Bermain dan Membaca di Taman Baca Keprabon

Para pengurus dan anak-anak di Taman Baca Keprabon.

Banjarsari – Kebutuhan memiliki ruang bermain, dirasa sangat penting untuk anak-anak zaman sekarang. Di kala teknologi mendominasi aspek hidup orang banyak dan juga mempersempit mobilitas sosial, ruang bermain yang membuat semua anak dapat berkumpul, berinteraksi, dan mendapatkan dunianya, menjadi sangat penting.

Di wilayah Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, berangkat dari kesadaran mengenai kebutuhan ruang bermain itu, mahasiswa Fakultas Psikologi UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Anang Kusuma, mendirikan Taman Baca Keprabon. Taman baca ini awalnya didirikan, karena selama ini ia merasa gelisah melihat dunia anak-anak bertambah sempit akibat digerus perkembangan teknologi informasi yang menyibukkan diri mereka sendiri.

Di Taman Baca Keprabon, Anang lebih sering mengenalkan permainan tradisional yang melibatkan lebih banyak anak-anak. Persoalannya permainan tradisional tidak seperti gawai yang hanya membutuhkan satu orang dan cenderung menguatkan egoisme anak.

“Kayak gini ini, yang malah penting buat meningkatkan afektif mereka. Masa pertumbuhan mereka jangan dirusak dengan konten-konten negatif yang ada di gawai. Kontrol terbaik penggunaan gawai itu ya dengan bermain di ruang publik,” ujarnya.

Belakangan, kita sering disuguhkan pemandangan di mana anak-anak lebih tertarik dengan fitur permainan yang ada di gawai ketimbang bermain bersama teman-temannya. Permainan daring (dalam jaringan), menjadi lebih menarik daripada permainan kolektif di ruang bermain. Padahal menurut Anang, ruang bermain anak-anak bisa diperoleh di mana saja, asal tidak mengganggu ketertiban warga sekitar.

Literasi Anak dan Ruang Bermain

Pemanfaatan ruang bermain di lingkungan masyarakat ini yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah warga agar lebih peka dan memahami dunia anak-anak. Bagaimanapun, di kemudian hari, anak-anak akan berkembang dan menemui dunianya sendiri. Mendorong anak-anak untuk sering keluar rumah, bagi Anang, akan mendekatkan mereka dengan lingkungan sekitarnya.

“Selain bermain, literasi juga dibutuhkan. Literasi anak-anak menurut saya juga harus sesuai dengan masanya. Buku bacaan mesti diperhatikan sesuai porsinya. Kan nggak mungkin diberi bacaan yang berat-berat. Kadang saja, mereka mengeluhkan pekerjaan rumah mereka. Makanya, buku yang bisa dibaca mereka itu, buku yang menceritakan banyak hal. Dan itu bisa menambah imajinasi, dan rasa ingin tahu anak-anak,” ujar Anang.

Literasi untuk anak-anak sendiri, menurut Anang, memang seharusnya satu paket bersama ruang bermain. Oleh karenanya akan ada pemantik aktivitas yang bermanfaat bagi lingkungan mereka. Keterlibatan juga tidak bisa dilakukan oleh anak-anak sendiri. Dari warga dan juga elemen masyarat yang lain, seperti mahasiswa misalnya, mesti memanfaatkan waktu yang ada untuk mendidik anak-anak lewat medium yang lebih dekat dengan realitas sosial.

Di Taman Baca Keprabon, warga, mahasiswa, dan anak-anak berkumpul jadi satu. Warga tertarik dengan aktivitas yang digerakkan oleh mahasiswa di lingkungan mereka, sehingga terjadi interaksi sosial yang diharapkan untuk membentuk iklim bermain yang menyenangkan bagi anak-anak. Hal seperti ini yang terkadang diabaikan oleh orang banyak. Kesediaan membentuk ruang bermain, membutuhkan partisipasi yang beragam, agar ruang bermain anak-anak lebih berwarna dan kaya akan cerita.