Dari Dana Desa Jadi Pasar Desa

Ada berbagai cara ditempuh pemerintah desa untuk membangun ekonomi masyarakat. Salah satunya memanfaatkan dana desa membangun pasar desa. (Foto: Kominfo Klaten)

Trucuk, Klaten – Ada berbagai cara ditempuh pemerintah desa untuk membangun ekonomi masyarakat. Salah satunya Desa Trucuk, Klaten. Memanfaatkan dana desa, diprakarsai kepala desa Sagiyo, Pemerintah Desa Trucuk memilih merintis ekonomi warga dengan membangun pasar desa.

Pasar desa itu diberi nama Pasar Dadi Mulyo. Terletak di pojok desa berbatasan dengan desa tetangga, persisnya menempati tanah kas desa. Dulunya tanah kas desa itu tempat langganan banjir.

Sebelum dibangun tanah ditimbun tanah, baru itu dibangun los pasar. Terletak strategis di tepi jalan kabupaten berjarak 10 km dari pusat kota Klaten arah ke timur, membuat pasar desa itu mudah dijangkau warga sekitar.

Walaupun jam jualan masih pendek dari jam 05.00 sampai jam 09.00 pagi, keberadaan pasar itu mampu menggerakan ekonomi warga sekitar.

Samini, pedagang makanan kecil asal Jonggrangan, Wiro, Bayat mengaku dengan berjualan di Pasar Dadi Mulyo bisa membantu anaknya kuliah.

“Sejak bapaknya meninggal enam tahun lalu, saya harus bisa menyekolahkan anak agar tetap kuliah. Beban keluarga sedikit terbantu dengan adanya pasar Dadi Mulyo. Dulu pernah jualan kelontong di pasar yang lain, tapi saingannya banyak sekarang pindah, dan berjualan snack. Snacknya sebagian buatan sendiri dan sisanya setoran warga. Alhamdulillah anak saya tetap bisa kuliah,” jelas Samini (Senin, 26/01/2020).

Untuk kenyamanan pedagang, Samini mengusulkan kepada Pemerintah Desa Trucuk agar pasar dilengkapi sarana toilet. Toilet baginya sangat dibutuhkan pedagang dan juga pengunjung pasar. Selama ini terpaksa pedagang harus pergi ke rumah penduduk untuk buang air kecil.

Dana desa

Sementara itu, Sagiyo, Kepala Desa Trucuk menjelaskan pembangunan Pasar Dadi Mulyo berasal dari dana desa dan menelan anggaran 82 juta.

Ide pembangunan pasar ini didorong untuk meningkatkan pendapatan warga desa. Pasar itu diresmikan tahun 2016 dan sekarang sudah ada 19 pedagang yang aktif berjualan setiap hari.

“Untuk retribusi pedagang ditarik 2 ribu tiap hari. Untuk pengelolaannya saya serahkan ke Bumdes Desa,” jelasnya.

Ditanya tentang rencana pengembangan ekonomi warga, Sagiyo menambahkan bakal membangun desa herbal. Tidak hanya itu, embung desa yang memanfaatkan sumber mata air juga disiapkan. Mata air itu sudah direvitalisasi. Pemerintah Desa Trucuk merencanakan menyandingkan embung itu dengan fasilitas kuliner tradisional warga setempat.