saat berburu tersebut sang Raja dan pengawalnya ditangkap oleh para kanibal yang memakan manusia.

Para kanibal tersebut memakan semua tawanannya kecuali yang cacat, sang Raja beruntung dia tidak dimakan oleh para kanibal karena ada cacat di jempol tangannya yang diakibatkan kecelakan saat berburu sebelumnya. Akhirnya sang Raja itupun bisa kembali ke istananya.

Sesampai di istana, dia perintahkan prajurit untuk membebaskan penasihat yang dipenjarakannya. “Hai penasihat yang bijak, ternyata yang kau katakan dulu benar. Jika saja jempol tanganku tidak putus maka aku sudah jadi santapan para Kanibal di hutan. ”

Sang penasihat pun mengatakan, “Seandainya aku tidak Tuan penjarakan maka aku tetap ikut berburu dengan Tuan dan aku pasti akan jadi tumbal para kanibal tersebut.”