Nobel 2019, Indonesia, dan Dinamika IPTEK

Di negara yang masih terus berusaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seperti Indonesia, berkekspektasi para ilmuwannya mendapatkan hadiah Nobel barangkali baru sebatas harap-harap cemas. Sebab-musabab yang dihadapi adalah pelbagai persoalan yang melahirkan sebuah “cuaca kultur pengetahuan” yang keluar jalur dari semestinya—tidak sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain yang telah maju. Akarnya, ketika mendedah lebih dalam, tidak jauh dari politik identitas, hegemoni pengetahuan, dan sederet pekerjaan bagi sistem pendidikan dan konsep riset yang ada.

Kendati demikian, di jagat dunia sastra, ada sosok Pramoedya Ananta Toer, sastrawan masyhur yang meninggalkan banyak karya dan memberikan pengaruh di dunia sastra baik nasional maupun internasional—dalam sejarah, ia bersama tokoh sastra dunia yang lainnya menjadi daftar nominasi peraih Nobel di bidang sastra pada masanya. Bukan bermaksud untuk nostalgia ataupun sejenisnya, tapi untuk belajar pada sejarah, bahwasannya negara Indonesia memiliki pencapaian penting akan Nobel. Apalagi penghargaan Nobel diberikan bukan cuma-cuma. Ia memiliki landasan yang jelas; orang yang memiliki dedikasi pada peradaban dan karya yang memberikan pengaruh pada dunia.

Semenjak dihelat pertama kalinya di tahun 1901, penghargaan hadiah Nobel melahirkan sosok yang syarat akan kekuatan intelektualitas, keugahariahan dalam hidup, keberpihakan dalam urusan banyak orang serta dedikasi dalam peradaban keilmuan. Dalam keberjalannya, hampir setiap tahun, penghargaan yang berasal dari wasiat seorang ilmuwan berkebangsaan Swedia, Alfred Bernhard Nobel terus dihelat. Setelah kematiannya pada 10 Desember 1896, ia meninggalkan wasiat—agar dialokasikan kekayaannya dalam bentuk penghargaan Nobel di beberapa bidang keilmuan yang meliputi sains, sastra, ekonomi, politik, dan perdamaian.

Di perhelatan yang pertama, beberapa ilmuwan yang mendapatkan masing-masing: Wilhelm Conrad Rӧntgen (Fisika), Jacobus Henricus van’t Hoff (Kimia), Sully Prudhomme (Sastra), Henry Dunant dan Frederic Passy (Perdamaian). Hadiah Nobel tak dapat dipungkiri adalah penghargaan prestisius pada setiap bidangnya dan seremoni tiap tanggal 10 Desember. Pemikir lulusan Teknik Fisika UGM, Nirwan Ahmad Arsuka dalam bukunya berjudul Percakapan dengan Semesta (2016) bahkan mengatakan—hadirnya penghargaan Nobel sangat begitu banyak berpengaruh secara revolusioner perkembangan ilmu dan pengetahuan di abad ke-20. Revolusi tersebut juga menandaskan langkah baru dalam perkembangan kecerdasan akal daif manusia.

Argumen tersebut tatkala ditinjau dengan konsep falsifiabilitas pengetahuan sebagaimana dicetuskan oleh filsuf Austria, Karl Raimund Popper, bahwa ilmu pengetahuan senantiasa berkembang dan menemukan pola maupun metode ilmiah yang baru. Dengan kata lain, konsep, hipotesis maupun teori yang telah dicetuskan sebelumnya, para ilmuwan terus bertungkus-lumus melalui perpustakaan maupun laboratorium untuk menghasilkan data maupun fakta baru. Harus diakui bahwa teori lama terbantahkan dengan hasil eksperimen yang baru, maka si pemilik teori harus bijak untuk meninjau ulang dan bahkan harus menerima teorinya hangus melalui perkembangan yang ada.

Indonesia dalam posisi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus diakui belum jelas arah yang diambil. Artinya, pelbagai kuldesak, hambatan maupun tantangan harus dihadapi oleh para pemangku kebijakan, akademisi maupun kelompok-kelompok intelektual yang berkaitan. Hingar-bingar pemosisian sains dan teknologi misalnya, kita masih dihadapkan pada persoalan kultur—minimnya budaya inovasi dan pendiskursusan yang luas dan mendalam di banyak kampus yang tersebar di Indonesia.

Padahal sebenarnya, ketika menilik pada status negara berkembang, Indonesia memiliki banyak potensi yang seharusnya terus dikembangkan dan disokong oleh pihak pemerintah, lembaga riset, dunia industri, dan kekuatan besar dari para akademisi yang ada.

Joko Widodo dalam pidato kemenangannya yang disampaikan di Bogor pada 14 Juli yang lalu juga menaruh akan cita-cita Indonesia ikut andil dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada pidato yang bertajuk “Visi Indonesia” tersebut, ia menandaskan akan Indonesia melahirkan gagasan, inovasi maupun terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelas dunia. Tentu saja hal tersebut bukanlah barang yang mudah dilakukan. Potensi-potensi yang ada di dalam negeri ketika berbicara lembaga penelitian, ada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewan Riset Nasional (DRN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hingga Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Periodesasi zaman yang terus berkembang membuat semua pihak harus seksama menghadapi dan mengikuti alur yang ada. Kita tahu bahwasannya di perjalanan abad ke-21 menyaksikan akan semakin pesat dan dinamisnya ilmu pengetahuan. Keberadaan era yang bernama Revolusi Industri 4.0 hingga Society 5.0 tak dapat ditampik dan ditolak dalam pelbagai sub lapisan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Agihan-agihan tersebut banyak diketengahkan oleh seorang profesor sejarah di Universitas Ibrani, Yuval Noah Harari dengan tiga karyanya: Sapiens, Homo Deus dan 21 Adab untuk Abad ke-21. Transformasi umat manusia dengan kecenderungan-kecenderungan yang mungkin saja lahir.

Sains di era modern memang memiliki kecenderungan menyusun puzzle-puzzle maupun pola-pola yang akan terjadi dalam masa depan. Konsep postulat yang menjadi bangunan-bangunan dalam lapisan ilmu dan pengetahuan, namun perlu diketahui bahwa hal tersebut membutuhkan abstraksi dan imajinasi yang tinggi dari setiap ilmuwan berada. Banyak ilmuwan di negara-negara yang biasa memasok para peraih penghargaan Nobel, di bidang sains telah membaca dengan rigid dan mengambangkan pada objek sekecil mungkin atau dalam tataran mikroskopik. Matematika menjadi ilmu pengetahuan yang paling intim sebagai penyusunan bahasa dari keseluruhan ilmu sains.

Pada dinamika kehidupan yang memasuki era konsensus big data, agihan algoritma hingga kekuatan pemrograman dari komputer, kesiapan sebuah negara diuji dalam mempersiapkan sumber daya manusia, budaya inovasi digital hingga kurikulum pendidikan di pelbagai jenjang yang ada. Hal tersebut tidak lain adalah dunia sudah sepakat dengan kehadiran pelbagau inovasi maupun terobosan pengetahuan yang memungkinkan lahir di dalam peradaban, entah kini dan esok. Seperti halnya: Artificial Intelligence (AI), Internet of Thing (IoT), Blockchain hinga Robotika.

Tatkala menilik jadwal sebagaimana telah diumumkan oleh lembaga yang menanungi penghargaan Nobel di tahun 2019—Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, yang mana untuk tahun ini tak ada satu pun tokoh dari Indonesia yang masuk dalam nominasi dari setiap bidang yang ada. Sebagaimana dilansir melalui nobelprize.org, dalam kurun waktu 7-14 Oktober 2019, satu per satu penghargaan akan diumumkan secara berkala. Sebab di tahun ini, tak ada satupun nominator dari Indonesia, hanya ada satu pilihan kolektif dalam penganugerahan Nobel 2019. Tidak lain dan tidak bukan adalah menilik para peraih dan negara asal sembari belajar pada setiap masing-masing terobosan di bidang penganugerahan yang ada. (Joko Priyono)*

 

*Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret sejak 2014. Bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017), Bola Fisika (2018), dan Surat dari Ibu (2019).