Pemkab Karanganyar Komitmen Kembangkan Festival Kesenian

Direktur Jendral kebudayaan kementrian pendidikan dan kebudayaan, Restu Gunawan, M.Hum dalam pentas seni siswa dan pagelaran wayang kulit di Lapangan Desa Dawung, Sabtu (2/11/2019). (Foto: Humas Karanganyar)

Matesih – Direktorat jendral kebudayaan kementrian pendidikan dan kebudayaan bekerjasama dengan SMK N 8 Surakarta dan Pemerintah Desa Dawung adakan pentas seni siswa dan pagelaran wayang kulit di Lapangan Desa Dawung, Sabtu, (2/11/2019). Acara yang digelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional dan memperingati hari wayang tersebut turut dihadiri direktur jendral kebudayaan kementrian pendidikan dan kebudayaan, Restu Gunawan, M.Hum serta Kasubdit Program evaluasi dan dokumentasi, Kuat Prihatin.

Bupati Karanganyar yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa menyampaikan bahwa pada Tanggal 7 November mendatang dalam rangka memperingati hari wayang dunia dan nasional Pemerintah Kabupaten Karanganyar adakan pagelaran wayang kulit dengan menghadirkan 17 dalang kondang, salah satunya Ki Mantep Sudarsono. Tarsa menambahkan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen untuk memperbanyak festival kesenian.

Kuat Prihatin menerangkan bahwa sejak Tahun 2012 pihaknya telah melakukan kegiatan untuk mensupport dan mendukung pengembangan kesenian yaitu dengan pemberian bantuan fasilitasi sarana kesenian di sekolah-sekolah. Dari tahun 2012-2018, kurang lebih 4.600 sekolah di seluruh Indonesia telah terfasilitasi, dibanding dengan jumlah total sekolah sebanyak 280 ribu bisa dikatakan bahwa yang dilakukan oleh pemerintah baru seujung kuku, namun pihaknya akan terus berupaya mendorong kemajuan kesenian di sekolah-sekolah. Upaya yang telah dilakukan untuk mempercepat akselerasi pemenuhan fasilitasi sekolah sebanyak 280 ribu tersebut, mulai tahun 2019 pemberian bantuan ini dilakukan secara langsung di daerah lewat Dana Alokasi Khusus (DAK).

Restu Gunawan turut mengimbau agar bantuan pemerintah bisa dimanfaatkan secara maksimal. “Bukan perkara tampil-tampilan tetapi kita ingin memastikan bantuan dari pemerintah betul-betul digunakan oleh anak-anak kita karena dalam proses pendidikan kesenian itu sangat penting” ungkapnya, dikutip dari situs Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Ditambahkan, kesenian dapat menambah rasa percaya diri anak, misalnya saat tampil di sebuah pertunjukan, juga dapat memupuk rasa toleransi karena saat berada di atas panggung sudah tidak ada lagi yang disebut perbedaan suku ataupun agama.

Pembentuk Karakter Bangsa

Pada dasarnya budaya memiliki nilai-nilai yang senantiasa diwariskan, ditafsirkan dan dilaksanakan seiring dengan proses perubahan sosial kemasyarakatan. Pelaksanaan nilai-nilai budaya merupakan bukti legitimasi masyarakat terhadap budaya. Eksistensi budaya dan keragaman nilai-nilai luhur kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan sarana dalam membangun karakter warga negara, baik yang berhubungan dengan karakter privat maupun karakter publik.

Pembangunan karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah dibutuhkan. Pembangunan karakter bangsa dapat ditempuh dengan cara mentransformasi nilai-nial budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa. Pentingnya transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa menurut Yunus (2013) dalam jurnal penelitian Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa mencakup hal-hal filosofis, ideologis, historis dan sosiokultural.

Kurangnya upaya pembangunan karakter bangsa dalam memperhatikan nilai-nilai budaya akan berakibat pada ketidakpastian jati diri bangsa yang menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010-2025 (2010-2025:2) akan terjadi disorientasi dan belum dihayati nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan bernegara, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa

Dari hal tersebut, pembangunan karakter bangsa haruslah melibatkan berbagai pihak baik keluarga, lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil selama pihak-pihak yang berkompeten untuk menunjang pembangunan karakter tersebut tidak saling bekerja sama. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa perlu dilakukan di luar sekolah atau pada masyarakat secara umum sesuai dengan kearifan budaya lokal masing-masing.