Peduli Sampah Plastik, HW UMS Gaungkan Gerakan #umscantiktanpaplastik

Kampanye gerakan #umscantiktanpaplastik oleh Hizbul Wathon UMS. (Foto: Humas UMS)

Pabelan – Perhatian Hizbul Wathon (HW) UMS terkait sampah plastik menginisiasi digaungkannya sebuah gerakan #umscantiktanpaplastik. Tagar tersebut dimaksudkan untuk mengajak seluruh sivitas akademika UMS agar bijak menggunakan plastik dalam kegiatan sehari-harinya. Gerakan #umscantiktanpaplastik tersebut diawali dengan diskusi bertajuk ‘Jagongan Sampah Kampus’ di samping selatan kantin tepi danau UMS, Rabu (7/11/2019).

Diskusi perdana tersebut mengundang aktivis lingkungan sekaligus founder Bank Sampah Kreasik Solo Miftahul Arozaq. Dalam pengantar diskusi, Arozaq atau Oz menjelaskan jika manusia hidup di dunia ini setiap harinya akan menghasilkan sampah, maka kesadaran untuk bijak menggunakan barang yang berpotensi menjadi sampah harus tumbuh mulai dari kesadaran diri sendiri. “Sampah rumah tangga saja yang diisi 4 sampai 5 orang, dalam seharinya biasanya bisa menghasilkan sampah 0,5 kilogram. Jadi semua harus dimulai dari diri kita untuk bijak menggunakan plastik,” imbau Oz.

Sebelum diskusi diakhiri, pegiat Forum Solo Hijau ini mengajak kepada peserta diskusi untuk memulai mengurangi penggunaan sampah plastik. Dimulai dari hal sederhana seperti membawa botol air minum isi ulang sendiri dan wadah makanan yang bisa dipakai ulang. Rencananya, diskusi ‘Jagongan Sampah Kampus’ tersebut akan rutin dilakukan setiap satu minggu sekali di hari Rabu sore, dengan menghadirkan tokoh inspiratif yang bergerak di bidang lingkungan khususnya sampah.

Tidak sampai di situ, untuk melancarkan hajatnya, HW UMS turut menggandeng beberapa komunitas atau organisasi lingkungan di Kota Solo seperti Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sukoharjo, Nyampah Asyik, Sunrise Indonesia, Kreasik, dan Ini Bumi Kita.

Ahmad Khoirul selaku promotor tagar ‘UMS cantik tanpa plastik’ mengatakan bahwa tagar ums cantik tanpa plastik merupakan bentuk kampanye kepada seluruh keluarga besar UMS untuk mulai mengurangi konsumsi plastik khususnya di lingkungan kampus. Ul, sapaan akrabnya, juga berharap jika ke depannya UMS mampu membuat sistem pengelolaan sampah di kampus dengan baik. “Jika pengelolaannya (sampah-red) baik, maka keinginan UMS sebagai kampus go green akan semakin terwujud,” pungkas mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UMS, sebagaimana dikutip dari laman resmi kampus UMS.

Bisa Didaur Ulang

Permasalahan sampah di Indonesia merupakan masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Sementara itu dengan bertambahnya jumlah penduduk maka akan mengikuti pula bertambahnya volume timbulan sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Komposisi sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah sampah organic sebanyak 60-70% dan sisanya adalah sampah non organik 30-40%, dari sampah non organic tersebut, komposisi sampah terbanyak kedua yaitu sebesar 14% adalah sampah plastik. Sampah plastik yang terbanyak adalah jenis kantong plastik atau kantong kresek selain plastik kemasan.

Sampah plastik dewasa ini menjadi momok persoalan sampah di Indonesia. Sebuah data memperlihatkan saat ini indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Dalam setahunnya, negara khatulistiwa ini menghasikan sampah plastik kurang lebih 187,2 juta ton/tahun. Hal itu berkaitan dengan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyebutkan bahwa plastik hasil 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu 1 tahun saja telah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektar kantong plastik. Meskipun sampah plastik mempunyai dampak negatif yang cukup besar, tetapi di satu sisi penemuan plastik ini mempunyai dampak positif, karena plastik memiliki keunggulan-keunggulan dibandikan dengan material lain.

Berkaitan dengan data tersebut maka dengan semakin meningkatnya sampah plastik ini akan menjadi masalah serius apabila tidak dicarikan penyelesaiannya. Dalam menangani sampah plastik perlu dilakukan dengan konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Reuse adalah menggunakan kembali barang-barang yang terbuat dari plastik, Reduce adalah mengurangi pembelian atau penggunaan barang-barang dari plastik, terutama barang-barang yang sekali pakai dan Recycle adalah mendaur ulang barang-barang yang terbuat dari plastik. Dari konsep 3R tersebut maka beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan kembali plastik yang telah dibuang ke lingkungan, dalam hal ini menggunakan konsep Recycle (Purwaningrum, 2016).

Daur ulang merupakan proses yang bisa ditempuh dalam pengolahan kembali barang-barang yang dianggap sudah tidak mempunyai nilai ekonomis lagi melalui proses fisik maupun kimiawi atau kedua-duanya sehingga diperoleh produk yang dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan lagi.