Rencana Solo Bersimfoni Terapkan Sekolah Adipangastuti di Jateng

Pertemuan antara pihak Solo Bersimfoni dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Senin (13/1/2020). (Foto: Setya Adhi Wicaksono)

Mugassari, Semarang – Sebuah organisasi sosial, Solo Bersimfoni, berencana untuk menerapkan model Sekolah Adipangastuti di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Jawa Tengah. Potensi dari pelaksanaan model  tersebut kemudian dikonsultasikan dalam sebuah audiensi di Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Senin (13/1/2020).

Pada pertemuan tersebut, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto berkonsultasi dengan Sarwa Pramana selaku Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Tengah.  Dalam pertemuan tersebut juga turut hadir Kepala Kantor Wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, yang menyambut baik rencana tersebut dan akan memasukkannya ke dalam program kebijakan tingkat Jateng untuk model Sekolah Adipangastuti.

Model Sekolah Adipangastuti merupakan model program yang menanamkan perilaku toleransi di kalangan remaja milenial. Model Sekolah Adipangastuti telah diterapkan di beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Surakarta. Farid berharap, ke depannya Solo Bersimfoni bisa menyebarluaskan program ini ke taraf Provinsi Jawa Tengah, supaya dapat menjadi pelopor sebagai sekolah toleran di Indonesia.

Sementara itu, Sarwa Pramana menyambut baik rencana Solo Bersimfoni dalam menyebarluaskan model Sekolah Adipangastuti. Dirinya berpendapat bahwa rencana ini sesuai dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mengenalkan budaya lokal. “Saya sepakat dan ini menjadi satu napas dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bahwa nilai kearifan lokal harus kita dorong kembali,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis Solo Bersimfoni.

Sarwa juga mengatakan, instansi sekolah di beberapa daerah dinilai sangat membutuhkan program pengenalan perilaku toleransi. Ia menambahkan, pertemuan tersebut akan segera ditindaklanjuti pihak pemprov. Pihaknya akan mendorong pelaksanaan program penerapan Hastha Laku di sekolah-sekolah dengan model Sekolah Adipangastuti.

Hastha Laku

Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa menjadi instrumen utama dalam menjalankan semua programnya. Implementasi dari pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni yaitu menjadikan aspek budaya Jawa menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan bersahabat.

Solo bersimfoni menyebutnya sebagai Hastha Laku atau delapan perilaku yang dikembangkan. Dilansir dari laman Solo Bersimfoni, delapan perilaku tersebut meliputi: tepa slira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap ashor (berbudi luhur), grapyak semanak (ramah tamah), gotong royong, guyub rukun, ewuh pekewuh (saling menghormati), dan pangerten (saling menghargai). Delapan nilai tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai dalam kehidupan yang harmonis.

Pengajaran Hastha Laku ini telah diterapkan di sejumlah SMA/SMK di Surakarta, dengan manghasilkan relawan kesalehan sosial yang mandiri dan bersinergi untuk mendorong perilaku toleran dan anti kekerasan. Para relawan dibekali kompetensi meliputi: kesadaran mendalam tentang pentingnya tindakan preventif untuk mereduksi perilaku intoleran di kalangan remaja dan anak-anak; kemampuan menguasai modul hastha laku dan penguasaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); dan menguasai strategi praktis komunikasi yang baik dan menarik.