Sunday Market UNS : Menggerakkan Sektor Informal Bersama Mahasiswa

Foto : http://sunmoruns.blogspot.com/

Kendati keberadannya acapkali dipandang sebelah mata, kawasan sektor informal sebenarnya dapat memberikan nilai tambah yang bermanfaat jika dikelola secara baik dan berkelanjutan. Hanya saja, memberdayakan sektor ini tidak mudah. Salah satu tantangannya terletak pada upaya membentuk kesadaran bersama mengenai potensi yang dapat digerakkan dari lini ini.

Di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) , terutama di hari Minggu, pedagang kaki lima dan UKM (Usaha Kecil Menengah) yang biasa memadati area depan kampus dikumpulkan dan diberi tempat yang layak oleh pihak kemahasiswaan. Keberadaan mereka tidak hanya membuat kampus tampak ramai belaka, namun juga memberi manfaat bagi mahasiswa yang ikut berkegiatan di area tersebut.

Sudrajat Priyo Tamtomo, koordinator Sunday Market UNS mengakui bahwa selain memberi ruang ekonomi bagi pelaku sektor informal, Sunday Market UNS juga bisa menjadi media sharing knowledge bagi mahasiswa, “bisa juga jadi wahana untuk mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat,” ujarnya.

Di area kampus UNS, ketika hari Minggu tiba, pedagang sektor informal yang lekat dengan sebutan kaki lima meramaikan lingkungan kampus. Di halaman LPPM UNS, mereka menempati tempatnya masing-masing dan asyik masyhuk melayani para pembeli. Sedangkan para mahasiswa yang berada di area itu, sembari mengawasi jalannya transaksi, juga melibatkan diri dalam proses sosial yang terjadi di sana.

Sudrajat menambahkan, bahwa Sunday Market UNS juga tengah menjalani proses menciptakan community government yang ramah dengan sektor informal dan UKM. Dan mahasiswa dapat mengambil peran sebagai intermediary actor atau pihak yang memberi konsep terpadu. Dengan kontribusi seperti itu, secara langsung tidak langsung, kampus berpartisipasi terhadap geliat ekonomi masyarakat sekitarnya.

“Usaha seperti ini harus kontinyu. Memang tidak mudah. Tapi ya harus ada kesamaan persepsi. Kalau itu sudah tercapai, jalan jadi lebih enak. Intinya tidak hanya memikirkan materi. Tapi juga kontribusi positif bagi sesama,” ungkapnya.

Selama ini, memang harus diakui, sektor informal tak banyak mendapat perlindungan ataupun pengakuan. Di sisi lain, sektor informal pun juga tidak memberi nilai tambah yang signifikan secara makro. Namun, dampak sektor ini tidak hanya berdasar hitungan ekonomi saja. Ada faktor-faktor sosial yang bisa membuat sektor informal lebih berdampak.

Sudrajat mengatakan agar sektor informal ini lebih berdampak, harus ada inovasi yang berasal dari hasil interaksi antara mahasiswa, pedagang dan pengelola. Inovasi akan muncul kalau ada kesamaan visi mengenai keberadaan mereka satu sama lain. Visi bisa dibuat ketika kesadaran bersama sudah beranjak. Sedangkan realisasinya, dapat terwujud ketika ego berbagai pihak bisa luruh dalam satu gerakan positif.

“Kesadaran ini yang harus dimantapkan. Jadi tidak Cuma memikirkan diri sendiri. Mesti ada yang mengingatkan dan juga membersamai. Dan itu bisa dari pihak kampus atau mahasiswa. Apalagi kalau kita ada konsep. Solidaritas bisa diperkuat. Asalkan konsisten,” tambah Sudrajat.

Di UNS, ketika Sunday Market berlangsung, tampak sejenis keberagaman ekonomi yang saling menghidupi satu sama lain. Tak ada sekat antara mahasiswa dan pedagang. Tak ada lagi sekat antara mahasiswa dengan masyarakt sekitar. Dan visi pengelolaan ekonomi yang inklusif di Sunday Market UNS dapat merekatkan semuanya tanpa melihat identitas ataupun latar belakang orang lain.

.

Add Comment