Hasan Al Banna, Duta Perdamaian Dunia dari FAI UMS

Sukoharjo – Kabar gembira menyambangi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pasalnya, salah satu alumni Program studi Pendidikan Agama Islam FAI UMS angkatan 2005, berhasil bersaing di kancah internasional dan lolos menjadi 5 terbaik Duta Perdamaian Dunia.

Lelaki itu bernama KH Hasan Al-Banna, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bobos, Cirebon. Agaknya, bukan proses yang singkat bagi Hasan untuk meraih prestasi membanggakan tersebut. Hasan harus mengikuti seleksi berbulan-bulan dan bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai negara. Kemampuan bahasa Inggris dan wawasan keislaman yang dimiliki peserta menjadi modal utama yang diujikan.

Terpilihnya Hasan Al-Banna sebagai Duta Perdamaian Dunia, otomatis menjadikan dirinya sebagai perwakilan negara Indonesia dalam memperkenalkan agama islam yang penuh kedamaian. Selama setahun ke depan, dilansir situs resmi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dirinya akan berkeliling dunia menjadi narasumber di berbagai negara mengenai perdamaian.

Dalam kurun waktu satu bulan ini, Humas UMS menyebut bahwa Hasan Al-Banna dijadwalkan akan melakukan kunjungannya ke Eropa, Turki, London, Wales, hingga Scotlandia. Beberapa forum dialog perdamaian yang akan ia sambangi di antaranya adalah Rountable Dialogue di Parlemen Inggris, Oxford University, Kunjungan Cambridge University, Interfaith Dialogue dengan pemuka-pemuka agama dunia, British Museum, London University, menjadi Khotib Jum’at di komunitas Islam UK. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dengan izin-Nya. Harapannya, capaian Hasan ini dapat menjadi pelecut sekaligus penambah semangat dalam mengejar cita-cita yang telah ditargetkan.

Saatnya Santri Unjuk Gigi 

Menteri Agama RI berkolaborasi dengan Menteri Luar Negeri RI untuk mengusung tema “Santri untuk Perdamaian Dunia” pada peringatan Hari Santri Nasional 2019. Tema berskala internasional tersebut berbeda dengan tema tahun sebelumnya yang cenderung bersifat domestik. Tema kali ini dinilai cukup relevan dengan keadaan terkini dalam mengukur sejauh mana peran dan kontribusi santri dan pendidikan pondok pesantren untuk dunia. Tujuan lain dari diusungnya tema “Santri untuk Perdamaian Dunia” ini juga untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara muslim moderat terbesar di dunia, agar menunjukkan kontribusi nyata untuk perdamaian dunia, sekaligus menghilangkan stigma tentang pendidikan Islam sebagai sumber ajaran ekstremisme dan radikalisme.

Wakil Ketua MPR RI dan Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Jawa Timur, Dr. Hidayat Nur Wahid, MA menyebut bahwa dalam konteks perdamaian dunia, kaum santri dapat menanamkan dan menyebarluaskan nilai-nilai universal Islam yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ada tiga sikap dan nilai dasar yang dapat dipromosikan. Pertama, nilai moderasi Islam (al-washathiyah) sebagaimana ditegaskan dalam kitab suci Al-Qur’an (surat Al-Baqarah: ayat 143), bahwa Umat Islam adalah umat pertengahan yang menjadi saksi atas segala perbuatan manusia di muka bumi. Karakter utama seorang saksi ialah bersifat adil, sehingga muslim menolak segala bentuk ekstremitas dalam kehidupan beragama dan pergaulan sesama manusia.

Kedua, nilai yang patut diperjuangkan untuk perdamaian dunia adalah tasamuh, yakni berjiwa terbuka (open mind) dan berlapang dada dengan segala perbedaan. Ketiga, Al-i`tilaf yang berarti harmoni atau keserasian. Yakni, keselarasan antara keyakinan dan tingkah laku, menghormati, menyayangi apa yang ada, merangkum, dan mensinergikan segala bentuk perbedaan secara ikhlas dan alamiah. Dengan harmoni akan tercipta energi pembangun tatanan kehidupan yang indah dan teratur. Disebut Hidayat, harmoni bukan keterpaksaan, tetapi ada sistem dan aturan yang menjadi kesepakatan bersama, dimana semua komponen bangsa berusaha menjaganya karena menyangkut kepentingan bersama. Karena itu, misi perdamaian kaum santri yang menurut data Kementerian Agama saat ini berjumlah 3.642.738 orang tersebar di 27.218 pesantren, harus dimulai dengan pembersihan hati dan penjernihan pikiran.