Victoria Concordia Crescit ala Dusun Jayan

Mentari mulai perlahan meninggalkan dunia yang penuh cerita, hari ini merupakan hari yang sangat indah di mana semua kenangan terangkai menjadi satu kisah yang penuh makna. Udara yang sejuk mulai menerpa tubuh ini, ditambah dengan hijaunya pemandangan yang memanjakan mata. Sungguh suatu kesempurnaan untuk kembali menyegarkan jiwa dan raga setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas di kota atau kawasan urban, yang oleh Plato disebut dengan cerminan dari kehidupan dalam ruang dan jagat.

Kesederhanaan masyarakat desa berbalut kesejukan alamnya membuat ingatan ini seketika berhenti dalam memikirkan penyesalan di masa lalu dan ketakutan di masa depan. Sore ini, kulihat anak-anak kecil berlarian di pemantang sawah dengan penuh rasa bahagia, ibu-ibu mulai keluar untuk bertegur sapa atau hanya sekadar bertukar cerita. Di pinggir dusun terdapat sebuah waduk yang sangat luas, di sinilah bapak-bapak mencari ikan untuk dijadikan lauk ataupun dijual demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang dusun ini sangat ramai dengan pengunjung yang ingin melepaskan penat dengan cara memancing di waduk. Memancing di waduk dengan setting alamiah memang sangat manjur dalam memanjakan pikiran seorang laki-laki.

Sungguh Maha Besar Allah yang telah menciptakan segala keindahan dengan penuh kesempurnaan. Meminjam istilah dalam konsep community building, dusun ini termasuk dalam kategori third place, di mana dusun ini merupakan tempat ketiga setelah rumah dan tempat kerja. Fungsi dari tempat ketiga adalah how they get you through the day, dusun ini menyediakan segala kebutuhan untuk dapat memenuhi kategori sebagai tempat ketiga, suatu tempat “netral” dengan kesejukan dan keindahan alamnya. Segala keindahan tersebut kutemui di kala sore di

Dusun Jayan, sebuah dusun yang kusebut sebagai third place tersebut berada di sebelah barat Waduk Cengklik (± 3km) dari bandara Adi Soemarmo, termasuk dalam Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Dusun ini merupakan dusun dengan intensitas interaksi masyarakat yang sangat baik. Selain sebagai third place, tempat ini merupakan neighborhood untuk menggambarkan interaksi masyarakat yang tinggal dalam kondisi berdekatan dan terpenuhi segala kebutuhannya dalam segi sarana prasarana. Berbeda dengan neighborhood di kota, neighborhood di Dusun Jayan terbentuk secara alamiah di mana homogenitas terbangun menembus perbedaan suku, ras, agama atau bahkan pendapatan.

Dusun Jayan memiliki social service berupa Taman Baca Masyarakat (TBM) Panggon Sinau, sebuah tempat yang didirikan dengan tujuan memberpaiki literasi masyarakat sekitar (Hidayat, 2017). Selain itu, TBM juga mampu memperbaiki interaksi sosial masyarakat dengan berbagai program yang mereka canangkan. Sedekah sampah, lapak baca, les Bahasa Inggris, perayaan hari besar nasional, TPA, dan berbagai kegiatan interaktif lainnya guna membentuk sumber daya manusia yang unggul di dusun. Interaksi yang terjalin di antara masyarakat memunculkan beberapa komunitas penggerak dusun seperti Karang Taruna Karya Jaya, ibu-ibu PKK dan bapak-bapak Dusun Jayan. Setiap komunitas memiliki gerakan masing-masing untuk terus memajukan sebuah dusun yang terdapat di sebelah barat Waduk Cengklik tersebut (Purwanto, 2019).

Bentang alam yang indah didukung dengan interaksi sosial masyarakat dan sarana-prasarana yang ada membentuk suatu harmoni keindahan bagi dusun tersebut sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berekreasi dan belajar. Pada tahun 2017, dusun yang memiliki slogan “Ayo Dolan Jayan” tersebut pernah bekerja sama dengan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dan Pusat Studi Budaya & Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk menyelenggarakan Festival Waduk Cengklik (Marwoto, 2017).

Suatu bargaining position yang tinggi bagi sebuah dusun untuk dapat bekerja sama dengan lembaga sekaliber UKP-PIP dan PSB-PS. Kerja sama tersebut membuktikan bahwa banyak potensi yang dapat dioptimalkan di sebuah dusun yang terdapat di sebelah barat Waduk Cengklik tersebut. Memang dusun yang mengusung konsep desa wisata berbasis literasi dan alam tersebut memiliki kesempatan besar untuk menjadi simbol sebagai desa yang mandiri di kawasan Nieuw Zeeland van Java.

Seiring dengan memerahnya langit sore, menjadi tanda perpisahanku dengan Dusun Jayan di hari ini. Dari pinggir waduk kulihat di sebelah barat terlukis Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang tersusun rapi. Di sebelah timur terlukis pula Gunung Lawu yang begitu besar dan satu pesawat yang baru saja take off dari bandara Adi Soemarmo, menambah kesempurnaan pengalaman pada sore ini. Sungguh ini akan menjadi suatu rasa syukur tersendiri pernah memiliki kesempatan untuk bisa menikmati sore di dusun yang terus menggeliatkan diri demi kebermanfaatan bagi penduduknya, baik dari segi pemberdayaan alam dan masyarakat. (Aris Purwanto)*

*Anggota Komunitas Panggon Sinau dan anggota Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Surakarta