Antara Kesadaran Ideologis dan Kesadaran Teknologis

Kita sungguh-sungguh khawatir bahwa kemajuan teknologi akan menyebabkan timbulnya kesadaran teknokratis. Kesadaran teknokratis itu akan menyusutkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, semuanya hanya dipandang dari sudut teknis, manusia hanya akan menjadi satu dimensi, one dimensional man.

[Kuntowijoyo, Juru Selamat itu Bernama Teknologi, dalam buku Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, halaman 51]

Tema Revolusi Industri 4.0 sudah menjamur di mana-mana. Hal tersebut sudah diramalkan oleh Kuntowijoyo dalam banyak esainya. Tentunya yang tidak akan pernah ketinggalan adalah dampak teknologi terhadap masyarakat dan kebudayaan yang dimilikinya, sehingga menghasilkan berbagai gagasan berupa industrialisasi, masyarakat industrial sebagai kelanjutan dari masyarakat agraris, masyarakat abstrak, dan berbagai pokok bahasan lain seputar teknologi.

Dalam sejarahnya, masyarakat Indonesia pernah melewati masa agraris dan masa industrial awal, dan kini tengah menjalani masa industrial lanjut. Masa-masa industrial tampak sangat kentara memasuki era Orde Baru dengan Ekonomi sebagai Panglima, menggantikan politik sebagai panglima yang begitu gagah kala Orde Lama berkuasa. Pada era Orde Baru ini, pembangunan begitu masif dijalankan hingga penghujung masa kekuasaan yang ditandai dengan pidato pengunduran diri Presiden Soeharto.

Ekonomi yang pada era Orde Baru menjadi panglima menghasilkan beberapa kebijakan pembangunan yang terkenal bahkan hingga kini, sebut saja, Repelita (Rencana Pembanguna Lima Tahun). Karena itulah, tak pelak Presiden Soeharto dijuluki sebagai Bapak Pembangunan. Karena pembangunan ini menjadi garapan besar rezim Orde Baru, maka keberadaan teknokrat (para ahli teknologi) amat sangat dibutuhkan, sebagai “tiang penyangga” kelangsungan hidup rezim ini.

Tercatat ada beberapa nama tenar pada zamannya yang merepresentasikan bidang keahliannya, sebut saja Soemitro Djojohadikusumo di bidang ekonomi dan tentunya teknokrat yang paling fenomenal sekaligus presiden RI ketiga, B.J. Habibie di bidang teknologi kedirgantaraan. Keberadaan teknokrat sebagai ujung tombak pembangunan, membuat Presiden Soeharto banyak merekrut banyak teknokrat hingga muncul istilah Mafia Berkeley. Nampaknya hal ini kembali terulang pada era Presiden Jokowi. Penempatan teknokrat yang direkrut kemudian ditempatkan pada beberapa posisi penting, baik di posisi puncak kementerian maupun sebagai staf ahli.

Dari sudut pandang pembangunan, keberadaan para teknokrat ini tentunya akan memberikan sumbangsih yang besar bagi pertumbuhan ekonomi, terkhusus dalam perkembangan teknologi. Kini berbagai industri kreatif, perusahaan start up, pengembangan kewirausahaan amat bergantung pada penggunaan teknologi, secara langsung maupun tidak langsung. Terutama teknologi komunikasi dan informasi, telah memunculkan beberapa ciri yang kini sangat tampak terlihat, salah satunya adalah terbentuknya masyarakat abstrak, yaitu masyarakat yang lebih sering dihubungkan oleh teknologi dan disatukan oleh sistem yang terorganisir.

Penggunaan teknologi yang kini menjadi suatu budaya baru di kalangan masyarakat Indonesia yang oleh Kuntowijoyo sudah mulai memasuki masa industrial awal, membuat cara pandang baru bagi masyarakat kita. Ada budaya pragmatis yang muncul, tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tapi juga di kalangan teknokrat. Penggalan kegelisahan Kuntowijoyo yang penulis tempatkan di awal, membuat kita tersadar bahwa teknologi yang kini sudah mengakar dalam keseharian hidup kita telah membentuk suatu bentuk kesadaran tersendiri, yaitu kesadaran teknokratis.

Kesadaran teknokratis kita dimulai dari rutinitas yang kita lakukan sehari-hari. Kesadaran teknokratis ini membuat kita mengesampingkan permasalahan-permasalahan yang berada di luar rutinitas bidang keahlian. Kuntowijoyo menyebutkan bahwa penerapan lima hari kerja menjadikan orang berpikir seolah-olah itu hanya masalah teknis, hingga kita melupakan bahwa persoalan itu menyangkut masalah-masalah sosial, kebudayaan, dan agama. Suatu penyusutan nilai kemanusiaan secara besar-besaran. Kepekaan terhadap masalah kesenjangan, korupsi, kolusi, demokratisasi, dan HAM dapat hilang dengan hadirnya kesadaran teknokratis[1].

Kesadaran itu sudah mulai mengakar dalam keseharian kita, disadari atau tidak. Masyarakat modern tak ubahnya adalah masyarakat teknologis (technological society), yaitu masyarakat yang di dalamnya terdapat dominasi teknik, baik yang berupa material seperti mesin, maupun yang berupa gejala non-material seperti organisasi yang di dalamnya terdapat banyak sekali rutinitas keseharian yang dilakukan (rutinitas organisasi). Tidak dapat kita pungkiri bahwa kesadaran teknologis yang kini ada pada setiap diri kita merupakan akibat dari keseharian kita yang tidak bisa lepas dari penggunaan teknologi.

Era abad 21 yang ditandai dengan teknologi yang dengan mudah kita genggam, terutama teknologi komunikasi dan informasi. Ditambah lagi dengan layanan jaringan internet yang dengan mudahnya kita dapatkan, penggunaan berbagai layanan dunia maya semakin memperjelas kondisi masyarakat kini yang abstrak, masyarakat yang dihubungkan dengan teknologi dan disatukan oleh sistem. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa kesadaran teknologis yang sudah sangat mengakar akan menjadikan kita manusia robot yang terjebak dalam rutinitas keseharian kita, tanpa mau dan mampu menumbuhkan kesadaran kita terhadap berbagai permasalahan sosial di sekitar, yang kerap kali di luar lingkup rutinitas aktivitas keseharian kita.

Ilustrasi yang jenius digambarkan dalam film bisu klasik yang dibintangi oleh Charlie Chaplin berjudul Modern Times (Tempos Modernos) yang tayang perdana pada 1936. Film tersebut menggambarkan kehidupan buruh pabrik mesin yang setiap hari melaksanakan rutinitas pekerjaan yang sama alias monoton. Para buruh pabrik tak ada bedanya dengan mesin yang setiap hari diperiksa dan diproduksi oleh para buruh pabrik. Bahkan sebentar saja pekerjaan seorang buruh diganggu, maka nyaris seluruh aktivitas mesin produksi akan terganggu dan mengakibatkan kerugian material bagi pemilik modal, tentunya.

Malangnya, sistem pendidikan negeri ini justru melanggengkan pola-pola aktivitas robot (mesin/mekanis), salah satunya lewat adanya reward and punishment. Seterusnya peserta didik hanya akan melaksanakan berbagai aktivitas belajar-mengajar (teramat sering di dalam kelas) hanya demi mendapat reward dan menghindari punishment, jika tidak sejak dini ditanamkan kesadaran ideologis. Bahwa segala yang dilakukan harus memiliki dasar yang jelas, yaitu dasar ideologi. Sebagai bangsa Indonesia, maka pendidikan mengenai ideologi Pancasila sebagai kesadaran harus mulai dilakukan sedari dini. Pendidikan yang tidak hanya sekedar pencekokan semata, tapi pendidikan yang menjadikan ideologi sebagai suatu bentuk dialektika, sebagaimana dua di antara lima ciri Radikalisasi Pancasila yang digagas Kuntowijoyo, yaitu mengembalikan Pancasila sebagai ideologi negara dan mengganti persepsi Pancasila sebagai ideologi menjadi Pancasila sebagai ilmu[2]. (Muhammad Afriansyah*)

Kita sungguh-sungguh khawatir bahwa kekaguman pada teknologi akan mengakibatkan kita gagal mengintegrasikan teknologi ke dalam ideologi sehingga teknologi yang nantinya mestinya menjadi rahmat itu akan berubah menjadi laknat. Kesadaran teknokratis harus digantikan dengan kesadaran ideologis dan masyarakat teknologis digantikan oleh masyarakat Pancasila.

[Kuntowijoyo, Juru Selamat yang Bernama Teknologi, dalam buku Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, halaman 54]

[1] Kuntowijoyo, Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, dalam esai Jurus Selamat yang Bernama Teknologi, halaman 51-52.

[2] Kuntowijoyo, Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, dalam esai Radikalisasi Pancasila, halaman 222.

 

*) Anggota Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2019/2020. Tim Research and Development Djazman Research Institute

Add Comment