300 Penyandang Disabilitas Ikuti Karnaval Peringatan Hari Difabel Dinsos Surakarta

Foto: Riki Efendi

Surakarta – Berkolaborasi dengan beberapa komunitas, Tim Advokasi Difabel (TAD) Dinas Sosial Pemerintah Kota Surakarta menginisiasi karnaval peringatan Hari Difabel Internasional (HDI) 2019 di halaman Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Surakarta, Minggu (24/11/2019). Diikuti lebih dari 300 peserta disabilitas seluruh kota Solo, pawai karnaval disabilitas dimulai dari barisan drumband Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) dan berakhir di Loji Gandrung atau Rumah Dinas Walikota Solo dengan diterima oleh Walikota Solo FX. Hadi Rudyatmo. Sebelumnya, Tim Advokasi Difabel (TAD) Dinas Sosial Surakarta juga telah menggelar acara seminar peringatan Hari Difabel Internasional, Selasa, (19/11/2019).

Hari Disabilitas Internasional (International Day of Persons with Disabilities) atau peringatan yang juga dikenal dengan Hari Penyandang Cacat Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Peringatan Internasional yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1992 ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang cacat dan memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak, dan kesejahteraan para penyandang cacat.

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Solo Raya sebagai perwakilan dari komunitas difabel mental, turut menghadiri malam selebrasi Hari Difabel Internasional 2019 dan kegiatan karnaval. Mengangkat tema “SDM Difabel Unggul, Indonesia Inklusi”, peringatan Hari Difabel Internasional 2019 tersebut sebagaimana dilansir akun resmi Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Solo Raya bertujuan untuk mengimbau seluruh komponen masyarakat agar turut mengembangkan kehidupan yang inklusif dan ramah difabel.

Menanti Indonesia Inklusif

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementrian Sosial, Margowiyono, mengatakan populasi penyandang disabilitas berat dan sedang di Indonesia berjumlah sekitar 30 juta orang. Adapun dari Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Margowiyono mengatakan angkanya mencapai 21 juta orang.

Sementara itu populasi penyandang disabilitas sampai saat ini ada di presentase 10%-12% dari jumlah penduduk. “Mungkin yang jadi sasaran khusus kita itu tidak semuanya. Ini populasi baik dari Susenas 2018 maupun dari Supas, memang ada perbedaan tapi itu bagian dari kita punya data. Itu ada jumlah disabilitas berat dan sedang 30 juta orang total dari 264 juta, yang Supas itu ada 21 juta orang, jadi hampir 10% kalau kita hitung jumlahnya,” ujar Margowiyono. Terkumpulnya data dapat dijadikan acuan awal untuk pemenuhan hak penyandang disabilitas yang masih kurang.

Terkait peringatan Hari Difabel Internasional 2019, pengusungan tema Difabel Unggul, Indonesia Inklusi yang diangkat juga telah dipikirkan secara matang. Sebagaimana jargon no one life behind, Indonesia seakan harus tidak meninggalkan satupun lapisan dalam proses pembangunan. Artinya, pemerintah Indonesia harus menyetarakan semua pihak dan semua golongan, termasuk penyandang disabilitas yang selama ini mungkin masih tertinggal.

Add Comment