Menggemakan Kehidupan

Manusia memang selalu membutuhkan rasa nikmat dan bahagia dalam hidupnya. Bahkan apapun yang dilakukan oleh seseorang seringkali bermotif untuk memperbaiki mood yang dimiliki. Seperti menonton film, menikmati serial komedi, ataupun pergi berjalan-jalan. Namun hal tersebut seringkali tidak bertahan lama dan tidak menyisakan, kecuali sedikit, jejak-jejak yang bisa dimanfaatkan setelahnya. Pada akhirnya tidak sedikit dari hal-hal tersebut yang menuntut kita untuk selalu mengulanginya.

Meskipun kenikmatan itu dirasa memang tidak menumbuhkan jejak-jejak yang bisa dimanfaatkan untuk jangka panjang atau malah berdampak buruk dimasa yang akan datang, kenikmatan itu tetap mendorong kita untuk memenuhi hasrat tersebut. Lalu kenapa hal ini terjadi?

Dalam menjawab rumusan tersebut, hendaknya kita harus memahami dengan baik mengenai arti dari kehidupan yang menyenangkan dan kehidupan bermakna. Martin Seligman, seorang pakar psikologi positif dari University of Pennsylvania, menyebut kedua hal tersebut sebagai Pleasure dan Gratification.

Kenikmatan Sementara yang melalaikan (Pleasure)

Kenikmatan sementara memang kita butuhkan, namun tidak menjadi sebuah prioritas. Kenikmatan seperti ketika kita menikmati sentuhan pijatan dari pemijat profesional, mandi air panas ketika kondisi lelah, menonton film komedi yang membuat terpingkal-pingkal, mendengar tetesan hujan ketika merasakan kesedihan, dsb. Kenikmatan ini seringkali cepat menghilang seiring berlalunya peristiwa yang bersangkutan. Seperti sebuah termostat, emosi kita kembali pada level yang sama.

Itulah yang disebut oleh Seligman sebagai Pleasure, sebuah bentuk kenikmatan yang terdiri atas perasaan-perasaan dasar dan komponen indrawi yang kuat. Ketika hanya perasaan-perasaan dasar yang menjadi penopang, maka apabila rasa tersebut terpenuhi, pemenuhan itu tidak lagi memikirkan apa yang kita butuhkan setelahnya. Jenis kenikmatan ini yang seringkali menjadi prioritas beberapa orang ketika membutuhkan rasa bahagia instan. Dengan pemenuhan tanpa usaha yang melelahkan, seringkali Pleasure diusahakan untuk tercipta tatkala perasaan-perasaan negatif mulai mencuak.

Di zaman kiwari dan wabah kesepian ini, kebutuhan akan sebuah kenikmatan seolah menjadi sebuah asupan wajib. Layaknya seseorang tanpa asupan energi, zaman modern mengarahkan seseorang untuk bergantung pada hiburan-hiburan itu. Alhasil kehidupan selalu dihabiskan dengan memikirkan “hiburan apa lagi yang bisa kunikmati?” yang akhirnya membuat kita jauh dari antusiasme aktualisasi diri.

Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happiness mengatakan bahwa fenomena tersebut seperti memperturutkan hati untuk mengulang-ulang yang sama, yang kita tahu, bahwa itu tidak akan membuahkan keberhasilan. Hal ini disebut secara khusus olehnya dengan sebutan habituasi, dimana apabila sebuah asupan rasa nikmat sudah terpenuhi maka butuh dosis nikmat yang lebih tinggi agar kita mampu kembali merasakan kenikmatannya.

Seperti ketika kita menikmati porsi kedua es krim vanila yang tidak lebih dari setengah kenikmatan es krim porsi pertama, sedangkan rasa pada porsi ke empat tidak lebih dari sekedar pemenuhan asupan kalori yang tidak memiliki rasa nikmat sedikitpun. Ketika asupan kalori kita sudah terpenuhi maka rasa es krim vanilla tidak lebih dari rasa yang membuat kita merasa mual.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Chris Peterson dan Veronika Huta, bahwa seseorang seringkali merasakan emosi positif ketika menemui sebuah Pleasure, namun kehidupan yang bermakna lebih memiliki keterkaitan kuat akan kepuasan hidup daripada kenikmatan. Ringkasnya pleasure tidaklah menambah kepuasan hidup.

Lalu apa yang dimaksud dengan kehidupan yang bermakna?

Kebermaknaan yang dilalaikan (Gratification)

Kita biasanya menyematkan kata  “nikmat” saat dipijat, menikmati film komedi, atau tetesan hujan sama halnya dengan “nikmat” bermain voli, membaca buku stephen king, pemrograman komputer, memasak, bahkan membantu tunawisma. Seolah keduanya memiliki efek kepuasan yang sama, kita seringkali melupakan bahwa efek jangka panjang kedua memberikan hal-hal yang sangatlah berbeda. Maka dari itu kita perlu mengklarifikasikannya dengan lebih baik.

Bagi Martin Seligman, rasa “nikmat” bermain voli, membaca buku, pemrograman komputer, memasak dan membantu tunawisma merupakan kehidupan bermakna yang disebut sebagai Gratifikasi. Sebuah upaya memunculkan rasa bahagia yang datang dari kegiatan-kegiatan yang amat kita sukai dengan sedikit melibatkan perasaan-perasaan dasar, yang juga mengaktifkan banyak komponen kognitif serta memerlukan usaha untuk menginterpretasi. Dengan kata lain, hal tersebut harus terdapat keterlibatan dari diri kita secara aktif bukan menikmati kenikmatan secara pasif.

Berbeda dengan Pleasure yang merupakan pemenuhan kenikmatan yang berkisar pada indra atau biologis, Gratifikasi lebih kepada pemenuhan kenikmatan dengan kekuatan dan kualitas diri seseorang. Memang bagi mereka yang sedang dalam mengupayakan gratifikasi seringkali tidak dengan secara kilat mendapatkan sebuah rasa nikmat. Bahkan orang-orang yang seringkali menghabiskan waktu dalam Gratifikasi sangat mungkin menghadapi suatu kegagalan. Kesempatan untuk mendapatkan kegagalan itulah yang membuatnya tidak mudah dan jarang diminati untuk dilakukan secara konsisten. Itulah yang sering kita sebut sebagai tantangan, yang seringkali mendewasakan kita.

Secara neurologis memang hal ini lebih baik bagi kesehatan mental kita. Jerome Kagan, seorang ahli psikologi perkembangan dari Harvard University, mengungkapkan dalam buku Emotional Intelligence bahwa ketika bagian otak emosional kita, Amigdala, mudah terpicu emosi negatif maka lobus prefrontal berperan menjadi penjaganya. Lobus prefrontal akan bekerja dengan baik sebagai mesin penyaring apabila bagian otak itu memiliki berbagai pengalaman yang mampu mengenali sinyal-sinyal emosi yang datang dari Amigdala.

Artinya bahwa setiap tantangan yang didapat dari gratifikasi berupa pengalaman gagal maupun berhasil dapat digunakan untuk menambah kamus pengalaman didalam otak kita. Dimana kita ketahui bahwa pada setiap tantangan, kita selalu bertemu dengan berbagai emosi yang tidak hanya emosi positif melainkan juga emosi negatif. Berkat pengalaman atas tantangan itulah yang akhirnya mendorong kerja lobus prefrontal menjadi lebih maksimal.

Tantangan-tantangan inilah yang disebut oleh Martin Seligman sebagai upaya penanaman modal psikologis. Apabila kumpulan interaksi dengan orang lain bisa dijadikan sebagai modal sosial, lalu kumpulan peninggalan yang terwarisi seperti buku dan museum adalah modal kultural, maka kumpulan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan, yang membutuhkan keterlibatan kita (Gratifikasi) adalah modal psikologis. Dimana pengalaman dari tantangan itulah yang nantinya dalam jangka waktu yang panjang bisa kita manfaatkan untuk menambah rasa penghargaan diri bagi diri sendiri.

Untuk itulah kenapa Daniel Goleman seorang ahli psikologi yang meraih gelar Ph.D di Harvard University, mengatakan bahwa inti bahagia bukanlah menjauhi perasaan tak menyenangkan, namun tidak membiarkan perasaan menderita berlangsung tak terkendali sehingga menghapus semua suasana hati yang menyenangkan. Artinya bahwa dalam menjalani kehidupan kita tidak hanya membutuhkan rasa nikmat dan senang, namun juga memerlukan sedikit rasa menderita layaknya khawatir akan kegagalan yang nantinya mampu mengarahkan diri kita untuk selalu berupaya memperbaiki. (Dimas Hudha Mahendra*)

Sumber:

Authentic Happines: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential For Lasting Fulfillment. Karya: Martin E.P. Seligman, Ph.D. Tahun 2002.

Emotional Intelligence, 1995. Daniel Goleman

 

*) Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sering menulis isu-isu psikologi.

Add Comment