RSJD Surakarta Wujudkan Kepedulian pada ODGJ dengan Seminar dan Kreativitas Siswa

Seminar dan kreativitas siswa dengan tema “Sahabat Remaja Cegah Depresi dan Bunuh Diri” di RSJD Surakarta, Selasa (5/11/2019). (Foto: Humas RSJD Surakarta)

“Semula saya tidak terlalu memperhatikan, karena perubahannya berlangsung pelan-pelan. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa malam menjadi terasa lebih muram, saya mengawali pagi tanpa semangat, berjalan-jalan di pantai menjadi tidak menggairahkan, dan ada saat-saat di mana saya mengalami kecemasan yang hebat,” begitu penggalan materi terkait depresi yang disampaikan dalam seminar dan kreativitas siswa dengan tema “Sahabat Remaja Cegah Depresi dan Bunuh Diri” di RSJD Surakarta, Selasa (5/11/2019). Agenda tersebut merupakan acara puncak dalam rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS), setelah sebelumnya peringatan HKJS diawali dengan potong tumpeng, bakti sosial pelayanan kesehatan, dan lomba yel-yel & desain poster.

Pada acara puncak peringatan HKJS tersebut juga diumumkan hasil penilaian dari lomba yel–yel dan lomba poster yang diikuti oleh siswa SMA sederajat. Seminar dibuka oleh Direktur RSJD Surakarta, dr. Endro Suprayitno, Sp.KJ, M.Si, dan diikuti oleh nominasi siswa dengan karya terbaik, serta peserta seminar yang merupakan perwakilan siswa SMA di wilayah 7 Jawa Tengah.

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia menjadi wujud nyata kepedulian global akan pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kepedulian terhadap ODGJ, sebagaimana dalam situs resmi RSJD Surakarta, juga dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan pengetahuan kesadaran dan advokasi masyarakat di seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa.

Perlu Perhatian Khusus

Depresi merupakan suatu kondisi abnormal individu yang dapat diketahui dari menurunnya mood, sikap pesimis, kehilangan spontanitas dalam keseharian, serta dapat pula dilihat dari menurunnya gejala fisik lainnya. Depresi juga merupakan gangguan yang diakibatkan penyimpangan berpikir dalam bentuk interpretasi negatif yang dialami seseorang. Seseorang yang menderita depresi tidak melihat adanya harapan untuk kehidupannya dan merasakan kemalangan di masa mendatang (Beck dalam Davison, Neale & Kring, 2010). Nevid, Rathus, dan Greene (2005) berpendapat depresi adalah rangkaian tahap kesedihan dari peralihan masa ke masa, menangis, kondisi merasa begitu terpuruk, kehilangan minat dan perhatian dalam berbagai hal, sulit dalam berkonsentrasi, mengharapkan kejadian buruk terjadi, hingga muncul pikiran untuk bunuh diri.

Data yang dihimpun oleh Into the Light mengungkap bahwa sejumlah 21,8% responden berusia 15 tahun ke atas melaporkan gejala depresi sedang atau berat. Berdasarkan prevalensi usia, tingkat depresi tertinggi ditemukan pada rentang usia remaja atau dewasa muda (32% perempuan usia 15-19 tahun, 29% laki-laki usia 20-29 tahun, 26% laki-laki usia 15-19 tahun), dan cenderung menurun seiring pertambahan usia. Orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan atau berpendidikan tinggi memiliki prevalensi gejala depresi sedang atau berat yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang yang mengenyam pendidikan dasar atau menengah.

Gangguan perilaku yang muncul akibat depresi dapat berupa keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri sendi, sakit perut, dan llah berkepanjangan. Sering bolos sekolah atau berperilaku buruk di sekolah, ingin lari dari rumah, mudah marah, sering menangis, atau mengeluh terhadap segala sesuautu, merasa cepat bosan, tidak ada minat bermain bersama teman-teman, dan menggunakan zat adiktif atau alcohol. Depresi tidak selalu berarti mengurung diri di kamar, dan menangis sepanjang hari. Depresi itu bangun, bekerja, tersenyum, dan tertawa sepanjang hari, tapi kemudian pulang, duduk diam, kesepian, tanpa mengerjakan apa pun hingga waktunya tidur.

Faktor yang melatarbelakanginya pun tidak sedikit. Seperti usia muda, penyalahgunaan zat, penyakit kronis, kemiskinan, genetik, kurangnya dukungan sosial, pendidikan yang rendah, hingga tinggal di daerah rawan konflik. Beberapa cara yang bisa dilakukan terhadap orang dengan kencenderungan depresi yakni mencari tahu lebih banyak terkait depresi, tidak memutus komunikasi dan tunjukkan kepedulian saat penderita melampiaskan perasaannya, menganjurkan perawatan dan meminta pertolongan kepada ahli (psikolog/psikiater), serta mendukung pengobatan yang dijalani.