Hidup Mulia dengan Banyak Berterima Kasih

Hidup mulia dengan banyak berterima kasih. (Foto: Pinterest)

Sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman–12 ).

Menurut mayoritas pendapat ulama, Luqman bukan seorang nabi dan bukan seorang rasul. Namun beliau dianugerahi Allah mempunyai ilmu hikmah. Ini yang perlu dibahas. Barangsiapa yang diberi ilmu hikmah maka dia diberi kebaikan yang banyak sekali di dunia maupun di akhirat.

Dibahas dari ayat ini, ciri-ciri orang yang mendapat ilmu hikmah dari Allah adalah, pertama, tidak banyak mengeluh, dan kedua tidak banyak mencela. Jadi orang kalau sudah tidak banyak mengeluh dan mencela ia termasuk orang yang mendapat ilmu hikmah dari Allah.

Karena semua yang diciptakan Allah dan sekarang kita terima dengan segala bentuk dan keadaannya, itu semua anugerah dari Allah, harus kita terima dengan senang hati.

Diterangkan oleh Luqman Hakim, syarat utama agar kita diberi ilmu hikmah dari Allah yakni mempunyai ilmu kebijaksanaan. Ilmu yang bisa membawa seseorang menjadi orang baik. Seperti apa saja itu?

Yang pertama adalah sering mengucap terima kasih. Terima kasih ini adalah ucapan yang menyehatkan dan ucapan yang kadang dibutuhkan. Ada orang yang kecewa gara-gara tidak mendapat ucapan terima kasih. “Ditolong kok tidak menyampaikan terima kasih.”

Alangkah indahnya jika dalam keluarga sering mengucapkan terima kasih. Ini yang jarang kita lakukan. “Terimakasih ya bu, sudah 10 tahun menjadi istriku.”

Kalau bisa seperti itu akan luar biasa, namun jarang yang bisa melakukan itu, padahal ini ajaran Allah.

Mengapa kita jarang mengucapkan terima kasih ke istri kita? Bisa jadi karena istri kita juga jarang mengucapkan terima kasih kepada kita. Demikian juga sebaliknya, ucapan terima kasih merupakan ucapan yang bisa menjadikan seseorang menjadi mulia.

Kalau kita berterima kasih kepada orang lain, orang tersebut akan menjadi senang dan bahagia. Kata Al Qur’an “Kalau ada orang yang berbuat baik kepada kita, sebisa mungkin kita membalasnya dengan yang sama. Kalau tidak bisa, paling tidak jangan sampai lupa mengucapkan terima kasih.”

Maka ketika seseorang berpidato, apapun tugasnya, apakah dia sebagai wakil keluarga, panitia atau lainnya, ketika itu dia mewakili orang yang harus berbicara, pertama kali yang harus disampaikan adalah ucapan terima kasih, ini wajib hukumnya. tidak syar’i tapi harus.

Contohnya terima kasih untuk kedatangannya, sepertinya sepele, hanya ucapan terima kasih. Namun ini menjadi tanggung jawab kita ketika ada yang berbuat baik kepada kita. Bisa dimulai dari lingkungan terkecil kita, semisal ke tetangga kita.

Walaupun kalau dipikir, kita mempunyai makanan enak kita bisa makan sendiri. Namun hidup tidak seperti itu. Orang hidup butuh pengakuan, termasuk kebaikan dari berterima kasih adalah sebuah pengakuan kita terhadap orang tersebut. Semua akan kembali kepada kita sendiri, kita memuliakan orang lain maka orang tersebut juga akan memuliakan kita.

Terima kasih dalam bahasa agama, kita diminta untuk selalu bersyukur. Ternyata itu sangat luar biasa, dalam hidup ini banyak bermunculan masalah yang disebabkan oleh kurangnya rasa terima kasih.

Kurangnya berterima kasih kepada Allah akan menjadikan kita sebagai ahli maksiat. Kenapa ada anak yang berani kepada orangtuanya? Karena dia kurang berterima kasih kepada orang tuanya.

Kenapa ada suami istri selalu bentrok? Karena mereka kurang berterima kasih satu sama lain. Apapun jika dilandasi dengan terima kasih, walaupun hanya sebuah ucapan maka menjadikan yang jauh jadi terasa dekat, yang sulit jadi terasa mudah.

Kepada siapa kita harus berterima kasih? Pertama adalah Allah, Nabi Muhammad sudah terjaga dari dosa, ibadahnya diterima dan diridhoi Allah. Namun ketika sholat malam, kaki beliau sampai bengkak-bengkak.

Ketika Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah misalkan engkau tidak seperti itu, Anda sudah termasuk orang yang hebat. Beliau menjawab, “Apa yang aku lakukan ini hanya wujud terima kasih kepada Allah.”

Jadi jika ada orang yang kaya raya tapi masih bekerja keras jangan lantas dikatakan sebagai sesuatu yang negatif, “Mati nggak dibawa saja kok sampai segitunya.” Karena bisa jadi itu juga sebagai bentuk terima kasihnya ke Allah.

Dari ahli tafsir, kelak yang ditanyai di akhirat tidak hanya orang kaya saja namun orang miskin juga ditanyai. “Engkau di dunia kok miskin kenapa?” Jika jawabnya, “Saya malas bekerja.” Itu juga akan menjadi masalah. Namun jika dijawab,”Sebenarnya saya sudah bekerja keras ya Allah, tapi masih tetap saja masih miskin.” Itu masih lumayan. Berarti sudah ada bentuk usaha.

Jika sudah bisa berterima kasih secara lisan, maka yang lebih baik lagi adalah berterima kasih dengan tidakan, jadi tidak hanya diucapkan. Dalam surat Yaasiin ayat 65 disebutkan ‘al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn.’

Kelak di Yaumul Qiyamah, lisan yang biasanya mahir beralasan akan dikunci Allah sehingga tidak bisa berbicara lagi. Sebab kebiasaan lisan adalah mengatakan yang tidak sebenarnya.

Maka dikunci oleh Allah. “Cukup di dunia saja untukmu pintar beralasan, sekarang sudah tidak bisa beralasan lagi. Tidak berguna lagi, sebab ada bukti nyata.”

Untuk itu sebuah perkara yang sudah nyata sebaiknya tidak perlu diomongkan. Karena sudah ada buktinya. Bahkan secara ilmu hadits, “Perbuatan itu lebih memberi makna daripada hanya sekadar ucapan.”

Perbuatan yang merupakan perwujudan syukur yang akan jadi tanda bukti. Tangannya dipakai untuk apa, kakinya dipakai untuk apa, kelak semua akan melaporkan diri ke Allah.

Maka sebagai orang Islam, selain melafadzkan syahadat secara lisan yang kemudian diyakini dalam hati, selanjutnya diwujudkan dengan perbuatan. Yang menjadi masalah di dunia ini adalah orang Islam sendiri.

Kata Syeikh Abdullah Abidu, Islam itu ajarannya mulia, namun Islam itu dijatuhkan oleh orang Islam sendiri yang perilakunya tidak secara Islam.

Banyak orang bertikai, apakah ada ajaran Islam untuk bertikai? Bahkan sekarang ini banyak orang Islam saling menjelekkan satu dengan lain. Kita tidak tahu, apa kepentingannya dibalik itu.

Semestinya kita menutupi dan melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh teman kita, jangan malah dibuka. Jika teman kita sedang melakukan kesalahan, kita wajib mengingatkan, namun diingatkan secara baik. Ada aturan mainnya.

Kelak orang yang bentuk terima kasihnya sudah diwujudkan dengan perbuatan, maka dia akan diakui sebagai umatnya Kanjeng Nabi Muhammad. Kalau kita mengaku sebagai umatnya Kanjeng Nabi, pertanyaannya apakah Kanjeng Nabi mengakui kita sebagai umatnya? Belum tentu.

Di dunia ini ada istilah mengaku dan diakui. Mana yang lebih baik? Kalau diakui tidak usah diomongkan. Contohnya, “Saya ini orang baik lho.”

Ketika ada orang yang meninggal, lantas jenazahnya hendak diberangkatkan menuju makam, biasanya dipersaksikan apakah dia termasuk orang baik atau tidak. Kelak persaksian yang kita ucapkan akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah.