ISI Surakarta Angkat Citra Daerah Melalui Film

(Foto: hoteldekatkampus.com)

Surakarta – Dalam rangka mengembangkan potensi kreatif perfilman di daerah, Komisi Film Daerah Banyuwangi (Badan Perfilman Indonesia-BEKRAF) membangun sinergitas antara ISI Surakarta dan Pemerintah Daerah Banyuwangi sebagai benchmark pengembangan program perfilman di daerah dengan perguruan tinggi. Inisiasi tersebut diawali dengan digelarnya kuliah umum bertema “Potensi Daerah di Mata Produser dan Peluang Dalam Pengembangan Produksi Perfilman di Indonesia”, Kamis, (24/10/2019).

Sejak tahun 2017, BEKRAF dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) telah menginisiasi 5 daerah untuk menjadi prototipe Komisi Film Daerah. Komisi ini adalah sebuah badan dalam lingkungan pemerintah daerah yang bertujuan untuk mempromosikan serta menyediakan pusat pelayanan penyelenggaraan kegiatan perfilman di suatu daerah. Dengan adanya komisi ini, diharapkan para pelaku perfilman mendapat kemudahan dalam menyelenggarakan kegiatan perfilman terutama produksi film, pengembangan atau pendidikan perfilman dengan muara sertifikasi insan film. Sebagai keuntungannya, selain berdampak ekonomi, adanya kegiatan perfilman di daerah tersebut juga menjadi promosi budaya yang baik bagi daerah tersebut.

Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam pengembangan SDM Seni dan Budaya, dimana ISI Surakarta telah memiliki Program Studi Film dan Televisi, sementara Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang telah memiliki Komisi Film Daerah yang diinisiasi oleh Badan Perfilman Indonesia. Kerjasama yang telah dijalin dengan berbagai pihak tersebut merupakan modal yang kuat untuk dikembangkan sebagai program yang lebih tersinergi, terfokus dan memiliki target kegiatan yang jelas serta dapat terukur capaiannya. Program ini hadir sebagai inisiasi perancangan program kerja bersama antara berbagai pihak yang diharapkan dapat diimplementasikan di masa mendatang.

Film sebagai Citra Daerah

Film adalah salah satu bentuk media massa yang sangat populer. Format audio visual film membuatnya kerap dipilih sebagai media untuk berbagai tujuan, dari pemberitaan, keindahan, hingga propaganda. Bahkan dengan munculnya media internet-pun, film tidak surut. Karena format film dapat dengan semakin mudah diproduksi, disebarkan, disimpan, dan dikonsumsi berulang-ulang. Karakter film yang mampu menyebarluaskan pesan yang kuat, membuat film dapat menjadi alat publikasi untuk berbagai tujuan, promosi barang dan jasa, memperkuat imej dan karakter, hingga berbagai jenis kampanye (positif, negatif, dan kampanye hitam).

Pemanfaatan publikasi melalui film menurut Dwiana & Juditha (2017) dalam Film Dokumenter, Citra Daerah, dan Dukungan Pemerintah, sedang banyak digandrungi oleh berbagai belahan daerah dan negara. Promosi melalui film tidak dilakoni oleh Indonesia saja. Berbagai negara di dunia membukakan pintu untuk menjadi lokasi syuting film-film asing ber-budget besar. Salah satunya adalah negara Selandia Baru yang menjadi tempat pengambilan gambar film The Lord of The Rings, The Hobbit hingga Vertical Limit. Dampaknya sangat jelas, berbagai lokasi syuting film-film tersebut menjadi terkenal dan menjelma sebagai destinasi wisata favorit dunia

Kekuatan menggerakkan ini aplikatif terhadap beragam aktivitas, termasuk untuk meningkatkan citra daerah. Imej atau citra daerah sama halnya dengan produk pada umumnya dapat tercipta ketika suatu daerah memiliki keunikan yang membedakannya dari daerah lainnya. Merek nasional, negara, atau provinsi adalah citra komprehensif yang mencakup berbagai jenis informasi tentang sebuah wilayah: masyarakat, bisnis, lingkungan alam, pemerintahan, sistem politik, standar ekonomi dan budaya, dan sebagainya (Cho dan Suh dalam Kahle dan Kim, 2006). Dari definisi dapat dilihat bahwa peran film dalam membangun citra daerah, menyangkut berbagai narasi yang disajikan dalam film, mampu berkontribusi terhadap penciptaan citra daerah dalam rangka membangun merek sebuah provinsi atau negara.