Di Balik Merebaknya Warung Kopi

Coffee shop atau bisa dibilang juga sebagai warung kopi rasanya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban masa kini. Yang cukup menarik untuk dibahas adalah bagaimana perkembangan jumlah yang pesat dari keberadaan coffee shop ini di Indonesia.

Saya menghabiskan lima tahun terakhir menempuh pendidikan di Yogyakarta, kota yang bisa dibilang memiliki pertumbuhan jumlah coffee shop yang sangat pesat. Di sana, beragam coffee shop dari yang proletar dengan harga secangkir kopinya di bawah sepuluh ribu rupiah, sampai dengan borjuis yang harganya empat puluh ribu untuk satu cangkir kopi pun ada.

Namun, dari banyaknya coffee shop yang eksis, ternyata tidak semuanya bisa bertahan lama, bahkan sering kali terdapat coffee shop yang sudah menutup pintu dan mematikan mesin espressonya hanya dalam hitungan seumur jagung, bahkan kurang.

Hal tersebut memunculkan sebuah pertanyaan, kenapa ada coffee shop yang bisa bertahan di tengah bejibunnya jumlah coffee shop yang terus muncul dari tahun ke tahun? Sebaliknya, kenapa ada banyak coffee shop yang gulung tikar dalam waktu singkat? Penulis akan mencoba mengurai persoalan tersebut.

Belakangan, tidak bisa dipungkiri, banyak coffee shop yang bisa dibilang sukses dikarenakan tempatnya yang instagramable, yang bisa dipamerkan di timeline Instagram para pengunjungnya. Masalah rasa? Oh, itu urusan belakangan.

Namun, apakah kita bisa menyalahkan si pemiliki coffee shop tersebut? Tentu saja tidak. Dia memiliki kapital atau modal yang lebih untuk diinvestasikan di tempat dirinya memulai bisnis coffee shop ini. Si pemilik hanya memenuhi permintaan pasar.

Namun, di luar sana banyak juga para pemilik coffee shop yang memulai bisnisnya tidak dengan kapital yang besar. Meski dimulai dengan modal yang bisa dibilang kecil, tetapi mereka bisa berhasil dan eksis untuk periode waktu yang relatif panjang.

Apa yang membuat mereka bisa berhasil? Menurut saya, hal itu disebabkan coffee shop yang dimilikinya memiliki konsep dan cerita yang menarik, sehingga membuat orang penasaran.

Apa yang dimaksud dengan konsep dan cerita di balik suksesnya coffee shop? Yang dimaksudkan di sini adalah apa yang membuat suatu coffee shop berbeda dari yang lain. Karena tidak bisa dipungkiri banyaknya jumlah coffee shop dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki novelty atau keaslian dan ciri khas yang mendasar dan kuat yang menghasilkan karakter dari suatu coffee shop tersebut.

Karakter ini bisa dibangun dengan tampilan coffee shop itu sendiri, menu yang tersedia, dan cerita di balik berdirinya coffee shop tersebut. Hal ini akan membuat para pengunjung tertarik untuk menyebarkan cerita mengenai coffee shop yang barusan mereka kunjungi.

Menurut saya, salah satu coffee shop dengan konsep yang kuat adalah “Klinik Kopi” yang berada di Kota Yogyakarta. Sesuai namanya, “Klinik Kopi” melayani pengunjungnya seperti sedang memberikan rekomendasi terhadap pasien di klinik kesehatan.

Setiap pengunjungnya diberi waktu privat dengan si barista yang akan menanyakan apakah kita biasa minum kopi, jenis kopi seperti apa yang biasanya kita minum, dan lalu dirinya akan memberi rekomendasi kopi terbaik untuk pengunjung. Coffee shop dengan konsep seperti ini belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Inilah yang membuat “Klinik Kopi” unik dan memiliki karakter.

Meski prosesnya tidaklah instan dan memakan waktu yang panjang, coffee shop dengan karakter yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk tetap eksis dan bertahan di tengah persaingan bisnis coffee shop yang sedang marak di masa kini. (Bagus Maulana)*

*Alumnus Sastra Jepang UGM. Selama beberapa tahun pernah menjadi barista di Yogyakarta. Sekarang tengah menjalani persiapan mengelola kedai minum di Solo.