Pemkab Sukoharjo Beri Perhatian Khusus Soal Pangan

(Foto: Pemkab Sukoharjo)

Sukoharjo – Memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39, Pemkab Sukoharjo gelar festival kuliner dengan tema Industrialisasi Pangan Lokal Menuju Ketahanan Pangan di Kabupaten Sukoharjo, Kamis-Senin (14-18/11/2019). Dalam sambutannya, Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya menyampaikan agar peringatan hari pangan dapat dijadikan momentum bagi terwujudnya pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Sukoharjo.

Perwujudan ketahanan pangan ini dapat dilakukan melalui penganekaragaman konsumsi pangan lokal di Kabupaten Sukoharjo. Misalnya menggunakan snack berbasis pangan lokal untuk konsumsi dalam kegiatan rapat, gemar mengembangkan teknologi pangan lokal lewat lomba cipta menu berbahan dasar lokal, juga melalui pengadaan festival-festival kuliner yang bisa digunakan sebagai media penggerak perekonomian rakyat.

Sejauh ini, Pemkab Sukoharjo telah memberikan perhatian khusus soal pangan, salah satunya melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program tersebut diinisiasi untuk mendorong dan pemenuhan kebutuhan pangan pada skala terkecil rumah tangga melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan. Program yang telah dilaksanakan selama 7 tahun terakhir tersebut terselenggara melalui bantuan belanja hibah kepada kelompok wanita tani di 24 lokasi desa binaan PKK. Sebagai percontohan diadakannya kegiatan Obor Pangan Lestari (Opal) di lingkungan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mulur Kecamatan Bendosari.

Sementara itu sebagaimana tercantum dalam situs resmi Pemkab Sukoharjo, Plt. Kepala Dinas Pangan Kabupaten Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan bahwa rangkaian peringatan HPS ke-39 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi SDA serta media untuk mengenalkan berbagai potensi sumber daya keanekaragaman pangan sekaligus sarana promosi dan perdagangan produk-produk unggulan pangan olahan di Kabupaten Sukoharjo.

Menjaga Pangan, Menjaga Lahan Berkelanjutan

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ketersediaan pangan secara global telah memasuki masa kritis. Ketersediaan pangan di banyak negara sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya (Kurniawan dan Sadali, 2015). Menurut Tambunan (dalam Handani et al., 2017) kemampuan Indonesia meningkatkan produksi pertanian dalam berswasembada pangan sangat ditentukan oleh banyak faktor, baik faktor eksternal maupun internal.

Sebagai salah satu lumbung beras nasional atau daerah yang mampu berswasembada beras, ketahanan pangan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Hal ini juga sesuai dengan visi misi Kementerian Pertanian 2015-2019 yaitu mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Menurut Undang-Undang Nomor 41 tahun 2009, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Kebijakan ini sebenarnya mengharapkan setiap daerah mampu memenuhi kebutuhan pangan melalui lahan pertanian yang dimiliki daerah tersebut. Dengan demikian, lahan sebagai sumberdaya alam dalam pembangunan perlu dijaga terutama lahan pertanian.

Di Kabupaten Sukoharjo, salah satu lahan pertanian yang menjadi penyokong kebutuhan pangan adalah padi. Kebutuhan dan ketersediaan pangan dapat diketahui dengan diadakannya penekanan pada kemampuan daya dukung (carrying capacity) lahan pertanian (pangan) dalam mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Sukoharjo. Keberlanjutan ketahanan pangan ini dapat terjamin jika dilakukan perhitungan estimasi kebutuhan pangan dan ketersediaan lahan pertanian (pangan) dalam beberapa tahun ke depan sehingga selain mendukung kebijakan pemerintah pusat maupun daerah dalam mewujudkan ketahanan pangan, juga dapat menjaga lahan pertanian pangan berkelanjutan (Sadali, 2012).