Saatnya Bersiap Diri

Berdoa adalah ibadah dan sangat dicintai Allah. (Foto: pinterest)

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang dipakai para Nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga dipakai para sahabat Nabi dan ulama-ulama yang shalih, yang keberadaannya rahmatan lil alamin.

Dimanapun mereka berada selalu membawa kedamaian hati. Termasuk di dalamnya adalah Wali Songo. Mereka pantang membawa ilmu yang menjadikan resah di tengah masyarakat.

Pemahamannya sempurna, bahwa hidup ini beraneka warna, tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Maka hidupnya para wali tidak merasa berat, Jadi, jika ada ulama yang masih merasa bahwa hidup ini berat berarti dia belum layak disebut sebagai ulama.

Ilmu tasawuf dipakai para nabi dan mereka yang diselamatkan oleh Allah. Selama hidup mereka tidak pernah ada yang namanya hidup tanpa masalah. Semua masalah yang dihadapi para Nabi yang diutus Allah sudah mewakili semua masalah manusia.

Masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, anak, istri, tetangga dan masih banyak lagi lainnya, dan mereka berhasil dalam hidupnya.

Nabi juga punya sifat manusia. “Aku diperintah Allah agar mengajak kaumku ke jalan yang benar. Di al-Qur’an juga disebut, “Tidak minta upah.” Sifat ulama juga demikian.

jika ada ulama ketika selesai mengngaji melirik amplop, mempersoalkan uang saku yang diterima dari yang mengundangnya, maka ulama yang berfikiran seperti itu, ada pendapat dia akan menempati neraka yang paling bawah. Karena dia menjual ilmu Allah dengan uang. Dengan harga berapapun tidak boleh.

Mereka yang mengajak kaumnya kembali ke jalan Allah dengan mengingatkan bahwa mereka diberi karunia Allah yang begitu besar. Kebanyakan mereka yang memusuhi utusan Allah tersebut justru orang yang diberi kelebihan Allah, baik berupa akal, kedudukan, maupun harta bendanya. Yang mau mengikuti justru yang lemah-lemah. Mereka merasa dilindungi, sejarahnya seperti itu.

Maka ketika para Nabi secara tanggung jawab termasuk berat. “Gusti aku mengajak hambaMu namun, namun mereka malah menyepelekan bahkan memusuhiku.” Allah menjawab, “Jangan difikir terlaku berat.”

Maka jika ada kyai atau ustadz yang stres memikir umat dia belum termasuk kelas ulama, belum termasuk kelas ustadz atau kyai.

Jika sudah sekelas ulama, punya ayam atau kambing disembelih oleh tetangganya, silahkan sembelih saja. Tidak jadi masalah, punya mangga diambil orang lain ya biasa saja. Bukan sebuah masalah dan tidak perlu dipermasalahkan dengan serius.

Ketika mereka sampai pusing karena tanggung jawabnya sebagai manusia, Allah berpesan “Kamu harus memposisikan diri sebagai orang yang menyampaikan saja. Perkara hasil sudah ada yang mengurusi yakni Allah.”

Nabi ada yang diuji dengan anaknya, istrinya, kesehatan dan juga oleh kaumnya. Apa yang disampaikan oleh para Nabi dan utusan Allah tersebut?

Pertama adalah doa, doa adalah kemampuan yang luar biasa, kemampuan yang melebihi manusia karena ketika kita berdoa kita sedang menyambungkan diri kita ke kekuatan Allah. Ketika para shalihin hidupnya sudah tenang, mereka mencari guru yang bisa menyambungkan doanya kepada Allah, dan itu ada ilmunya.

Orang soleh jika berdoa langsung sambung dengan Allah, karena beliau berdoa tidak saat membutuhkan saja. Berbeda dengan kita, berdoa saat kepepet dan butuh saja.

Kebanyakan orang butuh Allah, saat tidak butuh melupakan Allah, hal seperti ini sudah biasa. Yang luar biasa adalah saat butuh maupun tidak butuh tetap menyambung kepada Allah.

Kunci dari penyelesaian masalah hidup diantaranya dengan berdoa. Maka Rasulullah mengajarkan agar apapun disertai dengan doa. Karena ketika berdoa, kita minta kepada Allah, menyambung diri ke kekuatan Allah. Jika kekuatan kita hanya kecil namun jika diberi kekuatan dari Allah maka laahaula walaa quwwata illaa billaah.

Maka masalah apapun yang kita hadapi, kita minta saja kepada Allah. Jangan terlalu difikirkan soal dikabulkan atau tidak, itu bukan urusan kita. Jika difikir maka akan malah akan menambahi perkara. Tugas kita adalah meminta, orang yang dianugerahi Allah untuk meminta maka permintaan itu akan dikabulkan Allah, jika tidak di kabulkan di dunia makan akan di kabulkan di akhirat.

Orang yang mau berdoa adalah orang yang dimuliakan Allah. Allah jelas beda dengan manusia, manusia sehebat apapun mempunyai tabiat tidak suka kalau dimintai, paling tidak kurang senang jika direpoti, jarang ada yang senang jika dimintai pertolongan.

Doa itu luar biasa, namun sering kali kita menyepelekannya. Sebelum makan, sesudah makan atau pada saat lainnya. Hajat yang besar perlu kita sertai dengan doa. Doa jangan untuk diri sendiri saja, sebaiknya anak-anak dan tetangga semua didoakan.

Rejeki didoakan agar berkah, akan berangkat kerja diawali dengan sholat Dhuha, kalau bisa dilanggengkan walaupun hanya 2 rekaat, minta ke Allah “Yaa Allah, aku minta rejeki yang halal, mudahkanlan ya Allah.” Bisa jadi hasilnya sama namun keberkahannya beda, di hati juga akan merasa lebih tentram.

Berdoa itu ibadah dan sangat dicintai Allah. Nabi Ya’kub ketika dihadapkan dengan masalah keluarganya, anak yang digadang-gadang jadi pewarisnya hilang karena dibawa pergi. Ditipu saudaranya, saudaranya diberi kepercayaan namun tidak bisa menggunakan kepercayaan tersebut.

“Yaa Allah, jikalau aku memikir anak-anakku aku pusing. Anak-anak yang seharusnya melindungi adiknya malah membinasakannya. Masalahku ini bukan masalah manusia lagi, bukan urusan fikiranku, bukan urusan tenagaku namun sudah menjadi urusanmu ya Allah.”

Apapun pemberian Allah adalah yang terbaik untuk kita. Kita diciptakan Allah seperti ini adalah sarana kita menjadi baik untuk menggapai ridlanya Allah. Belum tentu jika kita membayangkan orang lain itu baik, dia benar-benar baik, sekali lagi belum tentu.

Hidup ini semampunya saja tidak perlu menuruti keinginan, tidak akan ada habisnya. Jika saat ini umur kita sudah rata-rata di atas 40 Tahun. Sudah saatnya menikmati anugerahnya Allah. Sudah sekian lama kita bekerja, memikir berat, anak-anak sudah bisa mencari rejeki sendiri.

Sudah saatnya persiapkan diri untuk menghadap Allah. Seperti syair lagu Ilir-Ilir, sudah saatnya “ndondomi klambi kanggo seba mengko sore.” Jika tidak dipersiapkan dari sekarang bakal repot. Sudah saatnya “seba” tapi kita belum punya pakaian. Kita akan menyesal, karena ini urusan dengan Allah.

Setiap kita sudah diukur kemampuannya oleh Allah, maka kita tidak boleh iri dengan orang lain. Tidak boleh iri dengan keberhasilan orang lain, dengan doa kita mohon ke Allah jika ada masalah apapun maka Allah akan menyelesaikannya.

Kedua, dalam menghadapi cobaan para Nabi tidak cukup dengan doa saja, namun juga harus ada usaha serta ikhtiar. Semua Nabi tidak ada yang bergantung kepada orang lain. Hanya bergantung kepada Allah dan punya usaha sendiri.

Demikian juga para ulama, ketika mereka mendidik santri juga seperti itu. Kalau bisa hidup jangan sampai menjadi beban untuk orang lain.

Ketiga disempurnakan dengan tawakal, berserah diri kepada Allah. Jika 3 hal ini sudah kita lakukan dengan sebaik-baiknya maka akan dituntun oleh Allah. Tidak ada fikiran yang ruwet, tidak ada batin yang tersiksa. Jika sudah berdoa, usaha apapun bentuknya, lantas hasilnya diserahkan kepada Allah, apapun yang akan terjadi kita serahkan kepada Allah.

Ketika Nabi mengajari ilmu berserah diri kepada Allah, ada sahabat yang memang belum paham bagaimana seharusnya ketika berserah diri. Ada seorang sahabat yang ketika sampai di Madinah dia membawa onta dan tidak dia ikat. Lantas dia dipanggil oleh Kanjeng Nabi, “Wahai sahabatku, ontanya mestinya engkau ikat dulu.”

Dijawabnya, “Tidak, Kanjeng Nabi, onta ini urusannya dengan Allah. Sudah aku serahkan semuanya ke Allah.”

Dijawab oleh Kanjeng Nabi, “Tawakal seperti itu salah, diikat dulu baru diserahkan kepada Allah. Jika sudah diikat ternyata masih juga lepas dan berlari, engkau tidak salah. Hilangnya ontamu akan diganti oleh Allah. Jika sudah diikat namun tetap masih saja hilang, jangan khawatir, rejeki kita tidak akan luput. Apabila sudah jadi rejeki kita maka Allah akan mengembalikannya. Dari manapun jalannya.”

Doa, usaha dan berserah diri kepada Allah, ketiganya kita harus punyai. Kita minta yang terbaik dari Allah dalam hal apapun seperti rejeki, kesehatan, termasuk urusan akhirat. Jika sudah berserah diri, apapun yang terjadi itu sudah terbaik dari Allah.

Walaupun sepertinya pahit, tidak jadi masalah. Artinya di sini kita harus siap menerima apapun keputusan dari Allah. Jika orang sudah tidak menerima ketentuan dari Allah maka orang tersebut termasuk orang yang jiwanya terkena penyakit. Jika sudah terkena penyakit maka tidak akan bisa tentram hidupnya.