Pemkab Sragen Komitmen Turunkan Angka Stunting

Seminar dengan tema “Peran Keluarga dalam Mencegah Stunting” di Aula KPRI Kecamatan Mondokan, Rabu (13/11/2019). (Foto: Pemkab Sragen)

Sragen – Pemerintah Kabupaten Sragen gelar seminar dengan tema “Peran Keluarga dalam Mencegah Stunting” di Aula KPRI Kecamatan Mondokan, Rabu (13/11/2019). Kegiatan seminar tersebut selain dalam rangkaian agenda peringatan Hari Ibu ke–91 Kabupaten Sragen, juga sekaligus upaya pemkab untuk mengurangi angka stunting.

Seminar yang menghadirkan Konsultan Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Dr. Hari Wahyu Nugroho, SpA(K), MKes spesialis anak sebagai pembicara ini juga diikuti oleh kader kesehatan, Ibu Hamil, wanita usia nikah, TP PKK Kecamatan/Desa se-Kecamatan Mondokan dan tokoh masyarakat setempat.

Dr. Hari Wahyu Nugroho, sebagaimana dalam situs resmi Pemkab Sragen menyampaikan apresiasi atas upaya Pemkab Sragen yang cepat merespon dalam mengurangi permasalahan nasional, yakni pengurangan angka stunting. Ia memaparkan inti poin bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis sehingga menimbulkan anak terlalu pendek pada usianya. Anak tersebut secara biologis mempunyai pertumbuhan kurang disertai dengan penyakit-penyakit sehingga sering sakit-sakitan, selain itu juga punya kecerdasan di bawah normal. “Dilihat di seribu hari pertama kelahiran, dicek perkembangan tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala,” lanjutnya.

Sementara itu Bupati Sragen Yuni menuturkan Kecamatan Mondokan Sragen memiliki angka stunting yang cukup tinggi. Angka stunting di Sragen oleh pusat mencapai 39%, namun crosscheck yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen nyatanya hanya mendapat angka 10,2%. Angka tersebut masih di bawah angka standard World Health Organization (WHO) yang mencapai 20% untuk stunting. Tidak berpuas diri, Kabupaten Sragen terus menekan angka stunting dengan terus melaksanakan kegiatan sosialisasi peran keluarga dalam pencegahan stunting. Komitmen dalam menurunkan angka stunting ditempuh melalui sinergi bersama antara Pemkab Sragen, Dinkes, ibu-ibu kader, serta masyarakat.

Stunting Gangguan Pertumbuhan Permanen

Kementrian Kesehatan melalui Direktorat Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat mendefinisikan stunting sebagai gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan karena kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Dr. Hari Wahyu Nugroho yang juga Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah menjelaskan pengurangan angka stunting bisa dicegah dengan memfokuskan kepada remaja usia nikah, dan ibu hamil.

Masa kehamilan harus dilalui dengan sehat, dan tercukupi kebutuhan nutrisi. Sebab pertumbuhan janin di dalam kandungan akan menyebabkan perkembangan otak di bawah rata-rata jika kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi. Sedangkan untuk remaja putri usia nikah, harus sehat dengan rutin melakukan cek HB. Kondisi stunting sendiri bersifat tidak bisa kembali (irreversible), sehingga pertumbuhan fisik dan kemampuan kognitif anak terganggu secara permanen. Heri Wahyu menyebutkan waktu terbaik intervensi gizi mulai dari awal kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak.

Jumlah penderita stunting di Indonesia menurut hasil Riskesdas 2018 terus menurun. Tetapi langkah pencegahan stunting masih sangat perlu dilakukan, beberapa cara dilansir oleh situs Kementrian Kesehatan sebagai upaya pencegahan stunting yakni memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil, pemberian ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, pendampingan ASI Eksklusif dengan MPASI sehat, pemantauan tumbuh kembang anak, dan selalu menjaga kebersihan. Permasalahan utama stunting salah satunya pola pemberian makanan yang tidak bergizi. Untuk itu diharapkan terdapat kader-kader yang menjadi garda terdepan untuk merubah perilaku masyarakat agar bisa memberikan makanan dengan baik dan bergizi.