Dinamika UMKM di Tengah Riuh Rendah Kompetisi Global

Foto : idcloudhost.com

Seiring pesatnya pertumbuhan pasar global, pelaku usaha semakin mendapat peluang terbuka sekaligus tantangan. Salah satu unit yang mendapat peluang dan tantangan itu adalah, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Di era revolusi industri yang serba digital ini, stakeholder terkait wajib mendorong para pelaku usaha untuk segera beradaptasi agar bisa bertahan dengan persaingan pasar. Seluruh pelaku usaha pun mutlak mengimplementasikan bisnis berbasis digital agar senantiasa dapat bertahan di tengah pasar.

Digitalisasi bisnis menjadi hal yang tak terhindarkan. Persoalannya, digitalisasi memiliki peranan penting untuk bertransaksi dengan pembeli. Keberadaannya saat ini telah memegang peranan penting untuk kemakmuran ekonomi. Melalui penciptaan lapangan kerjadan membuat inovasi baru telah mendorong kesejahteraan masyarakat.

Kontribusi UMKM bukan hanya untuk lapangan kerja, namun juga pemanfaataan sumber daya alam di Indonesia. UMKM mampu memanfaatkan limbah plastik menjadi barang yang bernilai tinggi. Bahkan eceng gondok yang notabenenya adalah tanaman pengganggu di perairan bisa menjadi bahan baku untuk UMKM. Eceng gondok bisa dibuat menjadi tas dari bahan alami yang menarik. Serta pemasarannya pun hingga ke mancanegara, mulai dari Jepang hingga Amerika Serikat.

Seiring berkembangnnya dunia fashion dan industri pakaian modern, batik yang notabenenya sebagai warisan budaya Indonesia saat ini telah dikolaborasikan dengan fashion modern. Sehingga, sekarang banyak diminati konsumen dalam negeri hingga keluar negeri. Bahkan salah satu desainer Indonesia, Nusjirwan Tirtaamidjaja (Iwan Tirta) karya-karya batiknya disukai dan dipakai oleh beberapa Kepala Negara seperti Ratu Elizabeth II, Ratu Sophie dari Spanyol, Ratu Juliana dari Belanda bahkan Bill Clinton. Dengan adanya ini UMKM yang berada di bidang fashion memiliki peluang, terutama untuk para pengrajin batik di Indonesia baik dari batik tulis, songket maupun cap.

Dari bidang kuliner juga tidak mau kalah dengan fashion, sebagai buktinya adalah Jenang Kudus. Meski hanya makanan tradisional namun UMKM mampu mengembangkan sayapnya ke pasar global, meski di negeri sendiri jenang dipandang seblah mata. Kerajinan tembaga dan kuningan pun tak kalah saing, jangkauan pemasaran kerajinan tembaga mencapai tingkat internasional. Pemasarannya pun hingga keluar nengeri. Namun, pasar global juga menjadi momok yang menakutkan bagi para pelaku usaha di Indonesia.

Penyebabnya adalah lemahnya daya saing industri lokal yang juga dikhawatirkan akan menggerus potensi UMKM. Pelaku UMKM seharusnya mampu bertahan di negeri sendiri, serta bersaing di pasar global.

Pengembangan serta pemberdayaan UMKM adalah langkah yang strategis, apalagi kenyataannya UMKM memiliki peranan besar dalam menambah lapangan pekerjaan. Peningkatan kualitas produksi dengan adanya kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan usaha mutlak dilakukan. Disini peran pemerintah juga sangat diharapkan oleh UMKM. Keberadaan UMKM harus dilingdungi dan diberdayakan pemerintah.

Dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, didefinisikan bahwa pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan 8 Usaha terhadap UMKM sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.

Sehubungan dengan itu, pemerintah perlu mempermudah pembuatan sertifikat halal Majelis Ulama Indonesia (MUI), hak cipta, Standar Nasional Indonesia (SNI) dan lainnya. Usaha tersebut tak lain memudahkan mereka untuk menembus pasar global. Karena jika ingin menembus pasar global, persyaratan bukan hanya produk yang berkualitas namun juga mempunyai perizinan tersebut. Di pertengahan tahun 2016 jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai 57,9 juta. Jumlah tersebut sangat berpotensail untuk Go Internasional. Salah satu caranya ialah dengan mengajarkan kepada mereka menggunakan internet yang menjadi salah satu cara mempermudah dan memperluas pemasaran.

Kini pemasaran produk dibilang cukup mudah dengan bantuan teknologi internet. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat situs website atau menggunakan market place online yang dapat diakses oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Dimana dengan cari dapat memperkenalkan brand ke kancah internasional. Kiranya peran mahasiswa juga diperlukan dalam kemajuan UMKM. Baik dari segi pemasaran, inovasi produk maupun ketenagakerjaan.

Mahasiswa dapat membuka usaha dengan inovasi baru, adanya itu akan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Indonesia. Karena banyaknya lulusan perguruan tinggi dengan jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini sangat tidak seimbang sehingga menimbulkan banyak pengangguran. Selain membuka usaha baru, mahasiswa dapat mengambil peran dalam pemasaran produk.

Dengan kemajuan teknologi di pasar global saat ini, mahasiswa dapat mencari penghasilan tanpa harus mengganggu kuliah. Menjadi reseller atau dropshipper untuk memasarkan produk UMKM melalui smartphone dengan menggunakan media sosial. Jika reseller menjual kembali dengan memiliki produknya, dropsipper hanya menjual informasi dari produk tersebut. Jadi dapat dikatakan pula bahwa dengan menjadi seorang dropsipper, mahasiswa dapat menjadi pelaku bisnis yang tidak perlu mengeluarkan modal untuk menjual produk supplier.

Peran mahasiswa tersebut tidak akan merugikan UMKM. Justru pihak UMKM akan sangat terbantu dengan adanya pemasaran yang dapat memperluas pangsa pasar. Diharapkan dengan adanya kolaborasi dari pemerintah, mahasiswa serta pelaku UMKM sendiri nantinya dapat memajukan dunia bisnis sehingga mampu menghadapi persaingan pasar global. Banyaknya UMKM dinilai masih belum cukup untuk menghadapi pasar global. Di samping itu perlu adanya dukungan infrastruktur yang memadai serta akses internet yang luas sampai ke pelosok desa bukan hanya di kota saja.

Belum maksimalnya penerapan teknologi dalam proses produksi menyebabkan kebanyakan masyarakat hanya mengandalkan pengalaman dan kebiasaan tanpa adanya penguasaan konsep dalam bidang teknologi. Berbagai pelaku usaha belum memiliki kepercayaan diri atas produk mereka. Kepercayaan diri tersebut merupakan salah satu modal penting bagi pelaku usaha untuk menghadapi pasar global. Mereka sering menganggap risiko yang akan ditanggung cukup besar. Melihat hal ini, pemerintah kedepannya bisa memberikan motivasi atau dorongan yang lebih besar kepada pelaku UMKM. Maka, melalui UMKM, mari kita bersama-sama melangkah guna masa depan Indonesia yang lebih cerah menghadapi persaingan global di kancah internasional. (Fia Atmaya)*

Foto : idcloudhost.com