Bupati Sragen: Cegah Nikah Dini, Cegah Stunting

Peringatan Hari Ibu ke-91 di Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Senin (18/11/2019). (Foto: Pemkab Sragen)

Sragen – Peringati Hari Ibu ke-91, Pemkab Sragen mengadakan acara bakti sosial di Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Senin (18/11/2019). Bakti sosial diisi dengan penyerahan sebanyak 215 paket sembako kepada warga kurang mampu. Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati, ketua Dharma Wanita, jajaran istri Forkopimda Sragen, dan Muspika Kecamatan Jenar.

Dalam sambutannya Bupati Yuni mengajak kaum perempuan mempunyai andil dalam mewujudkan pembangunan, sehingga nantinya tercipta suasana guyub rukun di dalam keluarga khususnya, dan Kabupaten Sragen pada umumnya. Menurutnya, hal ini dapat mewujudkan pembanguan yang adil dan setara.

Selain itu, Bupati ingin masyarakat khususnya para Ibu dan remaja perempuan ikut berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Sragen salah satunya dengan mencegah pernikahan dini. Nikah muda berpengaruh terhadap kemungkinan terdapatnya gangguan stunting. Bupati berpendapat bahwa terdapat keterkaitan antara penggunaan gadget dengan hasrat menikah muda. “Dari situlah sebenarnya awal penyebab nikah usia muda, sering chatan lawan jenis akhirnya mereka saling suka, pacaran terus minta nikah,” tutur Bupati, dikutip dari situs resmi Pemkab Sragen.

Bupati Yuni menambahkan batas minimal usia menikah adalah 19 tahun. Sementara alasan tidak boleh menikah di bawah 19 tahun, selain pemikiran belum dewasa, juga faktor keuangan dan belum siapnya kondisi rahim perempuan yang usianya masih di bawah umur. “Semua yang punya anak putri maupun laki-laki di rumah dinasehati dan selesaikan sekolahnya dulu,” pungkasnya.

Nikah Dini Faktor Tingginya Stunting

Pencegahan pernikahan dini masih menjadi salah satu program prioritas di Kabupaten Sragen. Data Pengadilan Agama (PA) Sragen menghimpun bahwa selama 2017 terdapat 72 kasus pernikahan dini, sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 95 kasus. Hingga akhir Maret 2019, tercatat setidaknya ada 12 kasus. Forum Dialog Pencegah Pernikahan Dini dalam rangka Intervensi Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting, Jumat (11/10/2019), diadakan demi mensosialisasikan permasalahan ini. Di kesempatan tersebut, Bupati Yuni mengatakan pelaku pernikahan usia dini mayoritas disebabkan karena hamil sebelum nikah, dan ada gradasi moral remaja yang perlu mendapat perhatian semua pihak.

Pernikahan dini yang terjadi juga digadang-gadang sebagai salah satu penyebab tingginya angka stunting di Kabupaten Sragen. Angka stunting di Kabupaten Sragen mencapai 39.20 %, di tingkat Provinsi Jawa Tengah 33,04 % dan 30,08 % di tingkat nasional. Artinya, hal ini menandakan angka stunting Kabupaten Sragen masih tinggi di atas provinsi maupun nasional. “Kita perlu bersinergi bersama untuk menurunkan angka stunting,” ujar Yuni.

Angka stunting yang masih tinggi berbanding terbalik dengan Open Defecation Free (ODF) di Sragen yang telah mendapat STBM dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Menindaklanjuti terkait pernikahan dini, pemkab telah melakukan sosialisasi terhadap siswa-siswi SMA sederajat yang sudah memasuki masa remaja agar tidak ada lagi yang menikah dini. Pernikahan dini dianggap sebagai faktor penyebab stunting karena belum cukup stabilnya ilmu, emosi dan finansial dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Targetnya, pemberian awareness dan pengetahuan bagi anak khususnya anak perempuan tentang dampak menikah dini adalah menciptakan kesadaran dan mendorong pemahaman terkait pentingnya pencegahan pernikahan dini sebagai upaya pencegahan stunting.