Peringati Hari Kesehatan Mental Dunia, HIMPSI Solo Gelar Talkshow di CFD

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kota Surakarta di kawasan CFD Jalan Slamet Riyadi Surakarta, Minggu (3/11/2019). (Foto: Humas USB)

Surakarta – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia 2019 yang mengangkat tema Working Together to Prevent Suicide, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kota Surakarta mengadakan kegiatan di kawasan CFD Jalan Slamet Riyadi Surakarta, Minggu (3/11/2019). Kegiatan yang mengangkat tajuk “Milenial Tangguh” ini memiliki rangkaian agenda mulai dari jalan sehat, talkshow, kompetisi inspiratif, dan akustik millennial tangguh yang diramaikan oleh Psychoustic (USB) dan Teater Lugu (Psikologi UMS).

Setiap tanggal 10 Oktober, World Federation for Mental Health (WFMH) melakukan peringatan dengan mendorong kesadaran terhadap kesehatan jiwa secara umum dan mengedukasi masyarakat mengenai gangguan mental, yang kemudian dikenal dengan Hari Kesehatan Mental. Hari tersebut pertama kali diperingati pada tahun 1992 dan mulai diberi tema setiap tahunnya pada tahun 1994. Peringatan Hari Kesehatan Mental ini disambut pula oleh HIMPSI Solo, yang memiliki agenda setiap tahunnya.

Pada peringatan Hari Kesehatan Mental 2019, HIMPSI Solo turut menghadirkan remaja tangguh yang merupakan depression survivor, Fajar Wahyu Nugroho. Talkshow berbicara seputar millennial tangguh dan turut dihadiri oleh kalangan psikologi dan masyarakat umum yang berasal dari Solo dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan sarana sosialisasi kesehatan mental, media memperkuat citra psikologi di masyarakat, dan menjadi pendorong bagi psikologi untuk berperan lebih besar ke masyarakat.

Darurat Kesehatan Mental

Kesehatan mental merupakan sebuah kondisi di mana individu terbebas dari segala bentuk gejala-gejala gangguan mental. Individu yang sehat secara mental dapat berfungsi secara normal dalam menjalankan hidupnya khususnya saat menyesuaikan diri untuk menghadapi masalah-masalah yang akan ditemui sepanjang hidup seseorang dengan menggunakan kemampuan pengolahan stres. Kesehatan mental dapat pula diartikan sebagai keadaan di mana setiap individu menyadari potensinya, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi.

Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization menunjukan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan beban penyakit gangguan mental. Riset Kesehatan Dasar (2018) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia yang mengalami gangguan mental emosional pada umur di bawah 15 tahun mengalami peningkatan dari tahun 2013. Berdasarkan Data Riskesdas tahun 2007, diketahui bahwa prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada sekitar kurang lebih 1.740.000 orang yang saat ini mengalami gangguan mental emosional (Depkes, 2007). Data yang ada mengatakan bahwa penderita gangguan kesehatan mental di Indonesia tidaklah sedikit sehingga sudah seharusnya hal tersebut menjadi sebuah perhatian dengan tersedianya penanganan atau pengobatan yang tepat.

Hapus Stigma

Kesehatan mental merupakan hal penting yang harus diperhatikan selayaknya kesehatan fisik. Diketahui bahwa kondisi kestabilan kesehatan mental dan fisik saling mempengaruhi. Gangguan kesehatan mental bukanlah sebuah keluhan yang hanya diperoleh dari garis keturunan. Tuntutan hidup yang berdampak pada stress berlebih akan berdampak pada gangguan kesehatan mental yang lebih buruk.

Di berbagai pelosok Indonesia masih ditemui cara penanganan yang tidak tepat bagi para penderita gangguan kesehatan mental. Penderita dianggap sebagai makhluk aneh yang dapat mengancam keselamatan seseorang untuk itu penderita layak diasingkan oleh masyarakat. Hal ini sangat mengecawakan karena dapat mengurangi kemungkinan untuk seorang penderita pulih. Untuk itu, pemberian informasi dalam mengedukasi masyarakat sangatlah penting terkait kesehatan mental agar stigma yang ada di masyarakat dapat dihilangkan dan penderita mendapatkan penanganan yang tepat.