Dosen UNS Paparkan Tips Cegah Virus Corona

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga Dekan FK UNS, Dr. Reviono, dr., Sp.P (K) sedang menerangkan bagaimana cara pencegahan terhadap virus corona, Senin (2/1/2020). (Foto: Humas UNS)

Kentingan – Awal tahun 2020 ini, masyarakat dunia dikejutkan dengan hadirnya virus corona. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga Dekan FK UNS, Dr. Reviono, dr., Sp.P (K) mengatakan bahwa virus corona merupakan virus baru penyebab penyakit saluran pernafasan. Virus ini memiliki kedekatan dengan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Dr. Reviono menyampaikan, penularan virus tersebut sangat cepat karena melalui manusia ke manusia. Sehingga masyarakat harus mengetahui gejala apa saja yang dirasakan jika terkena virus corona ini. Untuk gejalanya meliputi batuk, demam, kesulitan bernafas, ada riwayat kontak dengan pasien positif terkena virus corona serta yang bersangkutan melakukan bepergian ke luar negeri.

“Jika ada yang mengalami gejala seperti itu, maka segera periksakan diri ke pelayanan kesehatan atau rumah sakit supaya bisa segera di cek dan memperoleh tindakan medis,” katanya, Senin (27/1/2020).

Cara pencegahan

Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik, terdapat beberapa cara pencegahan yang bisa dilakukan, diantaranya yaitu dengan sering melakukan cuci tangan pakai sabun, gunakan masker, konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah, menjaga kebugaran tubuh, menghindari sumber infeksi, rajin olahraga dan istirahat cukup, jangan mengonsumsi daging yang tidak dimasak, dan jika sedang flu jangan keluar rumah supaya tidak jadi sumber infeksi.

“Selalu cuci tangan ketika habis bepergian itu sangat penting. Karena tangan kita sering menyentuh pegangan pintu, pegangan tangga, dan lainnya dikhawatirkan tangan kita terkena virus,” katanya.

Di Indonesia, lanjutnya, belum ada yang terjangkit virus corona ini. Pihak pemerintah juga telah siaga dalam menyikapi hadirnya virus corona ini. Yaitu dengan menutup penerbangan dari dan ke Cina serta memasang alat detektor panas tubuh di berbagai bandara.

“Jadi kalau ada yang terkena virus corona, maka suhu tubuh meningkat. Sehingga di beberapa bandara memasang alat ini untuk mendeteksi yang terinfeksi virus corona,” ujarnya.

Dr. Reviono menambahkan, bahwa kasus virus corona di Wuhan, Cina, telah menelan korban jiwa mencapai puluhan orang yang kebanyakan merupakan orangtua dengan penyakit peryerta. Sedangkan 80 persen penderita sembuh karena tidak ada penyakit penyerta dan usia tergolong masih muda.

“Sebanyak 80 persen pasien di Cina ini sembuh dengan sendirinya karena memang belum ada vaksin khusus virus corona. Sebagai contoh jika kita terkena flu, tidak minum obat pun bisa sembuh karena virus dengan umurnya bisa mati sendiri,” ungkap Reviono.

Ia menjelaskan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat interferon yaitu berupa protein alami yang diproduksi tubuh sebagai respon tubuh dalam melawan senyawa berbahaya, seperti virus.

“Kalau produksi interferon cukup maka virus bisa terkendali pertumbuhannya dan mati sendiri. Namun kalau sudah berusia tua dan ada penyakit yang disertai, produksi interferon tidak cukup dan virus bisa tumbuh terus,” katanya.