Bangkit dari Disabilitas Mental, Hana Madness: Seni Jadi Hidupku

Diskusi Seni untuk Disabilitas di Teater Kecil, kampus Institut Seni Indonesia Surakarta, Senin (11/11/2019). (Foto: Humas ISI Surakarta)

Jebres – Institut Seni Surakarta menyelenggarakan diskusi seni untuk disabilitas di Teater Kecil, kampus Institut Seni Indonesia Surakarta, Senin (11/11/2019). Diskusi yang dipandu oleh dosen Seni Murni ISI Surakarta Albertus Rusputranto Ponco Anggoro, ini merupakan bagian dari ajang Festival Bebas Batas 2019 yang turut menampilkan pameran seni dan lokakarya bagi para disabilitas.

Dalam acara tersebut, dihadirkan beberapa narasumber berkompeten seperti Direktur Utama Rumah Sakit Dr. H. dr. Bambang Eko Sunaryanto, Sp.KJ, MARS, yang mengupas tema utama, Seni untuk Disabilitas, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa Indonesia, Marzoeki Mahdi, dengan bahasan topik terkait Seni dan Kesehatan jiwa, serta seniman Hana Alfikih atau lebih dikenal sebagai Hana Madness yang merupakan seniman doodle dan survivor bipolar, kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis.

Hana yang merupakan penyintas disabilitas mental bercerita banyak mengenai pengalaman pribadinya untuk bangkit dari disabilitas mental melalui seni. “Menggunakan seni untuk menjaga kewarasan, dulunya aku selalu melawan, menolak sama keadaan, dan selalu menyalahkan orang lain,” aku Hana, sebagaimana dalam website resmi Institut Seni Indonesia Surakarta. Lebih lanjut, saat ini ia tidak lagi merasakan hal tersebut serta menerima kondisinya yang menderita depresi dan halusinasi.

“Aku punya gangguan disabilitas mental. Aku merasa butuh sesuatu untuk dijadikan senjata. Menunjukkan kalau ada eksistensi diriku,” ujarnya, yang lantas menerangkan bahwa seni adalah hidup dan salah satu ‘senjata’ yang ia cari. Di akhir, Hana menegaskan tak ada yang salah pada orang dengan disabilitas mental, yang salah adalah orang-orang yang menancapkan stigma pada mereka. Hana justru menganggap kondisi disabilitas mentalnya sebagai identitas diri. “Persepsi masyarakat harus digeser bahwa disabilitas mental bukan sebagai cacat atau kekurangan. Pemberitaan di media tentang orang dengan gangguan jiwa selama ini juga selalu menakutkan,” pungkasnya.

Terapi Seni, Media Penyembuhan ODGJ

Art therapy adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni, material seni, dengan pembuatan karya seni untuk berkomunikasi. Media seni dapat berupa pensil, kapur warna, cat, potongan kertas, dan tanah liat. Kegiatan art therapy mencakup berbagai kegiatan seni seperti menggambar, melukis, memahat, menari, gerakan kreatif, drama, puisi, fotografi, melihat dan menilai karya seni orang lain (Adriani & Satiadarma, 2011). Vick (2016) mendefinisikan bahwa art therapy adalah perpaduan dua disiplin keilmuan yaitu kesenian dan psikologi yang menghasilkan suatu teknik yang menarik. Menurut The American Art Therapy Association (2016), art therapy adalah sebuah proses penyembuhan yang dilakukan dengan membuat sebuah karya seni yang kreatif. Proses penyembuhan ini berguna dalam meningkatkan kualitas kehidupan.

Art therapy menjadi sangat membantu dalam mengatasi gangguan emosi, menyelesaikan konflik, menambah wawasan, mengurangi perilaku bermasalah, serta meningkatkan kebahagiaan hidup. Dalam hal yang sama, seni visual lantas juga dikabarkan dapat digunakan sebagai salah satu teknik dalam membantu individu bermasalah dengan cara menyediakan ruang untuk eksplorasi kreatif di mana individu mengekspresikan perasaan terpendam yang dimilikinya.

Theresia Agustina Sitompul, dosen seni murni ISI Surakarta yang juga banyak bergerak melalui seni rupa khususnya untuk melakukan program art therapy bersama Dinas Kebudayaan DIY, berbagi pengalamannya selama empat tahun aktif di mobile art therapy. Kegiatan ini menggunakan seni sebagai media terapi bagi penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus. Layanan tersebut dilakukan secara jemput bola ke dua SLB tiap tahun dan melatih guru di 20 sekolah per tahun.

There menekankan terapi seni ini amat berbeda dengan kelas seni. “Terapi seni itu tidak menuntut karya harus bagus, tapi membebaskan dan memerdekakan kreativitas,” katanya. Terapi seni dapat diterapkan melalui berbagai metode seni rupa. Mediumnya pun tak harus mahal, melainkan bisa lewat daur ulang seperti kemasan bekas tempat minum atau talenan. “Seni itu mujarab sekali. Energinya bisa untuk kreativitas,” terangnya.