Pemkot Surakarta: Papan Kawruh Tirta Bukan Tempat Piknik

Peresmian operasional Papan Kawruh Tirta oleh Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, Jumat (15/11/2019). (Foto: Pemkot Surakarta)

Surakarta – Usai diresmikan operasionalnya oleh Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, Jumat (15/11/2019), Papan Kawruh Tirta yang dibangun secara bertahap sejak 2016 dan bernama Galeri Sungai itu kini siap menerima kunjungan masyarakat.

Bangunan di sisi selatan Terminal Tirtonadi itu nampak mencolok. Atapnya didominasi warna biru, dan dinding kacanya beraneka warna. Letaknya yang cukup strategis, yakni di tepi ruas jalan provinsi dan kawasan Tirtonadi yang belum lama ditata Pemkot Surakarta dan pemerintah pusat, tentu saja menjadi salah satu alasan yang menjadi pemikat perhatian para pengguna Jalan Ahmad Yani. Namanya Papan Kawruh Tirta, bangunan tersebut adalah tempat belajar mengenai air. Lebih jelasnya, merupakan air drainase dan sungai yang mengaliri Kota Solo.

Pemerintah Kota Surakarta dalam website resminya melansir bahwa di dalam Papan Kawruh Tirta terdapat sejumlah benda vital, salah satunya adalah pengendali pintu air di Bendung Tirtonadi, yang baru dibangun pemerintah pusat pada tahun lalu. Alat yang berfungsi untuk membuka dan menutup pintu bendung itu dilindungi kaca tebal, namun bisa dilihat jelas oleh siapapun yang memasuki Papan Kawruh Tirta.

Selain itu, bangunan tersebut juga terhubung dengan menara di sisi utara bendung melalui sebuah jembatan. Jembatan tersebut bukan akses untuk umum. Sebab digunakan untuk jalur inspeksi dan pemantauan, sementara Bendung Tirtonadi adalah salah satu pengendali ketinggian air di Kali Pepe yang mengalir di tengah Kota Solo.

Bukan Tempat Piknik

Meski mengaku memiliki spot swafoto yang menarik, nyatanya Papan Kawruh Titra tidak difungsikan sebagai tempat wisata dan tidak semua orang diizinkan untuk masuk. Pemerintah Kota Surakarta bahkan mewanti-wanti jika pengunjung tidak boleh sembarangan berada di lokasi tersebut. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Endah Sitaresmi Suryandari, secara tegas menyatakan bahwa Papan Kawruh Tirta bukan merupakan tempat piknik, melainkan lokasi untuk belajar bersama tentang drainase di Kota Solo. “Jadi tidak sembarang pengunjung bisa masuk ke sana, karena sebenarnya Papan Kawruh Tirta adalah kantor,” tegasnya.

Sekilas, mungkin pesan itu berlebihan. Namun manakala ditelisik lebih jauh, pembatasan pengunjung itu beralasan kuat. Dibeberkan Sita, prinsip dari Papan Kawruh Tirta adalah sebagai pusat pembelajaran bagi mereka yang ingin mendalami drainase, sungai, dan sumber daya air lainnya. Hal itu telah disampaikan ketika terjadi jalinan kerjasama dengan komunitas sungai, sekolah sungai, SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta universitas. Hingga saat ini, kerjasama pemanfaatan Papan Kawruh Tirta sudah berjalan dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), dan pemkot sedang menawarkan kerjasama serupa kepada kampus-kampus lain.

Beberapa ruangan, meja, kursi, serta papan proyektor yang terdapat di Papan Kawruh Sita juga seolah mengamini kebijakan Pemkot, terkait pembatasan pengunjung Papan Kawruh Tirta tersebut. Apalagi di beberapa sudut, sudah terpampang informasi seperti masterplan penataan drainase Kota Solo, atau foto-foto terkait sejumlah sungai di Kota Bengawan.

Terbuka Bagi Civitas Akademik

Lantas, siapa saja yang diizinkan mengakses bagian dalam Papan Kawruh Tirta? Sita menyebut, mereka yang berkepentingan terkait kegiatan akademik dipersilakan memasuki bangunan tersebut. “Kalau hanya ingin melihat-lihat lanskap atau selfie tetap diizinkan, tapi hanya sampai halaman depan Papan Kawruh Tirta. Ada petugas keamanan yang menjaga Papan Kawruh Tirta selama 24 jam. Baik untuk mengantisipasi kerusakan bangunan atau vandalisme,” tegas Sita.

Sebaliknya, Pemkot membuka pintu Papan Kawruh Tirta selebar-lebarnya bagi para civitas akademika, peneliti, atau siswa-siswi yang hendak belajar di luar kelas (outing class), dengan beberapa prosedur yakni mendaftar kepada petugas sekretariat, jika ingin memakai tempat itu sebagai lokasi kuliah umum, diskusi atau study tour. Pengunjung perorangan juga tetap dipersilakan masuk, asal bisa menyampaikan tujuan mereka dengan jelas kepada petugas.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo berharap, Papan Kawruh Tirta bisa menjadi pusat edukasi air dan sungai terlengkap. Sebab sejarah air dan sungai di Kota Bengawan sejatinya beragam, namun belum banyak diketahui khalayak. “Banyak hal yang sebenarnya bisa dipelajari oleh masyarakat. Meskipun yang terpenting adalah masyarakat bisa menjaga dan merawatnya,” tandas Wali Kota, sebagaimana dalam situs resmi pemkot. Orang nomor satu di Pemkot ini juga menerangkan, keberadaan Papan Kawruh Tirta bisa melengkapi penataan kawasan segitiga Gilingan, Manahan dan Nusukan. Apalagi sebelumnya di kawasan tersebut sudah terdapat Bendung Karet Tirtonadi dan Jembatan Keris.